Skip to content

Penghianat Takdir

January 27, 2014
tags: , ,

ilustrasi: kevinnowlan.blogspot.com

ilustrasi: kevinnowlan.blogspot.com

Suatu malam seorang Kyai memberi wejangan kepada santri-santrinya. “Apapun yang terjadi itu sudah ditetapkan oleh-Nya. Kaya, miskin, susah, maupun senang itu sudah ada garisnya. Namanya takdir,” kata Kyai itu. “Karena itu kita harus ikhlas menerima semua ketetapan itu.”

Seorang santri tiba-tiba memotong, “Apa kita tidak ada pilihan lain selain ikhlas menerima semua ketetapan itu, Kyai?” Kyai itu menggeleng.

Tiga hari kemudian seorang wanita mendatangi pesantren milik Kyai tersebut. Ia pemilik yayasan yatim piatu yang sedang mencari donatur. Kyai itu pun dengan sigap mengumpulkan para santrinya.

“Anak-anak,” kata Sang Kyai. “Ibu ini adalah pengasuh anak-anak yatim yang sedang membutuhkan bantuan. Jika di antara kalian ada yang punya rejeki, silahkan disumbangkan sedikit.”

Santri yang kemarin memotong ucapan Kyai tiba-tiba mengacungkan tangan. Setelah diberi izin berbicara, ia berkata, “Maaf Kyai, jika saya memberi bantuan, itu berarti saya melawan Tuhan.”

Kyai itu mengerutkan kening. “Apa maksudnya?”

“Kemarin Kyai bilang segala kesulitan, kesusahan, kemiskinan itu sudah ditetapkan Tuhan. Jadi, jika saya membantu mereka, itu berarti saya melawan ketetapan-Nya.”

Kali ini tak hanya kening Kyai itu yang berkerut. Tapi kedua matanya juga seperti akan melompat ke luar.

“Kalau Tuhan pengin mereka susah, kita tak boleh membantu mereka, karena itu berarti kita melawan kehendak-Nya. Seperti wejangan Kyai kemarin, mereka tak punya pilihan kecuali harus ikhlas menjalani kesulitan mereka. Karena itulah takdir mereka. Satu-satunya bantuan yang bisa kita berikan adalah menasihati mereka agar tetap ikhlas menjalani takdir.”

Kyai itu mendadak histeris. “Bukan, bukan itu tafsir takdir,” serunya.

“Ini memang bukan tafsir, Kyai. Ini hanya konsekuensi yang harus kita jalani jika kita meyakini segala sesuatu telah digariskan Tuhan.”

Kyai itu melonjak. Kepalanya mendadak terasa begitu pening. Ia mencoba bediri tapi terhuyung nyaris jatuh. Beberapa santri kemudian memapahnya masuk ke kamar.

Malam itu, santri itu menulis: keyakinan kita bahwa Tuhan telah menggariskan segala sesuatu tak hanya melukai keadilan Tuhan, tapi juga mencederai kemanusiaan.

_DW_

Baca juga:
Deru Buldozer di Teras Kabah
Jalan Melarat Agus Salim
Para Penjajah Akidah
Ayat-ayat Kodok
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Taraweh Nabi Adam
Banyak Berdoa, Sedikit Meminta
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: