Skip to content

Susie Wolff, Setelah Dua Dekade

April 8, 2014

Pembalap wanita kembali menjajal formula 1 setelah absen dua dekade. Adu balap bukan persoalan gender.

Wanita berambut pirang itu hanya memakai celana pendek dan jaket coklat saat datang ke garasi Tim Williams di Grove, Oxfordshire, Inggris, awal Maret lalu.

Ia memilih duduk di atas helm, melonjorkan kedua kakinya, lalu mengamati FW36 yang sedang diutak-atik seorang montir. Sesekali ia mengibaskan tangan. “Saya tidak suka bau bensin,” katanya.

Ia menjadi satu-satunya wanita di garasi Tim Williams hari itu. Tak mengherankan jika kehadirannya mengundang perhatian. Apalagi, sepatunya juga berhak tinggi.

Sekilas, penampilannya mirip grid girls –wanita seksi yang biasa mendampingi pembalap di sirkuit sesaat sebelum balapan dimulai. Tapi jangan keliru, wanita berusia 31 tahun itu tak lain Susie Wolff.

Dialah yang akan mengemudikan FW36: mobil balap formula 1 teranyar kebanggaan Tim Williams yang bisa dipacu hingga 350 km/jam hanya dalam hitungan detik!

“Selalu ada kesan wanita berambut pirang seperti saya lebih pantas berjalan di atas catwalk ketimbang menjadi pembalap,” kata Susie. “Itu wajar sih karena memang tidak banyak wanita di sini.”

Susie menjadi perhatian dunia ketika Tim Williams pada akhir Februari memasukkan namanya dalam daftar test driver yang akan mengikuti sesi latihan seri ke-9 granprix di Inggris pada 6 Juli dan seri ke-10 grandprix di Jerman pada 20 Juli.

Itu artinya, ia akan menjadi wanita pertama yang tampil secara resmi di ajang formula 1 dalam 22 tahun terakhir sejak penampilan Giovanna Amati dari Italia pada 1992.

Banyak yang menduga keputusan Tim Williams merekrut Susie karena ia adalah istri seorang petinggi di tim tersebut, Toto Wolff. Tapi tudingan ini langsung mentah saat tim menyodorkan jejak panjang Susie di trek balap.

Susie lahir di Skotlandia pada 6 Desember 1982. Ia sudah akrab dengan dunia otomotif sejak usia 2 tahun karena ayahnya seorang pecinta balap. Ia memiliki bengkel dan toko sepeda motor.

Pada usia 8 tahun, Susie kecil bahkan sudah kebut-kebutan dengan go-kart. Ia meraih sejumlah trofi di ajang itu: Junior Intercontinental dan the Scottish Open Junior Intercontinental. Ia juga menyabet gelar British Woman Kart Racing Driver of the Year pada 1997.

Pada usia 19 tahun ia direkrut Tim Formula Renault lalu loncat ke Formula Three tiga tahun kemudian. Pada 2006 Susie menjajal DTM –kejuaraan touring terbesar di Jerman. Namanya makin kinclong saat Tim Williams mengontraknya sebagai development driver pada April 2012.

Ini bukan tugas mudah. Sebab, selain harus lihai mengendalikan FW35 –harganya mencapai 150 juta pound sterling– ia juga harus bisa mendeteksi semua kekurangan mesin. Dari saran dan masukannya itulah FW35 kemudian disempurnakan menjadi FW36.

“Susie adalah bagian paling berharga dalam daftar pembalap kami,” kata Direktur Teknik Williams, Pat Symonds. Tak hanya kepekaannya pada mesin, Pat juga memuji kelihaian Susie ketika membabat sirkuit.

Ia, misalnya, hanya membutuhkan waktu 52,34 detik untuk melahap sirkuit Silverstone, Inggris, saat test drive tahun lalu. Kecepatan rata-ratanya 310 km/jam. Catatan ini juga membuat pembalap tim McLaren, Lewis Hamilton, ikut berkomentar: “Dia luar biasa.”

Tak mengherankan jika Tim William kemudian mempromosikannya dari development driver menjadi test driver musim ini. “Ini mimpi saya selama bertahun-tahun,” kata Susie. “Karena tidak mudah bagi seorang wanita untuk sampai ke tahap ini.”

susie-wolff-williams-f1-testFormula 1 sejatinya memang tidak didesain untuk wanita. Karena untuk memacu mobil berbobot 600 kilogram yang bisa menyemburkan tenaga hingga 760 tenaga kuda selama dua jam –waktu rata-rata yang dibutuhkan dalam sekali balapan– itu membutuhkan daya tahan, respon, serta konsentrasi ekstra.

Ketika melesat di sirkuit, misalnya, suhu di kokpit bisa mencapai 50 derajat celcius. Ini membuat seorang pembalap rata-rata kehilangan 2-3 liter cairan tubuh. Efeknya, mereka bisa mengalami dehidrasi dan kehilangan konsentrasi.

Pada saat bersamaan, ia juga harus memainkan tuas porsnelling. Mereka rata-rata melakukan 2.000 kali perpindahan gear di sirkuit biasa. Di sirkuit Monaco yang sempit dan penuh tikungan, perpindahan gear bahkan bisa mencapai 3.500 kali.

Selain itu hempasan angin yang menerpa wajah ketika jarum speedometer menyentuh angka 300 km/jam bisa membuat leher patah. Hentakkan angin super dahysat ini –kecepatan badai Katrina saja hanya 280 km/jam– disebut g-force.

Situs sporting99.com menyebutkan energi yang diperlukan untuk memperlambat laju mobil dari kecepatan 315 km/jam menjadi 100 km/jam dalam hitungan detik bisa membuat seekor gajah melompat hingga 10 meter ke udara!

“Dibutuhkan otot-otot yang kuat, terutama di bagian leher dan tubuh bagian atas, untuk mengendalikan mobil formula 1,” kata dokter Tim Toro Rosso dan Lotus, Riccardo Ceccarelli. Karena itulah formula 1 tak banyak dilirik wanita.

Tapi, Ceccarelli melanjutkan, bukan berarti wanita tak bisa mengendalikan mobil tersebut. Asal mau berlatih, mereka pun bisa bersaing dengan pembalap pria. “Jika wanita bisa menerbangkan jet tempur, mereka pun bisa mengendalikan formula 1.”

Dan itulah yang dilakukan Susie. Wanita berbobot 50 kilogram ini berlatih dua jam sehari. Mulai dari melempar-lempar bola seberat 6 kilogram hingga berdiri di ayunan sambil menarik beban untuk berlatih keseimbangan.

Ia juga secara khusus melatih kekuatan lehernya sehingga bagian itu tampak lebih besar dari wanita lain. “Saya baru menyadarinya saat mencoba gaun berkerah rendah,” kata Susie sambil tertawa.

Di luar sirkuit, Susie memang tak berbeda dengan wanita lain. Ia, misalnya, suka mecoba berbagai model pakaian terbaru, dari keluaran Roland Mouret hingga Emilia Wickstead. “Saya suka tampil feminim,” katanya. Majalah Vogue pun menjulukinya ‘Fast and Fabulous’.

Susie bukan satu-satunya pembalap formula 1 yang berambut pirang dan doyan berdandan. Ada wanita lain di adu cepat jet darat ini. Namanya Simona De Silvestro. Ia direkrut Tim Sauber awal Februari lalu. Namun wanita berusia 25 tahun ini baru akan turun musim depan.

Simona, seperti Susie, juga punya jejak panjang di dunia balap. Sebelum menjadi bagian Tim Sauber ia sudah malang melintang di ajang balap IndyCar Series. Bahkan, ia meraih gelar Rookie of the Year pada 2010.

Kehadiran Susie dan Simona di ajang balap formula 1 ini disambut gembira bos Tim Sauber, Monisha Kaltenborn. “Saya berharap bisa melihat lebih banyak wanita tampil di ajang ini,” kata Monisha.

Monisha sendiri adalah fenomena lain di formula 1. Wanita berdarah India namun berpaspor Austria ini menjadi CEO Tim Sauber pada April 2010 setelah memborong 33 persen saham tim tersebut.

Monisha, saat itu, mencatatkan namanya sebagai wanita pertama yang memimpin tim formula 1. Ia menulis sejarah sekaligus membuka harapan baru bagi wanita untuk tampil di ajang balap roda empat paling bergengsi tersebut.

Sebab, selain memimpin Tim Sauber, Monisha juga menjadi duta wanita untuk Fédération Internationale de l’Automobile (FIA) –badan yang membawahi kegiatan olahraga balap motor. Tugasnya mendongrak jumlah wanita di ajang balap.

Maklum, sejak digelar 64 tahun lalu, formula 1 diikuti tak kurang dari 7 wanita –termasuk Susie dan Simona. Bandingkan dengan jumlah pembalap pria yang mencapai 822 orang. “Padahal wanita memiliki potensi yang sama,” kata Monisha. “Satu-satunya yang mereka butuhkan hanya peluang.”

Tak mengherankan jika ia lalu merekrut Simona De Silvestro. Kehadiran Simona, juga Susie, setidaknya membuat formula 1 tak lagi angker untuk wanita. Sementara untuk menyaingi dominasi pria, kata Monisha, masih terlalu jauh. Lagi pula bukan itu tujuannya.

“Ketika saya masuk ke kokpit yang saya pikirkan hanya melaju secepatnya sambil menikmati lonjakan adrenalin yang terjadi di tubuh saya,” kata Susie. “Saya tidak perduli apakah di depan saya pembalap pria atau wanita.”

Ia bahkan tak meminta desain kokpit khusus untuk wanita. Karena apa yang selama ini sudah menjadi tradisi di formula 1, kata Susie, tak perlu diutak-taik, termasuk dominasi pria. Karena di sirkuit yang terpenting siapa yang paling cepat, bukan apa gendernya. “Karena di balik helm, semuanya sama.”

DW (Formula1, Telegraph, huffingtonpost, Sky Sports)
pernah dimuat di majalah tempo

Baca Juga:
Kelas Baru Ducati
Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: