Skip to content

Kado Tragis Buat Moyes

May 21, 2014

foto: bbc

foto: bbc

Jarum jam baru menunjukkan pukul 8 pagi ketika mobil Ed Woodward memasuki Carrington Training Center, pusat pelatihan sepak bola milik klub Manchester United di kota Manchester, Inggris, 22 April lalu.

Mengenakan kemaja putih yang dibalut sweater hitam, CEO Manchester United itu langsung disambut pelatih Manchester United, David Moyes, dengan wajah beku.

“Bagaimana berita ini bisa sampai ke media sementara saya sendiri sama sekali tidak diberitahu?” kata Moyes dengan nada tinggi ketika keduanya sudah duduk berhadapan.

Kabar yang dimaksud Moyes itu adalah berita pemecatan dirinya yang santer diberitakan media-media Inggris sehari sebelumnya.

Woodward meminta maaf. Ia mengatakan berita itu memang benar. Tapi ia tidak tahu siapa yang membisikkan kabar tersebut ke media sebab ia bukan satu-satunya orang dalam di United yang mengetahui informasi itu.

Moyes kemudian tak banyak bicara. Pertemuan empat mata itu berakhir 15 menit kemudian. Setelah itu, akun twitter resmi Manchester United merilis berita: David Moyes telah meninggalkan klub.

Woodward tak sedang membela diri ketika mengatakan dirinya tak tahu siapa pembisik kabar sensitif itu ke media. Sebab, selain dirinya, ada beberapa petinggi United lain yang mengantongi kabar tersebut.

Mereka yaitu David Gill, Sir Bobby Charlton dan Sir Alex Ferguson. Ketiganya mengundang Woodward untuk berkumpul beberapa jam setelah United ditekuk Everton 0-2 di Goodison Park, Ahad malam lalu. Agendanya satu: mengadili Moyes.

Kekalahan dari Everton membuat United terlempar ke peringkat 7 klasemen, membuat peluang mereka meraih satu tiket ke Liga Eropa bakal tertutup. Glazers Family, pemegang saham mayoritas di Mancheser United, pun murka.

Glazers sebelumnya menargetkan United masuk 4 besar klasemen Liga Premier sehingga bisa tampil di Liga Champions musim depan. Tapi target ini meleset. Mereka lalu menurunkan target: masuk 6 besar agar bisa meraih tiket Liga Eropa.

Target anyar ini pun terancam kandas setelah Moyes gagal memetik poin dari Everton. Glazers pun kehabisan kesabaran. Sehingga, ketika David Gill dan Sir Bobby Charlton menyimpukan Moyes tak bisa lagi diharapkan, mereka langsung merestui pemecatannya.

Ferguson, orang yang menunjuk Moyes sebagai penggantinya, tak bisa berbuat banyak. Sebab ia tahu persis krisis di United tak sekedar performa buruk Moyes, tapi juga ketidakpercayaan para pemain terhadap pelatih baru mereka.

Soal ini ia ketahui langsung dari para pemain senior yang mengetuk rumahnya di Cheshire. Daily Mail, harian di Inggris yang melaporkan pertemuan tersebut, menuliskan para pemain mendesak agar Ferguson merekomendasikan pemecatan Moyes kepada Glazers.

“Para pemain itu mengatakan kepada Ferguson bahwa mereka tidak bisa lagi bekerjasama dengan Moyes,” demikian tulis Daily Mail. “Mereka meninggalkan dua opsi untuk Ferguson: pecat Moyes atau United hancur.”

Daily Mail tak menyebutkan kapan persisnya pertemuan itu berlangsung dan siapa saja pemain yang mengetuk pintu rumah Fergie, sapaan Ferguson. Tapi itu jelas bukan sekedar rumor.

Patrice Evra dan Nemaja Vidic, misalnya, mengancam akan meninggalkan United pada bursa musim panas mendatang. “Saya mencintai tim ini tapi saya tidak bisa bermain di klub yang tidak saya percayai lagi,” kata Evra, Oktober lalu.

moyesMedia Inggris meyakini kalimat Evra itu merujuk kepada Moyes yang gagal menunjukkan performanya dalam 6 laga pertama di Liga Premier. Saat itu United ditekuk 0-1 oleh Liverpool lalu dibantai 1-4 oleh Mancheser City.

Tak hanya itu, mereka juga kalah 1-2 dari West Bromwich Albion –klub yang selama 35 tahun terakhir tak pernah menang di Old Trafford. “Kami benar-benar mengawali musim ini dengan sangat buruk,” kata Evra.

Jika Evra dan Vidic baru sebatas mengancam, maka Anderson justru sudah hengkang. Pemain gelandang ini hijrah ke Fiorentina pada bursa musim dingin Januari lalu. “Banyak yang pemain yang akan eksodus karena mereka merasa tempat ini tidak lagi menyenangkan.”

Ketidakharmonisan antara pemain dengan Moyes lebih jelas diungkapkan Rio Ferdinand. Bek berusia 35 tahun ini secara vulgar menuding Moyes sebagai perusak suana di ruang ganti pemain. “Dia selalu menunjuk siapa yang akan bermain hanya beberapa saat sebelum kick off,” kata Ferdinand. “Ini membuat kami semua gila!”

Kritikan juga datang dari pemain bintang mereka, Robin Van Persie. Bekas pemain Arsenal ini mengeluhkan strategi Moyes yang tak jelas ketika mereka dikalahkan Olympiacos dalam laga pertama babak 16 besar Liga Champions, Februari lalu.

“Beberapa pemain (United) lain sering masuk ke zona di mana seharusnya hanya saya yang berada di sana. Ini membuat saya kesulitan menjalankan peran sebagai striker,” kata Van Persie.

Hasilnya, United ditekuk 0-2. Roy Keane, legenda Manchester United, menilai kekalahan tersebut tak semata karena kekeliruan dalam menerapkan taktik, tapi juga karena kegagalan Moyes merangkul para pemain.

“Ketika para pemain tidak menunjukkan kualitas mereka yang sebenarnya di lapangan, itu hanya berarti satu hal: mereka tidak lagi bersama anda (Moyes),” kata Keane. Keane juga mengatakan kritik para pemain juga menunjukkan ketidakpercayaan mereka kepada pelatih.

Moyes, tentu saja, menangkis semua kritik yang menuding United tak kompak. Pelatih berusia 50 tahun ini selalu mengatakan hubungan antar pemain dengan dirinya baik-baik saja. “Saya tidak tahu dari mana sumbernya semua kabar buruk itu,” katanya.

Meski begitu, toh, kabar-kabar perpecahan itu terus mengalir dari kamar ganti pemain. Awal April lalu sebuah media internal yang diterbitkan pendukung United memuat kabar perceckokkan antara Ryan Giggs dan Moyes.

Giggs, pemain berusia 40 tahun yang saat itu juga merangkap sebagai asisten pelatih, dikabarkan berang karena Moyes jarang menurunkannya. Sampai akhir Maret lalu, Giggs baru tampil 11 kali!

Moyes, lagi-lagi, menampik perseteruan tersebut. Giggs pun kemudian mengatakan kabar tersebut tidak benar. Tapi gejolak terus berlanjut. Kali ini melibatkan tiga pemain: Tom Cleverley, Danny Welbeck dan Ashley Young.

Ketiganya nekat ke luar malam setelah United disingkirkan Bayern Muenchen dalam perempat final Liga Champions, 9 April lalu. Mereka berpesta di klub malam hingga pukul 3:20 pagi.

Moyes lalu mendenda mereka dan mengharuskan ketiganya berlatih di hari libur. Sanksi Moyes ini kemudian dijawab Welbeck dengan ancaman: dia akan hengkang musim panas ini.

“Ketiganya tidak akan pernah berani melanggar jam malam jika Sir Alex Ferguson masih berada di Old Trafford,” tulis situs berita olahraga Sport Mole. “Ini menunjukkan para pemain itu tidak lagi menghormati David Moyes.”

Martin Keown, mantan pemain Arsenal yang kini menjadi kolumnis, mengatakan pemain tak bisa menghormati Moyes karena bekas pelatih Everton itu tidak memiliki modal yang cukup untuk mendapatkan rasa hormat mereka.

“Moyes berada di antara para pemain yang pernah memenangi 216 trofi sementara dirinya belum pernah memenangi satu trofi pun. Jadi, kenapa para pemain itu harus menghormatinya?” tulis Keown di Daily Mail.

Karena itu, ketika para pemain bergerak menentangnya, Moyes pun tak tak bisa melawan. Nasibnya serupa dengan Andre Villa-Boas (AVB) ketika ia dipecat dari Chelsea pada 2012. Saat itu AVB hanya membawa Chelsea memenangi 3 dari 12 pertandingan pada musim 2011-2012!

John Terry, kapten Chelsea, kemudian menggulirkan mosi tidak percaya terhadap AVB. Gerakkan para pemain The Blues –julukan Chelsea– ini berhasil membuat Roman Abramovich, pemilik Chelsea, memecat AVB.

Jose Mourinho juga pernah mengalami kisah serupa ketika ia melatih Real Madrid. Mou, begitu ia disapa, mendapat perlawnan dari para pemainnya setelah ia menomor duakan Iker Casillas.

Keputusan Mou itu membuat para pemain, juga sejumlah staf di Madrid, berang. Sebab, bagi mereka, Casillas adalah pahlawan. Ia membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa dan Piala Dunia. Mou pun disisihkan para pemainnnya sendiri. Bagusnya, Mou cepat membaca situasi. Ia hengkang sebelum dipecat.

Di Carrington, jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00 ketika sebuah SUV Chevrolet Captiva perlahan keluar dari komplek seluas 59 hektar itu. David Moyes yang duduk di belakang stir tak mengucapkan satu kata pun ketika para jurnalis menghampiri kaca mobilnya.

Ia barangkali masih terkejut karena pemecatan justru terjadi hanya tiga hari sebelum ulang tahunnya. Ia akan mengingat kado ini sebagai hadiah terburuk yang mungkin pernah diterimanya. SUV hitam itu pun melaju dalam kebisuan.

_DW_ (Reuters, Daily Mail, Guardian, Telegraph, Mirror)
dimuat di majalah tempo edisi 5 mei 2014

Baca Juga
Susie Wolff, Setelah Dua Dekade
Kelas Baru Ducati
Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: