Skip to content

Kebijaksanaan yang Menerbitkan Senyum

June 12, 2016

Image (source: http://www.theimaginativeconservative.org)

Suatu hari Nasrudin Hoja dan seorang ulama dipanggil menghadap Sultan.

“Nasrudin,” kata Sultan ketika mereka tiba di Istana. “Mana yang kamu pilih: kebijaksanaan atau kekayaan?”

Nasrudin dengan cepat menjawab, “Tentu saja, kekayaan!”

Sultan kecewa mendengar jawaban tersebut. Ia kemudian berpaling kepada ulama dan memberikan pertanyaan yang sama.

Sebelum menjawab, ulama itu melirik Nasrudin. “Kekayaan tidak akan kamu bawa mati, Nasrudin,” katanya, menyindir. “Saya pilih kebijaksaaan, Paduka.”

Sultan puas mendengar jawaban ulama tersebut. Namun hatinya masih penasaran dengan jawaban Nasrudin.

“Nasrudin,” kata Sultan. “Anda adalah orang bijak. Beberapa bahkan menyebut anda seorang sufi. Tapi kenapa anda memilih kekayaan, bukan kebijaksanaan?”

Nasrudin berdehem beberapa kali sebelum menjawab. “Karena setiap orang menginginkan apa yang belum dimilikinya.”

Sultan tersenyum mendengar jawaban tersebut. Sementara wajah ulama besar itu merona merah.

Permintaanmu akan sesuatu menunjukkan kamu tidak memiliki sesuatu itu. Jadi, kalau ulama itu memilih kebijksanaan, itu berarti dia belum memilikinya.

Begitu juga kalau kamu minta dihormati, itu artinya kamu belum memiliki kehormatan 😜.

Selamat berpuasa, semoga semakin bijak. Karena orang bijak tidak akan gila hormat.

_DW_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: