Skip to content

Runtuhnya Tembok-tembok Persepsi

August 11, 2015

ddNamanya Shamsi Ali. Dia seorang imam di masjid New York. Kemarin siang, pria asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, ini mampir ke kantor.

Kebetulan, jika kamu percaya ada kebetulan di dunia ini, saat itu sedang ada acara #ngopidikantor. Jadi, sambil ngopi, kami meminta sedikit wejangan darinya.

Ia menceritakan pengalamannya di Amerika Serikat. Antara lain, tentang bagaimana komunitas Yahudi dan Musim di sana yang mulai menemukan titik-titik temu.

“Untuk pertamakali kami mengadakan pertemuan yang dihadiri 40 pendeta Yahudi dan 40 Imam Muslim,” begitu kira-kira katanya. “Kami sama-sama menginginkan perdamaian.”

Tak mudah mengajak komunitas Yahudi dan Muslim duduk satu meja. Semua ini, kata dia, karena “kita sudah terjebak pada asumsi”.

Asumsi menjadi jarak, seperti tembok yang memisahkan. Kita menganggap orang Yahudi begini dan Kristen begitu. Kita menempelkan berbagai persepsi kepada mereka.

Pada saat yang sama, mereka juga memiliki asumsi untuk orang Islam. Persepsi-asumsi, yang sebagian besar biasanya keliru, inilah yang menjadi tembok.

“Setelah duduk bersama, mengenal mereka secara personal, saya tak lagi melihat mereka sebagai Si Yahudi, Si Kristen, atau Si Muslim. Saya melihatnya sebagai manusia.”

Intinya, toleransi mulai tumbuh di Amerika. Ironisnya, kejadian sebaliknya terjadi di Indonesia. Banyak yang kini alergi terhadap perbedaan.

Banyak kasus yang bisa disebutkan. Mulai dari larangan terhadap Ahmadiah, pengusiran penganut Syiah, hingga penyegelan gereja.

“Kalau masih ada yang alergi terhadap perbedaan, sebaiknya belajar Islam lagi,” katanya menutup wejangan siang itu.

Namun persoalan saya dengan asumsi tak selesai hari itu. Karena malam harinya, sepulang kerja saya menonton film India berjudul Bajrangi Bhaijaan.

Seorang teman merekomendasikan film yang dibintangi Salman Khan dan Kareena Kapoor ini beberapa hari lalu. Dan saya hanya butuh beberapa detik untuk mencintai film ini.

Gunung-gunung berpucuk salju yang muncul pertamakali di layar mengingatkan saya pada kisah Jorge Mortenson, penulis buku Three Cups of Tea –Belakangan diketahui kisahnya ternyata bukan based on true story seperti tertulis di sampul bukunya.

Berikutnya adalah padang rumput dan gadis kecil berhijab merah yang sedang menggiring domba di dusun kecil bernama Sultanpur, Kashmir, Pakistan.

Sungguh latar yang sempurna. Namun tak ada yang sempurna, tentu saja. Shahida, gadis cilik penggembala itu, ternyata bisu. “Bawalah ke Delhi, seseorang pasti bisa membuatnya berbicara di sana,” saran seorang ketua kampung.

Bagi mereka, Delhi tak hanya jauh, namun juga menakutkan. Di sana ada orang-orang Hindu penyembah dewa Hanoman. Ayah Shahida pun takut ke sana.

“Kalau begitu,” Sang Bunda angkat bicara, “Saya yang akan membawanya ke Delhi.” Maka ibu dan anak itu pun berangkat. Mereka naik kereta menuju Delhi.

Namun, tak lama setelah memusuki wilayah India, keretanya mogok. Mereka terjebak dalam gelap padang Kurusetra. Shahida yang terbangun dari tidur, melihat seekor domba dari balik jendela.

Ia lalu turun untuk memeluk domba tersebut. Malang baginya, saat itu mesin kereta sudah kembali menyala dan mulai bergerak menjauh.

Shahida hanya bisa menatap wajah ibunya yang masih terlelap dari jendela. Sejak itu, mereka terpisah. Shahida, gadis enam tahun itu, mendadak terasing di India.

Kisah berikutnya adalah tentang perjalanan Shahida mencari jalan pulang. Mari kita persingkat: ia ditemukan pemuda ganteng bernama Pawan Kumar Chaturvedi.

Pawan (Salman Khan) adalah seorang pemuja Dewa Hanoman. Ia menolong Shahida karena mengira gadis cilik itu berkasta Brahmana. “Lihatlah, kulitnya sangat putih!”

Namun ia kecewa ketika mengetahui Munni, panggilannya untuk Shahida, ternyata seorang muslim. “Dia menghianati kita. Dia bukan anak Brahmana, tapi seorang muslim.”

Pawan lalu berniat meninggalkan Shahida. Ia benar-benar kecewa dan malu kepada Hanoman. Namun Rasika (Kareena Kapoor), calon istrinya, mencegahnya.

“Kamu tahu kenapa aku mencintaimu? Karena hatimu begitu baik. Soal kasta dan agama, semua itu omong kosong,” kata Rasika. “Di hanya anak berusia enam tahun.”

Saya bisa membayangkan, Pawan seorang yang begitu taat pada dewa Hanoman –dia bahkan memberi hormat setiap kali bertemu kera– kini harus membantu anak muslim yang tersesat.

Di Delhi, setidaknya menurut film ini, Pakistan adalah musuh. Begitu juga masyarakat muslim yang tinggal di dalamnya.

Namun, tersentuh oleh ucapan Rasika, Pawan akhirnya melihat Shahida dari sisi berbeda. Bukan lagi sebagai seoran muslim, namun sebagai gadis kecil, sebagai manusia.

Ia meruntuhkan tembok-tembok persepsi yang selama ini mengurungnya. Palwan bahkan melangkah lebih jauh: mengantarkan Shahida pulang ke dusunnya di pelosok Pakistan.

Ia menyusup melalui perbatasan (karena gagal mendapat paspor –dan karenanya disangka agen mata-mata India) dan menyusuri lereng-lereng pegunungan Kashmir.

Sungguh perjalanan yang mengharukan. Anda mungkin akan menitikkan air mata saat Shahida bertemu orang tuanya namun pada saat yang sama Palwan habis dihajar tentara Pakistan.

Di akhir film, ribuan orang menyerbu perbatasan. Mereka membobol gerbang, meruntuhkan persepsi-persepsi dan segala macam asumsi. Rasanya, belum pernah saya menonton film sekhusyu ini.

Sampai malam ini saya masih berpikir, apakah wejangan Shamsi Ali di kantor kemarin tentang tembok persepsi-asumsi memiliki benang merah dengan film ini atau semata kebetulan.

_DW_

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: