Skip to content

Ironi Pembaca Kitab di Kereta

May 12, 2014

Puluhan orang itu langsung menerjang masuk begitu pintu gerbong kereta terbuka. Seperti air bah, mereka mendorong apa saja, termasuk seorang ibu yang sedang menggendong anak.

“Sabar, Dong!” teriak seorang bapak. Ia berdiri di depan ibu tersebut, berusaha menahan dorongan penumpang lain. Tapi sia-sia. Ibu itu terdorong hingga ke tengah gerbong.

Di kereta, kejadian seperti ini hampir terjadi setiap hari. Dorong-mendorong sudah biasa. Karena itu, barangkali, seorang pemuda yang duduk di depan si ibu itu tak terusik. Ia tetap anteng membaca buku kecil.

Kereta kembali bergerak lalu berhenti lagi di stasiun berikutnya. Pintu gerbong dibuka dan gelombang ‘air bah’ datang lagi. Si ibu dan anaknya makin tergencet. Tapi pemuda itu masih duduk anteng dengan bukunya.

Saya merangsek ke pintu gerbong ketika kereta sampai di Stasiun Tanjung Barat. Saat melewati pemuda itu, saya terhenyak: ternyata buku kecil –yang masih– dibaca pemuda itu adalah Al Quran!

Kereta yang saya naiki sudah beranjak pergi. Saya masih duduk di kursi peron. Bayangan pemuda yang duduk anteng dengan Al Quran di tangan dan seorang ibu dengan anak di gendongannya yang tergencet-gencet penumpang lain masih belum bisa saya lupakan.

Jika beragama membuat kita kehilangan simpati dan empati, buat apa? Jika mengingat Tuhan membuat kita bebal terhadap penderitaan sesama, buat apa?

Saya mendadak teringat ucapan seorang teman: “Tuhan yang kamu temukan di kitab suci adalah Tuhan yang menuntut untuk dipahami. Ia menyita begitu banyak perhatianmu.”

Saya, tentu saja, tak pernah setuju dengan pendapat itu. Yang saya pahami, kedekatan kita dengan Tuhan semestinya tak membuat kita menjaga jarak dengan sesama.

Pemuda itu mungkin perlu membaca kisah Ali yang menyodorkan tangannya ketika sedang rukuk, agar pengemis yang berada di sampingnya bisa mengambil cincin dari jarinya.

Atau mungkin saya saja yang belum terbiasa dengan kehidupan di kereta.

_DW_

Baca Juga
Penghianat Takdir
Deru Buldozer di Teras Kabah
Jalan Melarat Agus Salim
Para Penjajah Akidah
Ayat-ayat Kodok
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Taraweh Nabi Adam
Banyak Berdoa, Sedikit Meminta
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

One Comment leave one →
  1. faisal permalink
    May 24, 2014 7:14 am

    Luar biasa si abang … jd “tersentak” ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: