Skip to content

Mimpi Dua Dekade Bosnia

November 11, 2013

Dua dekade setelah dihantam perang, Bosnia melenggang ke Piala Dunia 2014. Bentrok antar entis masih kerap terjadi.

bosniaSasa Zivkovic duduk di depan televisi yang menyiarkan laga Bosnia Herzegovina kontra Lituania di S. Dariaus ir S. Gireno Stadium, Kaunas, pertengahan Oktober lalu. Bersama beberapa rekannya, desiner grafis yang tinggal di kota Banja Luka ini terlihat tegang.

Tepat di menit ke-68, ketika pemain tengah Bosnia, Vedad Ibisevic, mencetak gol ke gawang Lituania, Sasa langsung berjingkrak kegirangan. “Ini luar biasa! Kami tidak bisa tidak merayakan ini meski yang menang adalah Bosnia,” kata Sasa.

Banja Luka adalah kota di Utara Bosnia Herzegovina. Kota ini mayoritas dihuni etnis Serbia, yang menjadi musuh utama etnis Bosnia saat perang mengoyak negeri tersebut pada 1992-1995.

Gol tunggal Vedad Ibisevic itu membuat Bosnia menutup pertandingan dengan kemenangan 1-0, membawa mereka ke putaran final Piala Dunia 2014 yang akan berlangsung di Brasil.

Ini pertama kalinya Bosnia menjejakkan kaki di turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat itu. Tak mengherankan jika sepuluh ribu orang turun ke Jalan Laisves Aleja di Sarajevo untuk merayakan kemenangan tersebut.

“Kemenangan ini menyatukan kami,” kata Mela Softic, seorang warga Sarajevo, kepada Reuters. “Kami tidak lagi peduli pada etnis karena kini kami bangga pada satu nama: Bosnia Herzegovina.”

Seorang pengacara beretnis Kroasia, Dragan Soldo, yang ikut turun ke jalan, mengamini, “Ini satu-satunya hal positif yang diraih negeri ini setelah perpecahan etnis dan politik yang terus terjadi.”

Bornia Herzegovina berpenduduk tak kurang dari 3,8 juta, 48 persen di antaranya beretnis Bosnia. Sementara etnis Serbia berjumlah 37 persen dan sisanya adalah etnis Kroasia.

Meski etnis Bosnia adalah mayoritas, tim nasional Bosnia tak semata milik mereka. Sebab pemain-pemain di tim ini juga ada yang beretnis Serbia dan Kroasia.

Di mistar gawang, misalnya, berdiri Asmir Begovic yang berdarah Bosnia. Di depannya ada Boris Pandza (Kroasia) dan Sasa Papac (Serbia). Keduanya kompak menjaga lini belakang bersama Emir Shanic (Bosnia).

Hasil kolaboasi mereka cukup yahud: dari 10 laga di penyisihan grup, mereka hanya kebobolan 6 kali. Artinya, mereka lebih solid dari Jerman yang kebobolan 10 gol.

Tak hanya lini belakang, kombinasi antar etnis juga terjadi di lini tengah dan depan, yang melibatkan gelandang serang Zvjezdan Misimovic (Kroasia) dengan Edin Dzeko (Bosnia). Bersama pemain lain, mereka mengoleksi 30 gol!

safet susic. foto by gol.dnevnik.hr

safet susic. foto by gol.dnevnik.hr

”Beberapa tahun lalu, mungkin Anda tidak bisa membayangkan orang Bosnia, Kroasia, ataupun Serbia bermain dalam satu tim,” kata pelatih Tim Nasional Bosnia, Safet Susic.

Susic merujuk pada periode 1992-1995, ketika ketiga etnis itu saling bunuh. Perang brutal itu menewaskan sedikitnya 200 ribu orang dan membuat 2 juta orang mengungsi.

Edin Dzeko masih mengingat kisah kelam tersebut. Saat perang pecah, usianya baru 6 tahun. Saat itu rumahnya hancur dibom sehingga ia mengungsi ke rumah kakeknya.

“Ibu menarik saya dari lapangan dan beberapa menit kemudian sebuah bom meledak di sana,” kata Dzeko. “Rumah saya hancur dan saya mengungsi ke rumah kakek. Di sana saya berbagi ranjang dengan 15 orang.”

Asmir Begovic, meski punya cerita serupa, lebih beruntung. Tak seperti Dzeko yang terjebak di Sarajevo, ia diungsikan ibunya ke Kanada saat berusia 10 tahun. “Kami kehilangan segalanya. Saya masih trauma, meski tak sebesar orang tua saya,” kata Asmir.

Pemain lain yang diungsikan ke luar negeri antara lain Vedad Ibišević dan Senad Lulic. Mereka dilarikan ke Swiss. Sementara Miralem Pjanic, Sejad Salihovic, dan Emir Sphanic ke Jerman. Adapun Haris Medunjanin ngungsi ke Belanda.

Di pelarian, para pemain tersebut tak berleha-leha, mereka tetap berlatih di akademi sepak bola setempat, sebelum dipinang tim-tim elit Eropa. Miralem Pjanic dan Senad Lulic diboyong AS Roma dan Lazio. Veded Ibisevic direkrut klub asal Jerman, Stuttgard, serta Emir Sphanic dipinang Bayern Leverkusen.

Adapun Asmir Begovic dan Edin Dzeko diboyong ke Inggris. Asmir dibeli Stoke City sementara Dzeko dikontrak Manchester City. Keduanya adalah tim yang berlaga di Liga Premier. Para eksil ini kemudian dijuluki ‘Generasi Emas’ Bosnia.

Pada 2004, bersama sebagian besar pengungsi, mereka kembali ke Bosnia. Tapi, meski perang telah usai satu dekade lalu, Bosnia tetaplah negeri yang muram.

foto: avdibeg.dk

foto: avdibeg.dk

Ekonomi berantakkan, pengangguran menembus angka 45 persen, dan kebencian antar entis belum sepenuhnya hilang. Trauma masih bercokol dan dendam masih membara di hati banyak orang.

Ini, misalnya, terlihat dari seringnya bentrok antar pendukung tim sepak bola. The BH Telecom Premier League, liga utama di Bosnia, diikuti 16 klub. Klub-klub ini mewakili tiga etnis Bosnia, Serbia, dan Kroasia.

Klub FK Željezničar Sarajevo, FK Velež Mostar dan FK Sarajevo, mewakili etnis Bosnia. Sementara etnis serbia mendukung klub FK Borac Banja Luka, FK Slavija, dan FK Drina Zvornik. Etnis Kroasia bergabung dalam klub NK Široki Brijeg dan HŠK Zrinjski Mostar.

Mereka kerap bentrok. Insiden terakhir terjadi April lalu, saat klub NK Zeljeznicar Sarajevo dan Borac Banja Luka bertemu. Bentrok kedua pendukung ini mengakibatkan 35 orang cedera berat dan 7 polisi dirawat di rumah sakit.

Etnis Kroasia yang mendukung klub Siroki Brijeg tak mau kalah. Mereka kerap mengibarkan bendera Nazi di stadion, sebelum bentrok dengan pendukung Borac Banja.

“Ini menunjukkan luka akibat trauma perang dan dendam belum benar-benar pulih,” kata aktivis hak asasi manusia dari Banja Luka, Aleksandra Letic.

Tak hanya di akar rumput, petinggi sepak bola di negeri itu pun terbelah. Pada 2011, Federasi Sepak Bola Bosnia (NSBIH)terbelah tiga: Federasi sepak bola Bosnia, Federasi Sepak Bola Serbia, serta Federasi Sepak bola Kroasia.

Perpecahan terjadi karena setiap etnis merasa berhak duduk di kursi Presiden Federasi. Sikap saling ngotot ini berakhir tragis: April 2011 FIFA menjatuhkan sanksi larangan bertanding kepada tim nasional sampai mereka bersatu lagi.

Sanksi tu rupanya efektif. Dua bulan setelah sanksi diberikan, ketiga etnis itu kemudian sepakat merotasi jabatan presiden federasi. Perwakilan setiap etnis akan menjabat sebagai presiden federasi selama 18 bulan.

Di negeri multi etnis yang tak pernah akur, kompromi memang menjadi solusi manjur. Tapi tidak di tubuh tim nasional. Di tangan Miroslav Blažević, pelatih tim nasional Bosnia sebelum Safet Susic, tak ada kompromi untuk gesekan etnis.

“Saya tahu mereka berasal dari tiga etnis dengan sejarah konflik yang menyakitkan,” kata Blazevic. “Karena itu hal pertama yang saya tanamkan pada mereka adalah tim nasional adalah zona damai, tak boleh ada konflik di sini!”

Blazevic juga punya strategi untuk melumerkan ketegangan antar etnis di tubuh tim, yakni dengan meminta mereka lebih banyak mengumpan. Dengan cara ini, para pemain menjadi lebih sering berinteraksi sehingga kerjasama pun terjalin.

Saringan ketat yang dilakukan Blazevic untuk masuk tim nasional juga membuat pemain berusaha tampil sebaik mungkin agar terpilih, sehingga mereka tak punya waktu untuk mengurusi siapa beretnis apa.

Latar belakang pemain yang besar di luar Bosnia juga membuat mereka lebih toleran. Mereka, misalnya, tak harus terjebak pada klub-klub lokal yang sangat kental ikatan etnisnya.

“Saya bangga karena bisa membuat mereka melupakan trauma dan dendam. Anda bisa melihat mereka bermain sangat kompak,” kata Blazevic. “Ini sesuatu yang belum bisa dilakukan politisi di negeri ini.”

Edin Dzeko mengakui konsep yang diterapkan Blazevic sukses menyatukan pemain. “Tidak perduli apakah saya muslim (Bosnia) atau Kroasia (Katolik) atau Serbia (Kristen Ortodok). Kami kami adalah satu,” kata Dzeko.

Upaya Blazevic melunturkan konflik etnis di tubuh tim nasional berbuah manis ketika ia berhasil membawa mereka ke babak playoff Piala Dunia 2010. Namun sayang, langkah mereka dihentikan Portugal.

Blazevic kemudian mundur, posisinya digantikan Safet Susic pada Desember 2009. Di tangan Susic, mimpi tim untuk menyatukan tiga etnis sekaligus melepaskan diri dari bayang-bayang perang terus berdenyut.

Setahun setelah kegagalan di Piala Dunia 2010, mereka tampil gemilang di babak penyisihan grup Piala Eropa 2012. Namun, lagi-lagi, langkah mereka dihentikan Portugal di babak playoff.

Ini membuat mereka menjadi spesialis playoff. Tapi, pertengahan Oktober lalu, saat mengandaskan Lituania, kutukan playoff itu berakhir. Tak hanya itu, mereka bahkan melangkah lebih jauh: ke Brasil!

Menteri Luar Negeri Bosnia, Zlatko Lagmudzija, memuji, “Tim ini adalah model terbaik dari negeri kami, mereka bisa melupakan apa yang telah terjadi dan bersama-sama menatap masa depan baru.”

Presiden FIFA, Sepp Blatter, saat berkunjung ke Sarajevo sepekan sepekan sebelum Bosnia lolos ke Brasil, berkata, “Tim ini menjadi simbol rekonsiliasi dan persatuan dari semua etnis di negeri ini. Sekali lagi, sepak bola menunjukkan kekuatannya.”

DW (REUTERS, GUARDIAN, TELEGRAPH, SPORT ILUSTRATED, WORLD SOCCER)
*pernah dimuat di majalah tempo

Baca Juga:
Menu Baru Timnas U-19
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: