Skip to content

Ketika Subuh Selalu Molor

November 20, 2014

foto: me

foto: me

Setiap kali bangun kesiangan, istri saya biasanya langsung mengambil wudhu lalu salat subuh –sekalipun jam sudah menunjuk pukul 06.30 wib. “Mending telat daripada nggak sama sekali,” begitu katanya.

Saya cuma nyengir. Namanya saja shalat subuh, dikerjakannya ya di waktu subuh. Kalau sudah jam segini, namanya bukan lagi salat subuh. Mungkin duha.

Tapi kalimat itu tak pernah benar-benar keluar dari mulut saya. Takut dia tersinggung. Saya lebih memilih tidur lagi. Salat yang terlewat hari ini, saya akan membayarnya subuh besok.

Pernah ada teman yang bertanya: “Apa bisa salat diganti waktunya?”

Kenapa nggak? Derajat salat, setidaknya menurut rukun Islam, lebih tinggi dari puasa Ramadhan. Jika puasa bisa diganti, kenapa salat nggak bisa?

Memang ada beberapa hadis yang menyebutkan Rasul pernah bangun ketika matahari sudah kelewat tinggi lalu langsung salat subuh. Ini menjadi dasar mereka melakukan salat subuh di luar waktunya.

Tapi, benarkah –atau mungkinkah–rasul pernah bangun kesiangan lalu tergopoh-gopoh salat subuh?

Saya meragukannya. Karena yang saya pahami, rasul itu maksum. Ia tak hanya steril dari kesalahan, tapi juga dari kelalaian. Jaminan Tuhan bahwa Rasul adalah teladan terbaik manusia cukup menjadi dasar saya untuk menganggap ia tak pernah bangun kesiangan.

Memang, bisa saja Rasul bangun kesiangan itu justru sebagai pelajaran Rasul kepada kita. Sehingga jika kita bangun kesiangan, meski jam 9 sekalipun, tetap bisa salat subuh.

Bisa saja begitu. Bisa juga keliru. Karena waktu salat sudah ditentukan: subuh adalah ketika langit mulai disobek fajar hingga matahari menyeruak. Waktu tak bisa digeser, tapi salat bisa diganti lain hari.

Sehingga, bagi saya, pilihannya hanya menggantinya pada subuh hari berikutnya. Tapi saya tak pernah membahas persoalan ini bersama istri. Saya lebih nyaman dianggap pemalas dibanding berdebat soal beginian.

Tarik selimut lagi, ah…

_DW_

Baca Juga:
Baca Juga:
Nyi Ratu di Belakang Jokowi
Tausiah Nasi Kuning
Gol-gol yang Membebaskan
Kado Tragis Buat Moyes
Susie Wolff, Setelah Dua Dekade
Kelas Baru Ducati
Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: