Skip to content

Si Kancil Bukan Pencuri Timun

August 13, 2015

Seekor kancil sedang memetik timun ketika sebuah jala tiba-tiba menyergapnya…Haap!

“Ternyata kamu yang selama ini mencuri timunku!” kata Bapak Petani sambil mengacungkan arit.

Kancil yang terkejut mencoba melepaskan diri. Namun semakin keras usahanya, semakin rumit jala membelitnya.

“Kamu harus mendapat pelajaran,” kata Pak Tani sambil berjalan mendekat. “Hukuman bagi pencuri adalah potong kaki.”

“Tunggu! Aku tidak mencuri. Ini pasti salah paham,” kata kancil berusaha membela diri.

“Sudah tertangkap basah, masih mengelak, hah?” Pak Tani melotot. Ia lalu menunjuk timun-timun yang dipetik kancil. “Itu semua buktinya.”

Kancil mencoba menenangkan diri. Ia mengambil nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan.

Po, seekor panda, sahabatnya yang pernah belajar kungfu dari Shifu di Cina, pernah mengajarinya cara mengatur jalan nafas.

“Saya memang memetik timun-timun ini, tapi bukan berarti saya mencuri,” kata kancil, kini terdengar lebih tenang.

“Kurang ajar! Lantas apa namanya kalau bukan mencuri?”

“Pak Tani, beberapa bulan lalu saya ke sini dan tidak melihat ada kebun apapun. Kenapa sekarang tiba-tiba ada kebun timun?”

“Karena sayalah yang menggarapnya. Sayalah yang membabat pohon, mengolah tanah, dan menyebarkan biji-biji timun. Jadi ini kebun saya!”

Kancil mengangguk-angguk. Ia mulai menguasai ketakutannya. “Jadi ini kebun Pak Tani,” katanya.

“Tentu saja!”

“Kalau begitu, tunjukkan saya sertifikatnya.”

Pak Tani mendadak kebingungan. Matanya berputar-putar. Keningnya berkerut ketika berkata, “Sertifikat apa?”

“Sertifikat tanah. Setiap lahan pasti ada sertifikatnya. Tunjukkan pada saya,” kancil mendesak.

Pak Tani semakin kebingungan. Kancil tersenyum lebar melihatnya. Ia mulai menguasai keadaan. “Bapak pasti tidak punya,” katanya.

Kancil menegakkan badannya dan mendongakkan sedikit wajahnya. “Karena daerah ini adalah kawasan hutan lindung. Jadi tanah ini milik negara.”

Mendadak hening. Pak Tani yang semula garang kini berdiri kikuk. Kancil tak ingin memberinya kesempatan.

“Jadi siapa yang sebenarnya mencuri? Saya yang mencuri timun atau bapak yang mencuri lahan milik negara?”

Pak Tani sungguh tak menyangka jika dirinya bisa dibuat tak berkutik oleh seekor kancil. Benar-benar memalukan.

“Jadi Pak Tani, kalau bapak tidak punya bukti kepemilikan kebun ini, kenapa tidak cepat melepaskan jala sialan ini?”

Pak Tani, dengan terpaksa dan sambil menahan malu, akhirnya melepaskan jala tersebut.

Kancil segera mengumpulkan timun-timun yang tadi dipetiknya, memasukkannya dalam kantong, kemudian berlalu sambil bersiul-siul.

Pak Tani pun berjalan pulang. Timun hasil berkebunnya hampir separuhnya dibawa kancil. Ia merutuk dalam hati.

Di tengah jalan menuju rumah, di atas pematang, ia berpapasan dengan beberapa anak yang sedang bersenandung.

“Si Kancil anak nakal, suka mencuri timun, ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun..”

Wajahnya langsung melengos…

_Dw_

2015/08/img_8082-1.jpg

Baca Juga:
Runtuhnya Tembok-tembok Persepsi
Dalam Dusta dan Doa
Maaf, Melupakanmu
Lawan Kita Adalah Intoleransi

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: