Skip to content

Jalan Suci Menuju Brasil

June 14, 2014

Banyak jalan menuju Brasil, salah satunya dengan sepeda. Meski untuk itu ketiga orang ini harus mengayuh ribuan kilometer. Ini adalah perjalan suci para penggila sepak bola.

foto: baotintuc.vn

foto: baotintuc.vn


Juan Luis Sube bersama dua temannya berhenti di Iguazu Falls, air terjun yang indah di perbatasan Argentina dan Brasil, dua pekan lalu. Insinyur lingkungan ini menyandarkan sepedanya lalu duduk menikmati gemuruh air terjun setinggi 82 meter itu.

“Kami sudah lama menantikan saat-saat seperti ini,” kata pria berusia 29 tahun ini. Dua temannya, yakni Sube Angle Martinez, 26 tahun, dan Hector Luja, 25 tahun, ikut duduk di sampingnya. Wajah ketiganya tampak begitu letih. “Perjalanan kami masih jauh.”

Untuk sampai di Iguazu Falls, tiga orang nekat ini telah mengontel sepeda sejak Desember lalu. Mereka berangkat dari Guadalajara di Meksiko Utara kemudian menyusuri Guatemala, Honduras, Nicaragua, dan terus ke selatan.

Total, mereka telah melintasi 14 negara dan menempuh jarak sekitar 5.900 kilometer. Tapi, perjalanan mereka belum berhenti. Karena tujuan akhir mereka adalah Recife, Brasil. Artinya, mereka harus mengontel lagi sejauh 3.000 kilometer.

Itu sebabnya mereka beristirahat sejenak menikmati keindahan Iguazu Falls sebelum mengontel sepeda lagi. “Kami tahu ini sedikit gila tapi kami terlalu bersemangat. Kami ingin menjadi bagian dari pesta Piala Dunia dengan mendukung tim nasional kami,” kata Sube penuh semangat.

Sube bukan ingin gaya-gayaan naik sepeda ke Brasil, tapi dengan kantong yang cekak, mereka tak punya pilihan selain mengontel sepeda. “Masing-masing kami membawa US$ 3.500,” kata Sube. “Dan kini kami mulai kehabisan uang.”

Sube bahkan belum memikirkan hotel tempat menginap di Recife. Saat ini hanya ada satu hal di pikirannya: tiba secepat mungkin untuk menonton laga kedua Meksiko melawan Kroasia, 24 Juni nanti –mereka tak sempat menonton laga perdana Meksiko melawan Kamerun yang akan digelar 13 Juni.

Jejak trio asal Meksiko ini kemudian diikuti Cristian Uribarri, 35 tahun, orang Meksiko lainnya. Uribarri mengajak tiga temannya untuk melanglang ke Recife. Bedanya, mereka menggunakan mobil mini van dengan bak terbuat dari terpal dan kayu.

“Ini adalalah satu-satunya kesempatan saya untuk melihat langsung Piala Dunia karena Rusia (Piala Dunia 2018) akan terlalu jauh dan dingin dan Qatar (Piala Dunia 2022) terlalu mahal,” kata Uribarri. “Ini menjadi perjalanan yang unik.”

Untuk modal perjalanan, Uribarri dan tiga temannya masing-masing membawa US$ 3.200. Untuk hiburan di jalan, mereka juga membawa LCD TV dan Playstation. Dua perangkat hiburan ini terhubung ke accu mobil. Uribarri berdoa supaya accu-nya tak soak sebelum mereka tiba di Recife.

Magnet Piala Dunia juga menyihir ratusan orang di Cile. Pada Jumat pekan lalu, sekitar 800 mobil berkonvoi menuju Brasil. Konvoi yang menamakan diri “Santiago Caravan-Brazil 2014” ini akan melintasi Argentina dan menempuh jarak sekitar 1.500 km sebelum tiba di Cuiaba, Brasil, tempat tim nasional Cile bermarkas.

Di antara rombongan ini terdapat seorang wanita tua berusia 64 tahun bernama Cecilia Aguilar. Cecilia yang bekerja di bagian sumber daya manusia di sebuah perusahaan di Cile memutuskan berangkat ke Brasil demi menebus impian anaknya.

“Anak saya meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu. Dia pecinta La Roja –julukan untuk tim nasional Cile– karena itu saya melakukan perjalanan gila ini untuknya,” kata Cecilia. “Saya tahu dia akan hadir di sana nanti. Setidaknya dia akan tersenyum melihat saya.”

Ratusan mobil pendukung tim nasional Argentina juga akan memasuki Brasil dalam satu-dua hari ini. Fabian Biacchi, penduduk Buenos Aires, salah satunya. Mengendarai Mercedez Benz convertible lansiran 1971, Biacchi membawa serta adik laki-laki dan tiga anaknya.

“Tentu saja turnamen ini sangat penting bagi kami,” katanya. “Tapi pesta dan perjalanan ini juga tidak kalah penting, karena suasana seperti ini belum tentu bisa kami nikmati lagi.”

Sejak 1994, Piala Dunia memang belum pernah singgah lagi di Amerika Selatan. Tak mengherankan jika warga Amerika latin begitu ghirah menyambut hajatan olahraga terakbar sejagat ini. 

Mereka rela mengayuh pedal sepeda atau memaksa mobil butut melintasi ribuan kilometer. Karena di sana sepak bola bukan sekedar olahraga, tapi juga agama. Sehingga, perjalanan menuju Brasil ini adalah ritual suci.

Juan Luis Sube tak punya cukup banyak waktu untuk menikmati Iguazu Falls. Ia harus mengayuh sepeda lagi karena waktu semakin mepet. Tinggal dua hari sebelum kick off dimulai 12 Juni nanti dan ia belum mengantongi tiket pertandingan…

DW (FOXNEWS | SOCCERLY | BBC)
*dimuat di koran tempo edisi 10 juni

Baca Juga:
Gol-gol yang Membebaskan
Kado Tragis Buat Moyes
Susie Wolff, Setelah Dua Dekade
Kelas Baru Ducati
Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: