Skip to content

Lompatan Jamie Vardy

December 17, 2015

jamie

Jamie Vardy berangkat dari kasta terendah sepak bola Inggris. Kini prestasinya melampaui Ruud van Nistelrooy.

Ratusan pesan masuk ke telepon selular Jamie Vardy beberapa saat setelah laga Leicester City kontra Manchester United yang berlangsung di The King Power Stadium, Leicester, Inggris, berakhir pada Sabtu dua pekan lalu.

Hampir semua pesan tersebut berisi ucapan selamat kepadanya. Hari itu Jamie Vardy memang baru saja mencetak rekor baru dalam sejarah sepak bola Inggris.

Pemain berusia 28 tahun ini merobek gawang Manchester United pada menit ke-24. Gol ini membuatnya menjadi pemain pertama di Liga Primer yang mencetak gol dalam 11 pertandingan berturut-turut.

Sepuluh gol sebelumnya ia cetak ke gawang Newcastle United, Watford, Hull City, Crystal Palace, Southampton, Norwich City, Arsenal, Stoke City, Aston Villa, dan Bournemouth.

Catatan ini mengalahkan rekor pemain Belanda, Ruud van Nistelrooy, yang mencetak gol dalam 10 pertandingan beruntun untuk Manchester United pada musim 2003.

“Saya tidak pernah berpikir memecahkan rekor. Ini sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” kata Jamie Vardy setelah pertandingan berakhir.

Selain menciptakan rekor baru, satu golnya ke gawang Manchester United hari itu juga membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak sementara di Liga Primer Inggris dengan 14 gol.

Sayangnya, pertandingan hari itu berakhir imbang 1-1 karena Manchester United mampu membalas lewat gol yang dicetak pemain gelandang mereka, Bastian Schwinsteiger, pada menit ke-46.

Namun hasil imbang ini tetap tak bisa membendung langkah Leicester City merebut peringkat kedua klasemen Liga Primer Inggris sepanjang pekan lalu.

Tak mengherankan jika 52 ribu penonton yang hari itu menyesaki The King Power Stadium bersorak gembira. “Jamie Vardy, saatnya kita berpesta!”

Namun tak ada pesta. Jamie langsung meninggalkan stadion menuju rumah sahabatnya. Di sana ia mematikan telepon selularnya lalu duduk menyendiri memikirkan lompatan karirnya.

Tiga tahun lalu, ia hanya pemain sepak bola amatir yang bermain di non-liga..

***********

Lelaki itu berdiri di pintu masuk ruang ganti FC Halifax Town di The Shay Stadium, West Yorkshire, Inggris. Wajahnya menunduk memandangi ujung sepatu bolanya yang butut.

Neil Aspin, pelatih FC Halifax Town ketika itu, mengingat jelas momen yang terjadi pada Juni 2010 tersebut. “Saat itu seorang pemain bertanya, ‘Inikah pemain baru kita?’,” kata Neil Aspin.

Vardy saat itu berusia 23 tahun. Ia datang dari klub Stockbridge Park Steel di Kota Sheffield, Inggris. Stockbridge menggajinya tak lebih dari 30 pound sterling atau sekitar Rp 600 ribu per pekan.

Jumlah itu tak cukup untuk membeli sepatu bola baru. Sebab, harga sepatu bola dengan kualitas lumayan di sana tak akan kurang dari 35 pound sterling.

Namun Vardy bertahan di Stockbridge selama tiga tahun. Ia mengambil kerja sampingan sebagai teknisi di rumah sakit. Tugasnya memasang alat bantu penopang tubuh agar persendian tidak bergeser.

“Saya biasa latihan sepak bola jam 7 pagi sebelum berangkat kerja dan pulang jam setengah tiga sore. Punggung saya sampai sekarang masih suka nyeri,” Vardy mengenang.

Hidup ketika itu memang tak ramah bagi Vardy. Ayahnya pekerja derek dan ibunya bekerja di kantor pengacara. Mereka tinggal di kawasan Hillsborough, Sheffield.

Vardy kecil, seperti kebanyakan anak lain di sana, mencintai sepak bola. Ia masuk ke Akademi Sepak Bola Sheffield Wednesday pada 2002. Namun dikeluarkan setahun kemudian.

Sebab, tinggi tubuhnya hanya 160 cm, terlalu kecil untuk menjadi pemain sepak bola profesional. “Saya merasa terpukul sekali,” kata Vardy. “Saya mulai berpikir untuk meninggalkan sepak bola.”

Vardy kemudian banyak menghabiskan waktunya di pabrik pembuatan serat karbon. Ia bekerja 12 jam sehari di sana. Namun kecintaannya pada sepak bola tak pernah benar-benar pudar.

Setahun kemudian ia masuk Akademi Sepak Bola Stockbridge Park Steel. Ia bertahan selama 4 tahun dan menembus skuad utama Stockbridge Park Steel pada 2007.

Vardy mendapat gaji 30 pound sterling per pekan. Tak begitu besar. Maklum, Stockbridge hanya klub amatir yang bermain di kompetisi Northern Premier League.

Meski begitu, performa Vardy melesat cepat. Ia mencetak 66 gol dalam 107 penampilannya bersama Stockbridge Park Steel pada 2007-2010.

“Saya hanya perlu sekali melihatnya bermain sebelum membelinya untuk Halifax,” kata Neil Aspin. Neil membeli Jamie Vardy seharga 15 ribu pound sterling dari Stockbridge.

Namun saat muncul pertama kali di ruang ganti pemain Halifax, Vardy yang sudah mengantongi 15 ribu pound sterling masih menggunakan sepatu butut lamanya.

Vardy hanya semusim di Halifax. Ia dibeli Fleedwood Town seharga 250 ribu pound sterling pada 2011. Fleedwood adalah tim yang bermain di Kompetisi Conference Premier.

Ia mencetak 34 gol dalam 40 pertandingan musim pertama sekaligus terakhirnya bersama Fleedwood. Catatan ini membuatnya terpilih sebagai player of the month pada November 2011.

Sejumlah klub profesional, seperti Southampton dan Blackpool, mulai memburunya. Southampton menawar 500 ribu pound sterling sementara Blackpool 750 ribu pound sterling. Kedua tawaran ini ditolak.

Sebab, pada saat yang sama, Leicester City datang dengan tawaran 1 juta pound sterling. Vardy, tentu saja, tak berpikir dua kali untuk menerima tawaran ini.

Sebab, selain nilai transfernya yang menggiurkan, bermain di Leicester City juga akan membuat “kastanya” naik. Sebab Leicester City saat itu bermain di kompetisi Championship.

Championship berada satu tingkat di bawah Liga Primer Inggris. Sementara klub-klubnya selama ini, mulai dari Stockbridge Park Steel,  Halifax Town, dan Fleedwood, adalah klub non-liga alias klub amatir.

Liga Inggris, seperti diketahui, memiliki anak-anak tangga. Tangga teratas bernama Liga Primer Inggris. Di bawahnya ada Championship, Divisi 1 dan Divisi 2.

Klub-klub yang bermain di empat anak tangga teratas tersebut disebut klub profesional. Mereka berhak ikut serta dalam Piala Liga yang digelar setiap musim.

Di bawah empat anak tangga tersebut ada 20 anak-anak tangga lain. Mereka disebut non-liga. klub-klub yang bermain di dalamnya berstatus semi profesional dan amatir.

Dua Klub pertama Vardy, Stockbridge Park Steel dan Halifax Town, berada di anak tangga kedelapan. Sementara klub ketiganya, yakni fleewood, berada di anak tangga kelima.

Sehingga, menjadi pemain Leicester City tak hanya membuatnya basah secara finansial, tapi juga menjadi lonjakan karir yang luar biasa.

Vardy resmi menjadi pemain Leicester City pada Juni 2012. Ia menjadi pemain non-liga pertama dalam sejarah Liga Inggris yang dibandrol 1 juta pound sterling.

Terlalu mahal? Tidak juga. Karena Vardy sukses membawa The Foxes –julukan Leicester City– ke puncak klasemen Championship pada musim keduanya. Saat itu ia mencetak 16 gol dalam 37 penampilan.

Hasil ini membuat Leicester City naik ke tangga teratas dalam piramida sepak bola Inggris: Liga Primer. “Bahkan saya tidak pernah bermimpi sejauh ini,” kata Jamie Vardy.

*************

Sehari setelah pertandingan melawan Manchester United, Jamie Vardy mendirikan V9 Academy. Ini adalah akademi sepak bola khusus untuk menjaring para pemain non-liga.

“Saya tahu ada banyak sekali pemain non-liga yang hebat. Namun mereka berguguran karena tidak memiliki kesempatan,” kata Vardy.

Non-liga adalah bagian terbesar dalam piramida sepak bola Inggris. Ada ribuan pemain bersaing di kompetisi ini. Vardy mungkin yang paling beruntung, namun ia bukan satu-satunya yang sukses.

John Barnes (Liverpool), Ian Wright (Arsenal), Stuart Pearce (Notingham Forest), dan bahkan bintang Manchester United, Chris Smalling, muncul dari non-liga.

“Jamie Vardy berasal dari non-liga seperti saya. Namun performanya yang luar biasa membuat banyak agen kini mulai turun ke klub-klub di divisi bawah,” kata Chris Smalling.

Beberapa pemain non-liga yang mulai ramai dibicarakan yaitu Moses Emmanuel (Bromley FC), Kristian Dennis (Macclesfield Town), Omar Bogle (Grimsby Town), dan Brendon Daniels (Harrogate Town).

Boleh jadi ghirah pencarian Vardy-vardy baru dari non-liga juga disebabkan dengan mulai gerahnya publik sepak bola Inggris melihat begitu banyak pemain asing yang menyesaki Liga Primer Inggris.

Saat ini, dari total 528 pemain Liga Primer Inggris, sebanyak 361 atau 68,1 persen di antaranya adalah pemain asing. Fakta ini cukup ironis mengingat Inggris sendiri memiliki ratusan klub dan ribuan pemain.

DW

(di muat di Majalah Tempo Edisi 7-14 Desember 2015 )

Baca Juga:

Baca Juga:
Si Kancil Bukan Pencuri Timun
Runtuhnya Tembok-tembok Persepsi
Dalam Dusta dan Doa
Maaf, Melupakanmu
Lawan Kita Adalah Intoleransi

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: