Skip to content

Kelas Baru Ducati

March 23, 2014

Desmosedici GP14 yang dibesut Andrea Dovizioso melesat cepat saat menjalani tes hari ketiga di Sirkuit Sepang, Malaysia, akhir Februari lalu. Motor berkapasitas 1000cc itu mencatatkan waktu 2 menit 0.068 detik. 

“Hasil ini tidak terlalu buruk,” kata Dovizioso. “Tapi saya masih membutuhkan penyesuaian, terutama di bagian ECU (electronic control unit) yang saya rasa tidak sedahsyat punya kami. Masih ada beberapa hal yang harus kami lakukan.”

Catatan waktu 2 menit 0.068 detik itu memang tidak terlalu buruk, bahkan sangat baik. Sebab hanya Dani Pedrosa dari Tim Repsol Honda dan Valentino Rossi dari Tim Moviestar Yamaha yang bisa menyalipnya. 

Apalagi, Davizioso hanya menggunakan motor berspek ‘open class’. Tak mengherankan jika General Manajer Tim Ducati, Luigi Dall’Igna, menyambut gembira catatan waktu tersebut.

“Kami telah mencapai kemajuan yang sangat pesat,” kata Luigi Dall’Igna. “Kami juga telah mempelajari regulasi untuk musim ini dan kami menyimpulkan open class merupakan opsi yang paling menarik bagi Ducati.”

Open Class, bersama Factory Class, memang ‘mahluk’ baru yang diciptakan Dorna Sports–penyelenggara MotoGP– untuk musim ini. Setiap peserta adu jet balap ini diharuskan memilih salah satu dari dua kategori tersebut.

Factory class gampangnya bisa diartikan tim pabrikan. Sementara open class bisa diterjemahkan tim-tim independen yang tidak terikat pada pabrikan tertentu. 

Hanya ada dua tim yang memilih factory class, yakni Tim Repsol Honda dan Movistar Yamaha. Maklum, kedua tim ini memang disokong penuh pabrikan Honda dan Yamaha.

Ducati sejatinya masuk kategori factory class namun mereka memilih masuk open class karena sejumlah pertimbangan, antara lain karena tim open class bisa mengganti mesin hingga 12 kali semusim. Sementara tim di factory class hanya diizinkan 5 kali.

Kelima mesin tim factory class itu harus diserahkan ke panitia untuk disegel, sehingga tidak memungkinkan untuk mengembangkannya lagi selama musim balapan –karena memang tidak boleh. Sementara tim-tim open class bebas mengembangkan mesin selama musim balapan berlangsung.

Tak mengherankan jika Ducati hijrah ke open class. Sebab, tim asal Italia ini tak akan mampu bersaing dengan Yamaha dan Honda jika tetap keukeuh di factory class. Mesin mereka, seperti bisa dilihat musim lalu, kalah superior dibanding duo Jepang itu. 

“Kami harus terus mengembangkan mesin untuk menempel Honda dan Yamaha,” kata Luigi Dall’Igna. “Ini tidak bisa kami lakukan jika memilih factory class karena di sana kami hanya boleh menggunakan 5 mesin dan tidak boleh diutak-atik lagi.”

Di open class, Ducati bergabung dengan tim lain seperti NGM Forward Racing (Colin Edwards dan Aleix Esperago), Drive M7 Aspar (Nicky Hayden dan Hiroshi Aoyama), dan Go&Fun Honda Gresini (Scott Redding).

Selain kuota mesin, perbedaan paling mencolok antara factory class dan open class adalah ECU –perangkat elektronik yang berfungsi mengontrol mesin, mulai dari injeksi bahan bakar, waktu pengapian, hingga buka tutup katup. Jika motor MotoGP diibaratkan komputer, maka ECU adalah prosesornya. 

Nah, mulai musim ini, Dorna mewajibkan semua tim, baik tim factory class maupun open class, menggunakan ECU buatan produsen Italia: Magneti Marelli. 

Bedanya, tim-tim di open class mendapat pasokan ECU plus datalogger, paket sensor, dan perangkat lunaknya. Tapi, mereka tidak boleh mengutak-atik settingan ECU tersebut. Sementara tim-tim factory class diperbolehkan.

Itu sebabnya Andrea Dovizioso kikuk saat membesut motornya. Karena ECU yang menempel di kuda besinya itu settingan Magneti Marelli yang tak boleh diutak-atik –karena Ducati memilih open class. 

Berbeda dengan Valentino Rossi dan Dani Pedrosa. Kedua pembalap itu tak canggung dengan ECU Magneti Marelli karena tim balap mereka boleh menyetting ECU tersebut sesuai karakter balap dan kebutuhan trek –karena tim keduanya memilih Factory Class.

Catatan waktu yang mepet antara Rossi, Pedrosa, dan Davizioso di uji coba hari terakhir di Sepang itu membuat Dorna tersenyum puas. Sebab, jika tim dari open class bisa menempel tim factory class, meski dengan perlakuan ECU yang berbeda, maka persaingan di MotoGP bakal lebih kompetitif. 

Selama ini, adu balap motor paling bergengsi ini terasa monoton karena podium hanya dikuasai Honda dan Yamaha. Bahkan Ducati yang kala itu masih jadi tim pabrikan pun tak pernah menang sejak akhir 2010. Selain kompetitif, regulasi anyar ini juga dimaksudkan untuk memangkas biaya pengembangan motor.

Pengembangan ECU selama ini dinilai sebagai faktor yang sangat menguras biaya. Pengembangan perangkat elektronik ini bisa menghabiskan dana jutaan dolar. Honda, misalnya, menurut situs motomatters, menghabiskan dana sekitar 4,5 juta euro untuk meriset mesin mereka: RC213V. 

Bandingkan dengan tim-tim non pabrikan yang rata-rata hanya menghabiskan dana 1 juta euro per musim. “Dengan dana yang dimiliki Honda, tim-tim non pabrikan bisa mengembangkan mesin, membayar pembalap, dan menggaji mekanik selama setahun,” tulis motomatters.

Bujet melipah itu membuat tim Honda dan Yamaha selalu ngacir di depan. Sementara tim-tim non pabrikan yang berdana pas-pasan megap-megap di belakang karena tak cukup dana untuk melakukan riset. 

Penyeragaman ECU –mulai 2016 tim factory dan open class akan menggunakan settingan ECU yang sama– maka gap tim pabrikan dengan open class bisa dipangkas.

Tapi manager team Repsol Honda, Livio Suppo, tak sependapat. Menurutnya, keleluasaan tim-tim open class untuk mengembangkan dan mengganti mesin hingga 12 kali selama semusim justru membuat bujet mereka membengkak.

“Jika tim open class menyiapkan 12 mesin, melakukan lebih banyak tes, mengangkut lebih banyak bensin, saya rasa mereka tidak akan lebih murah dari tim factory class,” kata Livio Suppo. “Padahal ide open class adalah untuk menghadirkan balapan yang lebih murah.”

Tim Repsol Honda memang tak begitu sreg dengan regulasi anyar ini, terutama penyeragaman ECU. Bahkan mereka mengancam akan hengkang dari MotoGP jika rencana penyeragaman ECU dan perangkat lunaknya benar-benar diberlakukan akhir 2016 nanti.

“Posisi kami sangat jelas. Honda ikut serta di kejuaraan ini karena kami tertarik mengembangkan mesin. Jika kami tidak bisa lagi mengembangkan mesin di sini, maka kami tidak akan melanjutkan balapan,” kata Wakil Presiden Honda Racing Corporation (HRC), Shuhei Nakamoto.

Di manapun, peraturan memang tak bisa menyenangkan semua orang. Jika Honda merasa dirugikan, maka Ducati justru mendapat untung. Tapi, adu jet darat ini baru akan dimulai malam ini di Losail, Qatar. Mari kita nikmati itu dulu.

MOTOGP | MOTORCYCLE | REUTERS | CRASHNET | DW

Baca Juga:
Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: