Skip to content

Gol-gol yang Membebaskan

June 12, 2014


Hanya dua bulan sebelum Piala Dunia 1958 digelar, Rachid Mekhloufi bersama sembilan pemain keturunan Aljazair memutuskan hengkang dari Prancis. Mereka menyelinap ke Swiss lalu bergabung dengan tim sepak bola bentukkan Front Pembebasan Aljazair (NFL) di Tunisia.

Mekhloufi, saat itu masih berusia 21 tahun, adalah pemain bintang yang membawa klub sepak bola Saint-Étienne empat kali juara Ligue 1 –kompetisi utama di Prancis. Ia juga membawa tim nasional Prancis menjuarai Piala Dunia Militer yang digelar di Buenos Aires, Argentina, pada 1957.

Karirnya cerah dan masa depannya cemerlang. Ia hidup serba enak di Prancis. Tapi hatinya tak tentram setiap kali mengingat Setif, kampung halamannya di Aljazair, yang terus dibombardir pesawat-pesawat Prancis.

“Saya mendapat semua kesenangan di Saint-Etienne tapi saya tidak bisa berhenti memikirkan Aljazair,” kata Mekhloufi. “Bagaimanapun saya orang Aljazair dan harus melakukan sesuatu untuk mereka.”

Aljazair saat itu sedang bergolak melawan prancis. Perang kemerdekaan bergulir sejak 1954 dan menewaskan lebih dari 1,5 juta orang. Maka, pada April 1958, Mekhloufi bersama Mustapha Zitouni –pemain bek tim nasional Prancis– dan delapan pemain lain menyusup ke Tunisia.

Mereka kemudian menyusun perlawanan. Bukan dengan senjata, melainkan dengan sepak bola. “Agar orang-orang Prancis dan dunia tahu apa yang terjadi di Aljazair dan betapa banyak korban yang telah terbunuh. Ini adalah pesan yang ingin kami sampaikan,” kata Mekhloufi.

Tim bentukkan NFL kemudian menggelar pertandingan dengan sejumlah negara, mulai dari negara-negara di Afrika Utara, Eropa Timur, hingga Asia. Mereka memainkan tak kurang dari 100 pertandingan dan mengantongi 65 kemenangan.

Eksodus para pemain ini membuat Prancis geger. Mereka mendesak FIFA –induk sepak bola dunia– melarang negara-negara bertanding dengan NFL. Tapi seruan FIFA tak banyak didengar. Ho Chi Minh, pemimpin Vitenam, bahkan mengajak mereka sarapan bersama.

Pergerakkan Mekhloufi dan kawan-kawannya tak mubazir. Aljazair mendeklarasikan kemerdekaan mereka pada Juni 1962. Mekhloufi kemudian menjadi pelatih tim nasional Aljazair dan membawa mereka untuk pertama kalinya tampil di Piala Dunia 1982.

“Mekhloufi mengubah persepsi publik di Prancis tentang perang di Aljazair, dari semula menganggap mereka sebagai teroris menjadi gerakan perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan,” kata Ben Bella, mantan pemain tengah Olympique de Marseille yang menjadi Presiden pertama Aljazair.

Eric Cantona, legenda Manchester United, mengabadikan kisah herorik ini dalam sebuah film berjudul Football Rebels. “Dia menukar karirnya untuk bergabung dengan gerakan revolusi. Dia memainkan dan menjadikan sepak bola sebagai alat propaganda. Dia simbol perjuangan.”

Tapi Mekhloufi bukan satu-satunya simbol perjuangan. Di Brasil, misalnya, ada Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira. Socrates, begitu sapaannya, adalah kapten yang memimpin tim nasional Brasil di Piala Dunia 1982.

Ia memulai karirnya di klub Corithians pada 1978. Saat itu, manajemen Corithians berlagak seperti diktator kecil: mereka menyusun peraturan tanpa meminta pendapat pemain dan mendikte apa saja tanpa bisa dibantah.

“Seolah-olah kami adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa,” kata Socrates. “Kami menginginkan segala keputusan di sini diambil berdasarkan konsultasi karena pemain bukan hanya objek.”

socratesSocrates, bersama para pemain lain, kemudian menjadikan Corithians sebagai model demokrasi. Setelah itu mereka bergerak ke luar, menentang pemerintahan militer represif yang mengambil alih pemerintah Brasil pada 1962.

Saat Corithians memenangi liga pada 1982, Socrates berinisiatif mencetak tulisan ‘Democracia’ di jersey tim. Ide yang cukup gila karena militer yang merintah Brasil saat itu cukup represif. Tapi Socrates tak gentar.

“Kemenangan politik bagi saya lebih penting daripada kemenangan ini karena sepak bola hanya berlangsung 90 menit sementara kehidupan berjalan terus,” katanya. “Harus ada yang bersuara di tengah keheningan yang mencekam.”

Socrates tak diciduk. Mungkin karena ia terlanjur dicintai publik. Selain memegang ban kapten di Corithians, ia juga menjadi kapten di tim nasional Brasil pada Piala Dunia 1982. Namanya, bersama Pele dan Zico, sangat populer.

Tiga tahun setelah kemenangan itu, pemerintahan militer tumbang. 26 tahun kemudian, Socrates meninggal. Presiden Brasil, Dilma Rousseff, menyebutnya anak emas Brasil. “Di lapangan, dia sangat jenius. Di luar lapangan, dia seperti politikus yang sangat memperhatikan negeri ini.”

Kisah perlawanan Socrates terhadap junta militer di Brasil mirip dengan keberanian Carlos Caszely melawan Jenderal Augusto Pinochet yang mengkudeta Presiden Cile, Salvador Andelle, pada 1973.

Pada Juni 1974, sebelum Carlos Caszely memimpin tim nasional Cile ke Jerman untuk berlaga di Piala Dunia, mereka dipanggil Pinochet. Memakai kacamata hitam dengan kemeja hitam yang licin, ia bermaksud menyalami para pemainnya.

“Dia mendatangai kami dengan gaya yang mirip Hitler,” kata Caszely, “Tapi saya tetap menyimpan tangan saya di belakang sehingga dia tahu saya tidak akan menyalaminya.”

Penolakan Caszely menjabat tangan Pinochet ini kemudian berbuntut panjang: ibunya ditangkap dan disiksa. “Jika ini adalah harga yang harus saya bayar untuk mengatakan tidak pada kediktatoran, maka saya akan membayarnya,” kata Caszely.

Keberaniannya ini menjadikan Caszely sebagai simbol perlawanan di Cile. Ia dicintai dan dikagumi. Satu dekade kemudian, ketika ia menggantung sepatu pada 1985, lebih dari 80 ribu orang memadati National Stadium di Kota Santiago untuk menonton laga perpisahannya.

“Apa yang dilakukannnya sederhana: hanya menolak bersalaman. Tapi dari semua orang di sini hanya dia yang berani melakukannya. Itulah yang membuat kami menghormatinya,” kata mantan tahanan Pinochet yang menghadiri laga perpisahan itu, Jorge Montealegre.

Jika Mekhloifu, Socrates, serta Caszely menjadikan sepak bola sebagai alat melawan kolonialisme dan kediktatoran, Didier Drogba melakukan sebaliknya. Dengan sepak bola, pemain depan tim nasional Pantai Gading justru menjahit kembali negerinya yang koyak dihantam perang saudara.

Pantai Gading pada 1999 adalah negeri yang suram. Pasukan pemberontak menguasai wilayah selatan dan pemerintah mengendalikan daerah utara. Tak kurang dari 3 ribu orang terbunuh akibat konflik ini.

Lalu pada Oktober 2005, Drogba untuk pertama kalinya membawa Pantai Gading melenggang ke Piala Dunia usai menekuk Sudan 3-1. Ribuan orang turun ke jalan merayakan kemenangan tersebut. Tapi, di ruang ganti, Drogba menekuk lututnya. Ia meminta semua pemain melakukan hal yang sama.

Lalu, di bawah sorotan kamera televisi, bekas pemain Chelsea ini berkata, “Saudara-saudaraku di Utara dan Selatan, kami berlutut untuk memohon agar kalian menghentikan peperangan ini. Negara hebat seperti Pantai Gading tidak boleh tenggelam selamanya dalam genangan darah.”

foto: thesoccerdesk.com

foto: thesoccerdesk.com

Kalimat mengharukan tersebut rupanya menyentuh banyak orang. Christope Diecket, anggota federasi sepak bola pantai gading, mengatakan dirinya tak bisa menahan air mata saat melihat Drogba dan para pemain berlutut di ruang ganti.

“Semua orang yang menonton tayangan itu menangis. Kami teringat pada semua orang yang telah menjadi korban peperangan ini dan menginginkan semua ini segera berakhir,” kata Diecket. Tayangan itu diputar berulang-ulang selama sebulan dan membawa efek luar biasa.

Tak lama setelah itu, pemerintah dan pasukan pemberontak meneken gencatan senjata. Dua tahun kemudian, pada Juni 2007, Drogba kembali membawa Pantai Gading menekuk Madagaskar 5-0, membuat mereka lolos ke Piala Afrika.

Pertandingan itu berlangsung di Bouke Stadium yang dikuasai pasukan pemberontak. Pada saat bersamaan, pasukan pemerintah ikut berjaga di sekitar stadium. Tapi tak ada satu peluru pun yang berdesing.

“Ini menunjukkan bahwa negeri ini telah berekonsiliasi,” kata pemimpin pasukan pemberontak Guillaume Soro yang diangkat menjadi Perdana Menteri. “Ini tidak akan pernah terjadi tanpa Drogba. Kalian mengenalnya sebagai pemain bola hebat, tapi bagi kami dia juga seorang pahlawan.”

Droba memang bukan sekedar simbol. Pemain yang kini membela klub asal Turkey, Galatasaray, itu juga sebuah keajaiban: ia menghentikan pertikaian berdarah selama lima tahun hanya dengan satu pertandingan sepak bola.

DW (Al Jazeera, ESPN, Independent)
pernah dimuat di majalah tempo edisi 2 Juni 2014

Baca Juga:
Kado Tragis Buat Moyes
Susie Wolff, Setelah Dua Dekade
Kelas Baru Ducati
Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: