Skip to content

Jejak Yamin dalam Syair Indonesia Raya

October 3, 2014

Wage Rudolf Soepratman tak sendirian menciptakan lagu Indonesia Raya. Syair lagu tersebut ditulis Muhammad Yamin.

Ilustrasi: TEMPO

Ilustrasi: TEMPO

Sambil menjinjing kotak biolanya, Wage Rudolf Soepratman menghampiri Soegondo Djojopoespito di sela kongres Pemuda II di Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat 106, 28 Oktober 1928.

Pemuda berusia 25 tahun itu memberi hormat sebentar lalu menyodorkan secarik kertas berisi notasi dan syair lagu berjudul Indonesia. Ia meminta Soegondo, pemimpin rapat hari itu, memberinya kesempatan membawakan lagu tersebut.

Soegondo mengerutkan keningnya saat membaca syair lagu itu. Banyak frase dalam syair lagu tersebut yang bisa menyulut semangat persatuan. Jika teks itu dinyanyikan, Polisi Hindia Belanda bisa-bisa langsung membubarkan kongres.

Karena itu Soegondo meminta Soepratman menunggu sebentar. Ia lalu menghampiri utusan dari Kantor Voor Inlandsche Zaken, Van der Vlaas, untuk berkonsultasi. Vlaas mengijinkan lagu itu dimainkan asalkan tanpa syair.

“Saya hanya akan membawakannya dengan permainan biola,” kata Soepratman saat Soegondo melaporkan hasil konsultasinya. Soegondo mengijinkan. Soepratman pun tampil. Memakai setelan putih-putih dan berpeci hitam, pemuda berkacamata itu mulai menggesek biolanya.

Ia memainkan lagu Indonesia secara intrumental. Ratusan peserta kongres mendengarnya dengan takzim. Itulah pertama kalinya lagu Indonesia –kemudian menjadi Indonesia Raya– pertama kali diperdengarkan. Meski tanpa teks, tulis Sularto dalam buku Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, gesekan biola Soepratman “menggelorakan semangat para pemuda”.

Syair lagu tersebut baru dipublikasikan 10 November 1928 oleh surat kabar Thionghoa berbahasa Melayu, Sin Po. Dalam terbitan tersebut, lagu itu diberi judul “Indonesia”. Sin Po juga menulis “lagu dan syair oleh W.R Soepratman”.

Benarkah syair lagu itu diciptakan oleh WR Soepratman? Pendapat umum menyatakan demikian. Namun Ali Akbar Navis, penulis cerpen ‘Robohnya Surau Kami’, mengatakan penulis syair lagu Indonesia bukanlah Wage Rudolf Soepratman, melainkan Muhammad Yamin.

Dalam buku Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah, Navis mengatakan: “Komposisi nadanya disusun WR Soepratman dan kata-katanya oleh Muhammad Yamin.” Informasi ini diterima Navis dari Mohammad Nazif dan Anwar Sutan Saidi. Nazif adalah peserta Kongres Pemuda II dan Anwar Sutan adalah pendiri Penerbit Nusantara yang kerap menerbitkan buku-buku Yamin.

Dugaan syair lagu Indonesia Raya ditulis oleh Yamin juga disampaikan Restu Gunawan, penulis buku Muhammad Yamin dan cita-cita persatuan Indonesia. Saat dihubungi Tempo akhir Juli lalu, Restu mengatakan jejak Yamin dalam syair Indonesia Raya bisa dilihat dari frase “tanah air” dan “tumpah darah”.

Sebelum Soepratman menyerahkan teks lagu Indonesia ke Soegondo, Yamin telah menulis dua puisi berjudul “Tanah Air” pada 1920 dan “Indonesia Tumpah Darahku” pada pada 26 Oktober 1928. Dua frase ini menjadi pembuka syair lagu Indonesia.

“Kalau dianalisa dari sudut pandang ini, memang lirik lagu itu mengikuti pola pikir Muhammad Yamin,” kata Restu. “Sehingga kalau diduga lirik lagu Indonesia Raya diciptakan oleh Yamin ada benarnya juga.”

Sejarawan senior Taufik Abdullah bahkan pernah dikirimi potongan artikel yang menyebutkan bahwa Yamin menghibahkan syair tersebut kepada Soepratman sebelum kongres Pemuda II dimulai. “Itu sebabnya Yamin tidak pernah mempersoalkan hak cipta,” kata Taufik.

Sayangnya, Taufik lupa siapa penulis artikel tersebut. Sejarawan peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia pada 2009 ini hanya mengatakan artikel tersebut pernah dimuat Kompas antara tahun 2000-2001. “Saya hanya ingat penulisnya adalah tokoh yang berasal dari Indonesia Timur.”

_DW_

*pernah dimuat di Majalah Tempo Edisi Khusus Muhammad Yamin, Edisi Agustus 2014

Baca Juga:
Tausiah Nasi Kuning
Gol-gol yang Membebaskan
Kado Tragis Buat Moyes
Susie Wolff, Setelah Dua Dekade
Kelas Baru Ducati
Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: