Skip to content

Pria Misterius Bertopi Baseball

January 2, 2014

myanmar2Pria bertopi baseball itu, saya taksir berusia sekitar 25 tahun, duduk mengamati kami dari trotoar jalan. Setiap kali tatapan kami bertemu, setiap itu pula ia langsung membuang muka. Benar-benar mencurigakan.

Saya tahu, tak baik berburuk sangka. Tapi saya punya banyak alasan untuk curiga. Pertama, karena kami berada di sebuah jalan di Nay Pyi Taw, ibu kota Myanmar, yang bahkan nama jalannya tak bisa saya baca –karena ditulis menggunakan aksara burma.

Kedua, saat ini sudah pukul 20:30 dan kondisi jalan gelap dan sepi. Ketiga, saya sudah sangat kelelahan setelah seharian meliput pertandingan plus upacara pembukaan Sea Games di Wunna Theikdi Sports Stadium.

Sehingga, seandainya pria bertopi baseball itu berbuat jahat, tenaga saya tak akan cukup untuk melawan. Saya pun tak bisa ilmu beladiri. Untungnya, saya tak sendiri. Ada tiga wartawan Indonesia bersama saya.

Wartawan pertama berusia 45 tahun, wartawan kedua 60 tahun, dan wartawan ketiga adalah wanita. Meski tenaga mereka tak bisa diandalkan jika terjadi ‘apa-apa’, keberadaan mereka tetap penting. Karena, setidaknya, kami menang jumlah.

Kami terdampar di pinggir jalan di luar komplek Wunna Theikdi ini karena tak ada shuttle bus yang beroperasi. Semua bus itu dialihkan untuk mengangkut peserta upacara pembukaan Sea Games. Padahal, shuttle bus itulah satu-satunya transportasi menuju hotel.

Kami pun mencari tumpangan dengan mengacungkan jempol ke satu-dua kendaraan yang melintas. Beberapa teman saya pernah mencoba cara koboi ini dan berhasil. Tapi tak banyak mobil lewat depan wunna theikdi stadium.

Setelah hampir 30 menit menanti di bawah tatapan misterius pria bertopi baseball itu, seorang polisi lalu lintas menghampiri kami. “Block..block,” kata polisi itu sambil sambil menunjuk-nunjuk jalan.

Dari bahasa tarzannya kemudian kami tahu jika jalan itu sedang diblok karena ada pembukaan acara sea games. pantes saja tak banyak kendaraan melintas. “Oh My God pantesan ga ada mobil,” kata wartawan wanita sambil menepuk jidatnya.

Polisi itu kemudian mengecek satu per satu ID Card kami lalu menunjuk ruas jalan lain di belakang kami –jaraknya sekitar 400 meter– sambil berkata, “Not block..not block.”

Kami cukup paham. Artinya kami harus menunggu bus di jalan itu karena ruas jalan di sana tak sedang dialihkan. Setelah mengucap terimakasih, kami pun bergeser ke jalan itu.

Pria bertopi baseball itu mendadak bangkit. Seorang temannya muncul entah dari mana. Keduanya menghampiri kami. “Kamu mau ke mana?” kata pria bertopi baseball itu. Ternyata dia bisa berbicara.

Saya berusaha menekan rasa takut sambil menjelaskan tujuan kami. Ia menganggukkan kepala dan mengikuti kami sampai ke ruas jalan yang kami tuju. Di sana ia berbicara dengan temannya kemudian menghampiri kami lagi.

“Teman saya membawa mobil, dia mau mengantar kalian,” katanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah. “Mari ikut saya ke mobil. Ini gratis.”

Kami berempat sempat berpandangan sebelum mengikuti langkahnya. Mobilnya mirip Suzuki Ertiga namun bermerek Toyota. Saya tak pernah melihat mobil seperti ini di Indonesia.

Tanpa banyak bicara, kami pun masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan pria bertopi baseball itu mengatakan dirinya datang bersama temannya dari Mandalay untuk melihat upacara pembukaan yang, menurutnya, sangat fantastis.

Saya tak begitu fokus pada obrolan karena sibuk mengamati jalan yang begitu lebar dan gelap. Saya tak pernah lewat rute ini jika ke hotel dari stadion atau sebaliknya. Tapi kecurigaan tambahan ini buyar ketika kami akhirnya tiba di jalan raya di depan hotel.

Kedua pria tak dikenal itu bahkan mengantar kami sampai pintu lobi hotel. Mendadak saya merasakan penyesalan yang teramat dalam karena telah berburuk sangka padanya.

Saya menduga, sejak semula ia ingin mengantar kami, namun tak bergitu percaya diri dengan bahasa Inggrisnya sehingga menunggu temannya. Karena itulah ia menunggu kami di trotoar.

Kami mengucapkan banyak sekali terimakasih kepada kedua pria itu. Teman-teman liputan saya di Sea Games ini selalu mengatakan orang Myanmar sangat baik. Malam ini saya membuktikannya…

Di lobi hotel, teman saya mendadak menghentikan langkahnya sambil menengok ke belakang. “Tadi siapa nama orang itu ya?” katanya. Kami saling bertatapan. Tak seorang pun dari kami sempat menanyakan nama kedua pemuda itu…

DW
12/12/13

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: