Skip to content

Mengejar Mimpi Hingga ke Sochi

February 28, 2014

foto: globalnation.inquirer.ne

foto: globalnation.inquirer.ne

Michael Christian Martinez asik meliuk-liukkan tubuhnya di atas lapangan es di Iceberg Skating Palace, Sochi, Rusia, Kamis dua pekan lalu. Tubuhnya yang dibalut kostum hitam-hitam meluncur bersama lantunan lagu A Time for Us yang pernah dijadikan soundtrack film Romeo and Juliet.

Beberapa kali pemuda berusia 17 tahun itu melompat sambil memilin-milin tubuhnya. Ia juga memutar-mutar tubuhnya hanya dengan berporos pada satu kaki. Keluwesan, keanggunan, serta ketenangannya sungguh mengagumkan.

“Itu adalah triple axel pertama yang pernah dilakukan orang Filipina di Olimpiade,” puji seorang komentator wanita dari saluran televisi nasional Rusia, TV Rossiya 2. “Saya tahu ia sangat bagus tapi tidak menyangka sebagus ini. Debut yang luar biasa!”

Triple axel adalah aksi melompat di atas lapangan es sambil tiga kali memilin tubuh. Butuh kecepatan meluncur, putaran tubuh, serta pendaratan yang tepat untuk bisa melakukan akrobat ini. Sebab, meleset sedikit saja, tubuh bisa jatuh tersungkur di lapangan es.

Tak mengherankan jika penampilan Martinez dalam putaran final kejuaraan figure skating di Olimpiade musim dingin ke-22 itu begitu menyihir. Apalagi, pemuda kelahiran 4 November 1996 itu berasal dari Filipina, negara tropis yang tak pernah mengenal musim dingin!

Sayangnya, Martinez gagal merebut medali. Panel juri hanya memberinya skor 64.81 poin. Ponten ini membuat atlet yang lahir di Kota Parañaque, Filipina, ini hanya menempati keringkat ke-19 dari 30 peserta. Meski begitu, toh, Martinez tetap sumringah.

“Saya sudah merasa seperti juara,” katanya. “Bisa menembus Olimpiade musim dingin adalah kemenangan tersendiri bagi saya.” Selain itu, Martinez juga mencatatkan namanya sebagai ice skater pertama dari Asia Tenggara yang tampil di Olimpiade musim dingin.

Jalan yang ditempuh pengagum Manny Pacquiao menuju Sochi ini cukup berliku. Sejak kecil Martinez, misalnya, mengidap asma. Ini membuatnya tak bisa melakukan banyak aktivitas di luar ruangan. “Asma selalu datang menyerang saya,” keluh Martinez.

Pada usia 9 tahun, ibunya, Maria Teresa Martinez, mengajaknya ke SM Southmall, pusat perbelanjaan yang memiliki fasiltias ice skating, di Manila. Martinez kecil terpukau saat melihat para skater melompat dan berputar-putar di lapangan es. “Saya lalu mencobanya dan ketagihan.”

Setiap pekan, bersama ibunya, ia berlatih 6-7 jam di lapangan es tersebut. Martinez tak hanya belajar meluncur. Ia juga mempelajari trik-trik melompat dan mencoba berbagai gaya berputar. Semua itu ia pelajari dari rekaman viedeo skater Kanada, Patrick Chan, melalui youtube. Selain harus melawan hawa dingin yang merambat dari lapangan es, ia juga harus melawan asmanya.

Tak puas belajar hanya dari Youtube, Martinez kemudian terbang ke California pada 2010. Di sana ia berguru pada peraih medali emas Olimpiade 1998, Ilia Kulik. Ia juga mendapat bimbingan dari skater Inggris bernama John Allen Wisden Nicks.

Di bawah asuhan dua skater veteran ini, bakat Martinez mulai terasah. Perjuangannya tak sia-sia. Ia meraih medali emas saat turun di kejuaran Crystal Skate di Romania pada 2012. Ini adalah kejuaraan internasional untuk dewasa. Sementara usia Martinez ketika itu baru 16 tahun.

Setahun kemudian, ia turun di kejuaraan Nebelhorn Thropy dan meraih peringkat ke-7 di nomor tunggal putra dengan poin 189.46. Hasil ini membuatnya berhak atas tiket ke Olimpiade musim dingin di Sochi yang digelar 7-23 Februari .

Semua latihan dan kompetisi itu, tentu saja, tak gratis. Maria Teresa mengatakan keluarganya harus pontang-panting mencari sponsor. Ini bukan pekerjaan mudah karena di negara tropis seperti Filipina, skating bukanlah olahraga populer. “Saya sempat menggadaikan rumah,” kata Maria.

Federasi Skating Philipina (Philippine Skating Union) pernah meminta bantuan dari pemerintah sebesar US$ 7.200 untuk membiayai latihan dan perjalanan Martinez. Namun dana itu baru cair pada Desember 2013, setelah Martinez memastikan tampil di Olimpiade Sochi.

“Untuk seseorang yang berlatih skating di Filipina yang bersuhu panas, prestasi Martinez ini adalah keajaiban,” kata Ketua Komisi Olahraga Filipina, Ricardo Garcia. Martinez, setengah menyindir, menjawab, “Olimipade mendatang saya akan meraih medali, jika mendapat sokongan dana sejak awal.”

Kehadiran Martinez di Sochi memang menjadi keunikan tersendiri. Ada 15 negara bersuhu hangat dari total 88 negara yang berlaga di Sochi. Mereka yaitu Togo, Zimbabwe, British Virgin Islands, Cayman Islands, Dominica, Jamaica, Puerto Rico, Virgin Islands, Brasil, Paraguay, Thailand, Peru, Venezuela, Tonga, dan Timor Leste.

Tapi, tak seperti Martinez yang putra “asli” Filipina, kebanyakan atlet dari negara-negara tanpa musim dingin itu adalah pemain cabutan. Lihat saja dua atlet yang dikirim Togo: Alessia Afi Dipol dan Mathilde Amivi Petitjean. Afi Dipol adalah pemain ski slalom berdarah Italia yang dinaturalisasi.

Sementara Mathilde yang turun di nomor cross-country hanya menumpang lahir di Togo. Ia diboyong orang tuanya ke Prancis saat usianya belum lima tahun. Mathilde sering mengikuti kejuaraan junior ski di Prancis namun baru Mei tahun lalu pemerintah Togo menemukannya secara tak sengaja di Facebook.

Pemain cabutan lainnya adalah Yohan Goutt Goncalves. Yohan adalah skater slalom kelahiran Prancis namun memegang paspor Timor Leste karena ibunya berasal dari negara itu. Yohan hanya setahun sekali mengunjungi Timor Leste. “Ibu saya membesarkan saya dengan cara Timor,” kata Goncalves.

Utusan negara tropis lainnya adalah Vanesa Mae dari Thailand. Seperti ketiga atlet sebelumnya, pemain violin yang ternyata hobi meluncur di pegunungan Zematt, Swiss, ini juga tak 100% asli Thailand. Darah Thailand hanya menetes dari ayahnya karena ibunya berdarah Cina.

Orang tuanya kemudian bercerai. Ibunya menikah lagi dengan seorang warga Inggris dan membawa Vanesa ke Inggris. Meski begitu, ia tetap memegang paspor Thailand. “Saya ingin bertanding atas nama Thailand karena ada bagian dari saya yang belum pernah saya rayakan – menjadi seorang Thai,” katanya.

Jalan pintas menuju Sochi juga diambil Dominica. Mereka mengirim Gary dan Angelica di Silvestri untuk turun di nomor cross-country beregu. Gary dan Angelica adalah pasangan suami istri yang datang dari New York untuk aksi sosial di Dominica.

Suami-istri itu juga mendirikan Federasi Ski Dominica pada 2013. Sebagai gantinya, pemerintah Dominica memberikan mereka kewarganegaraan dan mengijinkan keduanya tampil di Sochi. Keduanya kemudian menjadi pasangan suami-istri pertama yang pernah tampil bareng di Olimpiade musim dingin.

Pemain cabutan lainnya datang dari Paraguay. Ia bernama Julia Marino. Julia lahir di Paraguay namun diadopsi oleh keluarga Amerika sebelum usianya genap setahun. Bahkan atlet ski yang turun di nomor free style ini masih membela Amerika Serikat dalam kejuaran dunia ski tahun lalu.

brojackson.com

brojackson.com


Jalan terjal Martinez menuju Sochi barangkali hanya bisa ditandingi oleh Tim Bobsleigh atau kereta luncur es dari Jamaika. Tim ini terdiri dari Wayne Blackwood, Winston Watts, dan Marvin Dixon. Ketiganya harus berlatih di Evanston, Wyoming, sudut pedesaan di negara bagian Amerika, karena di Jamaika tak ada salju.

Untuk membiayai latihan, ketiganya aktif mencari dukungan dana lewat internet. Mereka berhasil mengumpulkan US$ 180 ribu atau setara dengan Rp 1,2 miliar. Keringat mereka tak menetes sia-sia, karena 17 hari sebelum Olimpiade digelar, mereka lolos ke Olimpiade.

“Kami bersama-sama mengumpulkan setiap sen untuk membiayai semua ini. Saya tak percaya kami akhirnya bisa kembali ke Olimpiade musim dingin. Ini benar-benar terjadi,” kata Winston Watts.

Ini menjadi pernampilan pertama Tim Bobsleigh Jamaika di Olimpiade musim dingin setelah hampir satu dekade mereka absen. Sebelumnya, Tim Bobsleigh Jamaika pernah mengejutkan saat mereka lolos ke Olimpiade Calgary pada 1988. Kisah ajaib mereka kemudian difilmkan dengan judul Cool Runnings.

“Film itu sangat bagus untuk generasi kedua, ketiga, dan seterusnya bagi Tim Bobsleigh Jamaika,” kata Watts. “Saya sampai hari ini masih suka menontonnya karena film itu selalu menjadi inspirasi bagi tim kami.”

Tak mengherankan jika Watts dan kedua rekannya kemudian sepakat menamai tim mereka ‘Cool Runnings, The Second Generation.’ Slogan mereka: Terkeren di Es. Penampilan mereka, meski belum mendapat medali, layaknya sekuel kedua film Cool Runnings. Benar-benar keren.

Lagu A Time for Us yang mengalun di Iceberg Skating Palace sudah melewati not akhir ketika sebuah pesan muncul di lini masa twitter Martinez. “Medali sebenarnya adalah hati para penduduk negeri ini. Kamu telah memenangkannya untuk kami,” tulis director film dan televisi di Filipina, Jose Javier Reyes. “Kamu adalah inspirasi.”

Kisah para atlet dari negara tropis, terutama Martinez dan Tim Bobsled Jamaica, memang menjadi inspirasi tak hanya bagi negara mereka, tapi juga bagi negara-negara tropis lainnya: bahwa Olimpiade musim dingin bukan semata monopoli negara-negara bersalju..

(REUTERS | BBC | PHILSTAR | NEW YORK TIMES)

*pernah dimuat di majalah tempo

Baca Juga:
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: