Skip to content

Tausiah Nasi Kuning

June 24, 2014

Broken ChainKursi lipat sudah disiapkan, tapi Mas Gun memilih duduk di atas tikar. Memakai kemeja lengan pendek biru dan celana jeans, bekas pemimpin Majalah Tempo ini terlihat sumringah.

Mas Gun hari ini datang ke Velbak untuk memperingati 20 tahun pembredelan Majalah Tempo. Setiap tahun, kisah ini selalu kami peringati. Tapi tak setiap tahun Mas Gun datang.

Sejak SMA saya suka membaca ‘Catatan Pinggir’. Ini adalah tulisan di halaman paling belakang Majalah Tempo yang terbit saban pekan.

Penulisnya, ya, Mas Gun ini. Saya membacanya ketika tulisan-tulisan itu sudah dibundel dalam buku berjudul Caping alias Catatan Pinggir.

Tidak semua tulisan Catatan Pinggir saya mengerti. Terutama saat Mas Gun menulis tentang filsafat. Benar-benar ndak mudeng.

Meski begitu, saya tetap menikmati penyajiannya: tentang bagaimana Mas Gun menjahit setiap kata, memilih diksi, hingga memenggal kalimat.

Saat sore tadi Mas Gun diminta memberikan tausiah, saya juga menikmatinya. Mendengarnya berbicara seperti membaca lembar terakhir Majalah Tempo.

“Pers tidak harus netral. Boleh netral, tapi tidak wajib,” katanya. “Kalau menghadapi kesewenang-wenangan, pers yang memilih tetap netral justru tidak bertanggung-jawab.”

“Yang penting jangan memfitnah. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan itu benar, karena yang dirusak oleh fitnah adalah akal sehat dan kejujuran. Fitnah membuat kita mati pelan-pelan.”

Menjelang pemilihan presiden, fitnah memang merajalela. Tapi, mereka yang berpihak kepada akal sehat dan kejujuran, rasanya tidak akan termakan.

Yang penting, kata BHM melanjutkan tausiah, jangan berdiam diri. Sebab Mussolini dan Hitler terpilih melalui jalur demokrasi karena orang-orang baik hanya diam.

“Kita tidak bisa berdiam diri melihat ketidakadilan tumbuh,” katanya. “Jalan kebajikan itu seperti semak belukar, seseorang harus memulai membuat jalurnya.”

Tausiah dalam peringatan pembredelan Majalah Tempo ini, seperti biasa, ditutup dengan potong tumpeng dan makan-makan nasi kuning. Saya makan dua.

_DW_

Baca Juga:
Pembaca Kitab di Kereta
Penghianat Takdir
Deru Buldozer di Teras Kabah
Jalan Melarat Agus Salim
Para Penjajah Akidah
Ayat-ayat Kodok
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Taraweh Nabi Adam
Banyak Berdoa, Sedikit Meminta
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: