Skip to content

Bayi Alien Pencetak Rekor MotoGP

November 27, 2013

Marc Marquez memecahkan rekor juara dunia termuda di MotoGP. Bermodal jurus siku menempel aspal.
marquezAngka di speedometer digital RC213V yang dipacu Marc Marquez masih anteng di atas 100 kilometer per jam ketika pembalap asal Spanyol itu merebahkan motornya di salah satu tikungan di Sirkuit Ricardo Tomo, Valencia, tiga pekan lalu.

Biasanya, pembalap akan menurunkan porsneling sebelum melibas tikungan untuk mendapatkan efek engine break –pengereman dengan memanfaatkan kekuatan mesin. Setelah itu baru menekuk motornya hingga mencapai sudut kemiringan 63-64 derajat.

Tapi Marquez melibas tikungan tanpa menurunkan porsneling. Lebih mengherankan lagi, ia merebahkan motornya lebih rendah dari pembalap lain hingga sikutnya menempel di aspal!

“Dia selalu menikung dengan porsneling tinggi,” kata juara dunia MotoGP 7 kali, Valentino Rossi. Pembalap asal Italia ini beberapa kali membuntuti Marquez musim ini. “Gaya balapnya sungguh aneh.”

Rossi tahu persis, gaya balap Marquez yang nyeleneh itu bukan untuk gaya-gayaan. Tehnik menikung dengan porsneling tinggi membuat motor Marquez meluncur lebih cepat karena tak terjadi efek engine break.

Dengan tehnik ini, putaran mesin tetap terjaga sehingga Marquez bisa lebih cepat membetot gas setelah melibas tikungan –karena tak harus mengoper gigi lagi.

Sementara menempelkan siku ke aspal adalah cara agar motor bisa rebah semiring mungkin. Tehnik ini membuat RC123V tunggangan Marquez ‘lengket’ di sisi dalam tikungan.

Dengan tingkat kemiringan yang ekstrim, bahkan hingga sikunya menyentuh aspal, Marquez bisa lebih mulus melahap tikungan sehingga bisa lebih cepat menegakkan motornya lagi sebelum tikungan habis.

Menegakkan motor perlu dilakukan sesegera mungkin agar bisa kembali mendapatkan traksi maksimum. Tak mengherankan jika Marquez sudah melejit ketika pembalap lain masih rebah di aspal.

Tehnik menikung lebih rendah dan menegakkan motor lebih cepat –sambil menjaga putaran mesin tetap tinggi– yang diperagakan Marquez membuat Rossi mengacungkan dua jempolnya.

“Marc (Marquez) memiliki gaya balap yang agresif sementara gaya saya dan (Jorge) Lorenzo lebih klasik. Tehnik menikungnya membuat Marc menciptakan race line (jalur balap yang biasanya tersedia di setiap sirkuit) sendiri,” kata Rossi.

Rossi pun secara jembar mengakui gaya balap Marquez lebih canggih darinya. “Tehnik yang ditunjukkan Marquez itu versi yang sudah upgrade. Mungkin dia model terbaru dari gaya balapku.”

Jurus melibas tikungan dengan siku menempel di aspal sejatinya bukan gaya baru. Pembalap asal Amerika Serikat, Kevin Schwantz, pernah melakukannya pada era 90-an.

Schwantz ketika itu membuat orang terbelalak saat melihat sikunya terseret di atas aspal. “Saya masih ingat saat pertama kali melakukannya, itu sangat mengerikan,” kata Schwantz. “Tapi dia (Marquez) lebih gila dari saya.”

Saat itu, dengan tehnik siku menyentuh aspalnya, Schwantz berhasil menggondol gelar juara dunia kelas 500cc pada 1993. Generasi berikutnya yang mewarisi jurus siku tersebut adalah Casey Stoner dan Ben Spies.

Namun, dibanding dua pembalap ini, Marquez jauh lebih agresif. Ini diakui rival utamanya dari Tim Yamaha Factory Racing, Jorge Lorenzo. “Perbedaan antara Stoner dan Marquez adalah Marc tidak pernah menyerah,” kata Lorenzo. “Saya selalu wawas setiap kali di depannya.”

Baby Alien –julukan Marquez– sendiri mengatakan tak mempelajari secara khusus tehnik menempelkan siku ke aspal. “Saya tidak tahu,” katanya. “Saya hanya menyukai setiap kali siku saya menyentuh aspal karena itu membuat saya menikung lebih rendah.”

Jurus siku di atas aspal itu bukan tanpa resiko. Menikung dengan porsneling tinggi dengan kemiringan ekstrem bisa berakibat fatal: terseret motor hingga ke luar lintasan. Tehnik ini pernah membuat Marquez jatuh hingga 10 kali.

Sebab, mengendalikan motor yang bobotnya hampir 3 kali lipat dari berat tubuh bukan perkara mudah. Apalagi jika motor tersebut melaju hingga 100 kilometer per jam, di tikungan pula.

Sedikit saja telat melepas gas atau terlalu dalam menekan rem atau telat menggeser tubuh, motor bisa oleng. Butuh keseimbangan, tehnik tinggi, serta –ini yang mulai jarang terlihat di MotoGP– kenekatan.

Tak mengherankan jika Marquez sering menyenggol pembalap lain. Ia, misalnya, pernah menyenggol rekan setimnya sendiri, Daniel Pedrosa, pada balapan di Aragon, 4 Oktober 2013. Senggolan ini membuat pedrosa terlempar dari motornya. “Ia merusak sensor kontrol traksi,” keluh Pedrosa.

Jorge-Lorenzo-Marc-MarquezDua pekan kemudian giliran Lorenzo disenggol di Phillip Island. usai balapan, meski tak sampai jatuh, Lorenzo pun meringis. “Dia terlalu agresif. Ini tidak baik bagi dia sendiri dan bagi pembalap lain.”

Lorenzo mengingatkan Marquez akan tragedi yang menimpa Marco Simoncelli, pembalap asal Italia yang meninggal setelah jatuh di Sirkuit Sepang, 23 Oktober 2011.

Bahkan, kritik juga disampaikan Livio Suppo, bos Marquez di Tim Repsol Honda. Livio berang melihat Marquez yang terlalu pecicilan di sirkuit. “Kami memintanya mengubah gaya balapnya karena tidak ingin insiden Pedrosa terulang lagi.”

Marquez pun menemui Livio Suppo. Keduanya berbicara empat mata. Namun Marc ternyata tak menggubris saran Livio. “Semua komentar ini tak akan mempengaruhi gaya balap saya.”

Keputusan Marquez untuk tetap memainkan jurus siku di atas aspal disambut tepuk tangan media. Sebab, setelah Simoncelli tewas, Casey Stoner mengundurkan diri, serta Rossi terpuruk di ‘papan tengah’, MotoGP terasa membosankan.

Tak ada aksi-aksi nekat yang mengejutkan ala Simoncelli. Juga tak ada lagi kegilaan ala Stoner yang nekat menyalip lawan dari celah sempit di sisi dalam tikungan. Tanpa keduanya, MotoGP seperti laga sepak bola tanpa gol!

“Setelah kepergian keduanya, MotoGP kehilangan daya tarik sehingga membutuhkan seorang pembalap yang bisa membuat balapan terasa lebih greget,” tulis harian Bleachrreport. “Marc adalah orangnya!”

Bleachrreport menilai, meski nekat seperti Simoncelli, namun Marquez memiliki kalkulasi yang rigit ala Stoner. Dan meski penuh perhitungan ala Stoner, Marc memiliki kenekatan ala Simoncelli.

Marquez adalah gabungan keduanya. Karenanya ia begitu memikat. Selain itu, filosofi Marquez juga mirip Rossi yang tak cuma mengejar kemenangan, tapi juga menyajikan balapan atraktif yang seru dan menghibur.

Keputusan Marquez untuk tak mengubah gaya balapnya berbuah manis. Ahad pekan lalu, setelah finis di belakang Lorenzo dan Daniel Pedrosa di Sirkuit Ricardo Tomo, Marquez menasbihkan dirinya sebagai juara dunia MotoGP 2013.

Sebab, meski finis urutan ketiga, total poin Marquez mengungguli Lorenzo dan Pedrosa. Marquez mengoleksi 334 poin setelah 16 kali naik podium –6 di antaranya podium pertama– dari 18 seri balapan musim ini.

Sementara Lorenzo menjadi runner-up dengan selisih empat angka lebih sedikit dari Marquez. Adapun Daniel Pedrosa mengakhiri musim ini di peringkat ketiga dengan 300 poin, disusul Rossi dengan 237 poin.

Tak sekedar menyabet gelar juara dunia, Marquez juga menorehkan sejarah baru dalam dunia MotoGP: menjadi juara dunia termuda sejak ajang adu jet balap roda dua ini digelar.

Rekor tersebut sebelumnya dipegang Freddie Spencer yang meraih gelar juara dunia 1983 di kelas 500 cc ketika berumur 21 tahun 258 hari. Sementara Marquez mencetaknya pada usia 20 tahun 266.

Freddie Spencer, alih-alih kecewa rekornya dipatahkan, justru memuji Marquez. “Dia masih sangat muda tapi sangat luar biasa. Marquez telah menunjukkan keberanian dan bakatnya yang hebat.”

Marquez memang luar biasa. Sebab rekor tersebut ia cetak di musim pertamanya. Hanya Kenny Robert –pembalap yang memperkenalkan gaya menyeret lutut di atas aspal– yang pernah melakukan prestasi serupa pada 1978.

Tak mengherankan jika Marquez kemudian juga dinobatkan sebagai rookie –pendatang baru– terbaik musim ini. “Saya tak bisa berkata-kata karena kemenangan ini melampaui mimpi saya,” kata Marquez.

DW (MOTOGP, CYCLE WORLD, MOTORSPORT MAGAZINE)
*pernah dimuat di majalah tempo

Baca Juga:
Surga Pajak Juara Dunia
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

One Comment leave one →
  1. April 24, 2014 11:16 am

    ya jelas lebih hebat Kevin Schwantz, dia melakukannya diatas motor 2 tak yg jauh lebih ganas, siapa yg gak tahu ganasnya Gp500 dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: