Skip to content

Cara Shalat Khusyuk, Tidak Ada Caranya!

June 24, 2016
Set of cute arrows

Set of cute bright arrows

Sebatang anak panah ambles di kaki Imam Ali saat perang Shiffin berlangsung. Sang Imam pun langsung dibawa ke tenda. Di sana seorang sahabat memberi tahu jika mata panah melesak hingga menyentuh tulang kaki.

“Akan sangat sakit jika anak panah itu dicabut,” kata seorang sahabat. Namun tak mungkin membiarkan anak panah itu terus bergelayut di kaki Sang Imam. “Kalau begitu,” kata Kanjeng Nabi, “Cabutlah ketika Ali sedang salat.”

Di antara para sahabat, Imam Ali konon yang paling khusyuk salatnya. Saat ia takbir, hijab seolah terbuka, menyibak  Keagungan dan Keindahan yang melumpuhkan semua indra.

Dalam kondisi seperti itulah seorang sahabat mencabut anak panah dari kaki Ali. Tak terdengar erangan atau jerit kesakitan. Tubuh Sang Imam tetap bergeming dalam hening.

Selesai salat, Ali terkejut melihat darah berceceran di kakinya. “Darah siapa ini?” katanya. Sahabat menerangkan apa yang baru saja terjadi. “Demi Allah,” jawab Ali. “Saya sungguh tidak tahu.”

Kisah ini banyak sekali dijadikan ilustrasi dalam pelajaran salat, terutama dalam mencapai khusyuan. Saya tidak tahu apakah khusyu ini benar-benar bisa dipelajari. Sebab saya pernah membeli buku-buku tips agar shalat bisa khusyuk.

Isinya berupa panduan secara step by step. Untuk bisa khusyuk, begitu kira-kira, kita harus memahami setiap bacaan, menghayati setiap gerakan, dan menyerahkan semua perhatian kepada Allah.

Tak hanya itu, dalam buku-buku itu juga dijelaskan posisi tubuh yang benar saat salat. Seperti berdiri dengan tegap, bahu tidak boleh diturunkan, kedua kaki direnggangkan tidak lebih lebar dari bahu, dan melemaskan otot-otot.

Sehingga, alih-alih memperhatikan bacaan salat, perhatian saya justru teralih pada posisi badan. Begitu juga sebaliknya, ketika saya berkonsenstrasi pada posisi badan, bacaan saya yang jadi berantakkan.

Akhirnya saya mengambil kesimpulan, ini kesimpulan saya lho, bahwa khusyuk itu nggak seperti pelajaran matematika yang bisa dipelajari dengan rumus dan metode tertentu. Sebab khusyuk adalah kondisi hati.

Semakin bersih hati, semakin tenang jiwa, semakin khusyuk pula salatnya. Karena itu, untuk bisa mencapai maqam khusyuk, tak ada cara lain kecuali menjaga hati tetap bersih, tetap tunduk, tetap eling.

Tapi khuyuk pun tak melulu diartikan “hanya tertuju pada Allah semata dan melupakan segalanya”. Karena Imam Ali pun ternyata mengajarkan versi lain dari khusyuk.

Yaitu saat beliau didatangi seorang pengemis ketika sedang salat sunah di masjid. Saat rukuk, Ali mengulurkan satu tangannya kepada si pengemis, memberi kode agar pengemis tersebut mengambil cincin di jarinya.

Pengemis itu dengan cepat meloloskan cincin dari jari Ali kemudian pergi. Ali melanjutkan salatnya. Tak lama kemudian datang utusan dari langit membawa ayat, “Sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah, Rasul dan orang yang beriman yang menunaikan salat dan membayar zakat saat sedang rukuk.”

Dari kisah ini kita kemudian ngeh jika upaya kita mendekatkan diri kepada Pencipta tak semestinya membuat kita abai pada sesama. Wallahualam.

_DW_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: