Skip to content

Surga Pajak Juara Dunia

November 15, 2013

Sebastian Vettel menjadi pembalap Formula 1 termuda yang pernah memenangi 4 kejuaraan dunia secara beruntun. Hobinya menyetir van tua.

Christian Horner tersenyum lebar melihat aksi Sebastian Vettel yang memutar-mutar mobilnya usai menuntaskan balapan Grand Prix Formula 1 di Buddh International Circuit, India, pekan lalu.

“Haha..kamu benar-benar bergaya, sobat. Perayaan yang hebat,” kata Kepala Tim Red Bull itu lewat saluran radio. Di balik kemudi, Vettel hanya nyengir sambil mengacungkan tangan.

Ia memutar mobilnya tiga kali. Asap menyembur dari putaran roda yang bergesek aspal, membungkus Vettel dan mobilnya. Untuk sesaat pembalap Red Bull Racing itu hilang sebelum muncul lagi sambil berdiri di kap depan.

Ribuan orang di balik pagar langsung berdiri sambil memberinya aplaus. Vettel menyalami beberapa di antara mereka dan melamparkan sarung tangannya.

“Ini sungguh luar biasa, saya bahkan tidak tahu apa yang harus saya katakan,” kata Vettel. “Ini benar-benar musim yang sempurna. Saya memiliki mobil dan semangat tim yang hebat.”

Pembalap asal Jerman itu finis di urutan pertama ajang Grand Prix India. Ini adalah kemenangan keenam –dari total 10 kemenangan– yang diraihnya secara beruntun musim ini.

Tak hanya itu, kemenangan itu sekaligus menyegel gelar juara dunia Grand Prix musim ini. Dengan 322 poin di kantong, Vettel unggul 115 angka atas Fernando Alonso yang finis di urutan ke-11, pesaing terdekatnya.

Gap poin itu tak mungkin lagi dikejar Alonso karena musim ini hanya tinggal menyisakan 3 race. Dan, dengan gelar juara dunia baru itu, Vettel berarti telah memenangi 4 gelar juara dunia secara beruntun!

Sepanjang sejarah Grand Prix Formula 1, hanya ada dua pembalap yang pernah meraih prestasi serupa, yaitu Juan Manuel Fangio (1954-1957) dari Argentina dan Michael Schumacher (2000-2004) dari Jerman.

Tapi, Vettel lebih dahsyat karena ia meraihnya di usia 26 tahun, sementara Schumacher meraihnya di usia 32 dan Fangio di usia 45. “Benar-benar performa yang luar biasa,” puji Schumi, sapaan Schumacher. “Dia masih begitu muda tapi langkahnya sudah begitu jauh.”

Tak mengherankan jika perayaan Vettel begitu gila-gilaan. Akibat aksi muter-muter mobil itu, ia didenda Rp 380 juta oleh FIA (federasi olahraga otomotif internasional) karena dinilai berbahaya. Tapi, siapa peduli. Denda bisa dibayar, namun torehan prestasi dahsyat ini belum tentu terulang lagi!

Horner pun, meski menyayangkan denda tersebut, tak mempersoalkannya. “Itu perayaan yang sangat memukau dan membuat penonton terhibur,” katanya. “Anda bisa melihat mereka semua menikmati pertunjukkan itu.”

Perayaan kemenangan Vettel juga berlangsung di kota kelahirannya, Heppenheim, Jerman. Tak kurang dari 3.500 orang berkumpul di depan layar raksasa. Begitu Vettel melewati garis finis, mereka serempak bersorak. “Kami semua memberinya selamat,” kata Alex Moeller, salah seorang penduduk kepada kantor berita DPA.

Vettel sendiri, alih-alih pulang ke Heppenheim, malah terbang ke Swiss. Sejak awal 2007, pembalap kelahiran 3 July 1987 itu memang lebih banyak menghabiskan waktu di Ellighause, sebuah desa kecil di Swiss.

Di sana ia membangun sebuah rumah bergaya tropis. Rumah itu berdiri di lereng bukit dan tak jauh dari Danau Constance. Sehingga, selain udaranya sejuk, pemandangannya juga elok. “Di sini lebih banyak sapi dibanding orang,” kata Vettel.

rumah vettel di swiss

rumah vettel di swiss

Dengan kekayaan mencapai 35 juta poundsterling, Vettel bisa saja membeli rumah mewah di Monaco, Monte Carlo, Milan, atau Paris. Tapi ia lebih memilih Ellighause. “Monaco bukan untuk saya,” katanya. “Terlalu ramai.”

Untuk ukuran bintang, selera Vettel memang aneh. Ia tak glamour, tak suka keramaian, dan selalu menghindari pesta. Kegiatannya di waktu senggang hanya mendengarkan The Beatles, bermain badminton, atau menonton sepak bola.

Ia bahkan tak punya akun facebook atau twitter. “Saya memposisikan diri sebagai olahragawan, bukan selebritas,” katanya. “Saya tak punya follower di twitter (karena memang tak punya akun twitter).”

Soal kehidupan pribadi, penggila 3M (Michael Jakson, Michael Jordan, dan Michael Schumacher), ini memang sangat tertutup. Di luar sirkuit, ia membenci paparazi. Tak heran jika foto-foto kehidupan pribadinya –kecuali yang dirilis secara resmi– tak banyak beredar.

“Saya sangat sibuk sepanjang musim dan mendapat banyak sekali perhatian dari media sehingga saya membutuhkan ketenangan dan privacy ketika di rumah,” kata Vettel.

Dua hal itulah yang ditawarkan Swiss. Vettel, misalnya, bisa membawa Van Volkwagen putih tuanya ke toko untuk membeli roti tanpa takut ada wartawan atau fans datang menyergapnya.

Van tua? Yap, tak salah lagi. Mobil yang diparkir di rumahnya memang tak lain sebuah Van Volkwagen berwarna putih. Mobil itu ia beli seharga 25 ribu pound sterling. “Itu mobil bekas yang saya beli pada 2007 lalu,” katanya.

foto dailymail

foto dailymail

Dibandingkan dengan RB9 –mobil formula 1 yang membawanya meraih juara dunia– van itu bagaikan langit dan bumi. Jika RB9 bisa dipacu hingga menembus angka 320 kilometer per jam, maka van itu hanya sanggup lari 120 kilometer per jam.

Selera otomotifnya benar-benar payah. Padahal, kan, ia bisa saja membeli Lamborghini atau Ferrari. “Saya mencintai van ini meski sudah agak tua dan tak merasa perlu membeli supercar,” katanya. “Memang orang mengira saya maniak (kecepatan) saat di jalan raya karena saya pembalap. Tapi saya tidak seperti itu.”

Vettel mungkin tak suka ngebut di jalan raya, tapi nalurinya sebagai pembalap untuk tiba lebih dulu dari yang lain membuatnya kerap memotong jalan sebelum dihentikan polisi lalu lintas.

Namun, meski beberapa kali kena tilang, toh Vettel lebih betah keluyuran dengan Van di jalanan Swiss ketimbang di Jerman atau Monaco. Ketenangan, privacy, serta alam membuatnya betah.

Apalagi, ia tak sendiri. Sejumlah pembalap Formula 1 juga tinggal di sana. Michael Schumacher, misalnya, membeli rumah di dekat Danau Jenewa seharga 25 juta pound sterling. Tak jauh dari rumah Schumacher, berdiri rumah milik Luis Hamilton.

Rumah pembalap asal Inggris ini memiliki tiga kamar mewah yang menghadap ke danau. Sebuah yacht mewah terparkir di depannya. “Sangat menyenangkan,” kata Hamilton.

Pembalap lain yang hijrah ke Swiss adalah Kimi Raikkonen. Ia tinggal bersebelahan dengan pembalap Ferrari Felipe Massa di Schwyz. Juara dunia dua kali, Fernando Alonso, serta Nick Heidfeld, juga tinggal di sana.

Marc Surer, mantan pemalap Formula 1 asal Swiss, mengatakan rekan-rekannya hijrah ke Swiss karena mereka mendambakan ketenangan dan privacy tingkat tinggi. “Setiap musim berakhir, yang melintas di pikiran mereka hanya bagaimana caranya melarikan diri dari semua kebisingan ini.”

Faktor pajak yang diberlakukan pemerintah Swiss terhadap para pendatang, Surer melanjutkan, juga menjadi alasan kenapa mereka hijrah. “Karena pajak penghasilan di sini sangat rendah.”

Swiss memang terkenal sangat longgar soal pajak. Mereka, misalnya, tak memungut pajak untuk penghasilan seseorang yang diperoleh di luar negeri. Kebijakan ini, tentu saja, menyenangkan bagi para pembalap yang sebagian besar penghasilannya diperoleh dari luar Swiss.

Tapi, beberapa bulan ini, pemerintah Swiss berencana mengubah kebijakan pajak. Mereka tengah mengkaji untuk tak lagi membedakan penghasilan dari luar negeri dengan penghasilan dari dalam negeri. pajaknya akan disamakan.

Reformasi pajak ini digulirkan setelah adanya protes keras dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Kebijakan Swiss yang menerapkan pajak rendah membuat orang-orang kaya lari ke sana –sedikitnya ada 5 ribu orang kaya dari luar yang tinggal di Swiss. Akibatnya, negara asal mereka kehilangan potensi pajak.

Isu penghapusan kelonggaran pajak ini membuat hidup para miliader asing di Swiss tak lagi nyaman. Tahun lalu, hampir separuh dari mereka hengkang. Michael Schumacher pun sudah ambil kuda-kuda untuk balik ke negaranya. “Banyak dari orang-orang kaya asing di sini akan pergi jika kelonggaran pajak dihapus,” kata Schumi. “Seperti saya.”

Vettel belum memberikan komentar soal ini. Ia, barangkali, masih menikmati kemenangannya. Apalagi, turnamen belum benar-benar habis, masih ada 3 race tersisa. Jika ia bisa membabat habis 3 laga tersisa itu, ia bakal menyamakan rekor Schumacher yang pernah memenangi 13 race dalam satu musim!

DW (INDEPENDENT, BBC, FORMULA 1, THE GUARDIAN)
*pernah dimuat di majalah tempo

Baca Juga:
Mimpi Dua Dekade Bosnia
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: