Skip to content

Adil Sejak dalam Doa

September 7, 2016

Sebelum lomba lari anak-anak dimulai, gadis kecil itu menundukkan wajahnya. Mulutnya berkomat-kamit memanjatkan doa.

Begitu lomba dimulai, gadis kecil itu langsung menerjang. Ayunan kakinya begitu ringan. Tubuhnya meluncur seperti anak kijang.

Akhirnya, meski dengan tubuh basah kuyup dibanjiri keringat, gadis kecil itupun menjadi anak pertama yang muncul di garis finis.

Seorang guru sekaligus juri kemudian mendekatinya. “Hebat, Nak!” berkata Si Guru. “Sebelum lomba saya lihat kamu berdoa, ya?”

Gadis itu mengangguk. Bulir-bulir keringat masih terus mengalir dari dahinya. “Kamu meminta Tuhan menolongmu agar bisa menang, ya?”

Tiba-tiba gadis itu menggeleng. “Kalau saya minta Tuhan agar Dia memenangkan saya, itu sama saja saya meminta agar peserta lain dikalahkan. Itu tidak adil,” katanya.

“Kenapa begitu?” Si Guru sedikit bingung. Dahinya yang mulai keriput semakin berkerut.

“Karena seperti saya, mereka pun sudah berusaha keras untuk menang. Jadi biar usaha kami yang menentukan, bukan bantuan Tuhan.”

Si Guru terhenyak. Namun sesaat kemudian ia kembali bertanya, “Kalau begitu, apa yang kamu minta pada Tuhan dalam doamu tadi?”

“Saya meminta kepada Tuhan agar Dia memberi kekuatan supaya saya tidak menangis saat kalah..”
_DW_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: