Skip to content

Nyi Ratu di Belakang Jokowi

October 21, 2014

Ilustrasi API

Ilustrasi API

“Kamu tahu Nyi Roro Kidul? Dia sekarang dekat dengan Jokowi,” kata Seno sambil mengunyah sebatang bengbeng.
Saya tak terkejut mendengarnya. Sebab otak manusia satu itu mirip kuda liar, sering loncat-loncat ga karuan.
Meski begitu, toh, saya tertarik juga. “Dari mana kamu tahu? Memangnya kamu paranormal? Lagian memangnya Nyi Roro Kidul beneran ada?”
Seno tersenyum, lebih tepatnya mencibir. Dia menunjuk televisi sambil berkata, “Kamu nonton pelantikan Jokowi pagi tadi?”
Ia tak perlu jawaban karena mulutnya yang masih penuh bengbeng itu cepat berkata lagi. “Di pelantikan itu Jokowi bilang dia akan mengembalikan kejayaan samudera kita.”
“Ya, saya dengar itu.”
“Nah, setelah pelantikkan, dia diarak ke Istana dengan kereta kencana. Samudera dan kereta kencana, apa yang bisa kamu simpulkan?”
“Nyi Roro…”

“Tepat!” pekik Seno memotong.
“Tapi ini tidak membuktikan apa-apa,” sahutku.
“Memang tidak perlu dibuktikan. Ini hanya perlambang, hanya simbol, setiap orang bebas memaknainya.”
“Kamu terlalu jauh…”
“Nope, justru terlalu dekat, kalau kamu mau membuka sejarah. Setiap raja-raja Jawa selalu memiliki hubungan, atau setidaknya dihubung-hubungkan, dengan Nyi Roro Kidul.”
“Ah, ini mistis. Lagipula, presiden tidak sama dengan raja, dari manapun kamu melihatnya.”
“Memang bukan itu poinnya,” kata Seno.
“Jadi apa poinnya?” sahutku.
“Poinnya adalah, samudera dan kereta kencana adalah simbol Nyi Ratu, sekaligus lambang bahwa Jokowi tak memegang kekuasaan ini sendiri.”
Saya mengerutkan kening. Jokowi, meski jabatannya adalah presiden, nyatanya memang tak memegang kekuasaan sendiri. Ia harus berbagi dengan parlemen yang dikuasai lawan politiknya.
“Bukan..bukan itu,” Seno seperti bisa membaca pikiranku. “Jokowi tidak duduk sendiri di singgasana. Ada Nyi Ratu di belakangnya.”
Seno diam sejenak. Saya menunggu.
“Hanya saja, Nyi Ratu kini tak lagi bergaun hijau dengan rambut bergerai-gerai ditampar angin laut. Sebab panjang rambutnya kini hanya sebahu. Gaunnya pun tak lagi hijau, melainkan merah.”
“Ah,” saya menepuk jidat. “Kamu pasti pendukung KMP!”

_DW_
Sumber Ilustrasi

Baca Juga:
Tausiah Nasi Kuning
Gol-gol yang Membebaskan
Kado Tragis Buat Moyes
Susie Wolff, Setelah Dua Dekade
Kelas Baru Ducati
Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: