Skip to content

Menu Baru Timnas U-19

October 17, 2013

foto: artikelbola.com

foto: artikelbola.com

Alfan Nur Asyhar duduk di lobby Hotel The Sun, Sidoarjo, pertengahan September lalu. Tatapan mata dokter tim nasional usia di bawah 19 tahun itu tak pernah lepas dari pintu masuk hotel yang menjadi tempat menginap para pemain tim nasional selama mereka menjalani pemusatan latihan.

Setiap kali ada pemain yang masuk membawa tas kresek, Alfan langsung sigap menyetopnya. “Saya cek apa yang mereka bawa karena kami harus menyaring setiap makanan yang masuk,” kata Alfan kepada Tempo, Kamis lalu. “Sebab makanan dari luar tidak higienis.”

Hasil sweeping itu, kata Alfan, cukup banyak. Ia, misalnya, pernah memergoki pemain membawa nasi goreng, Ceker Lapindo (terbuat dari ceker ayam), serta sejumlah makanan ringan berbentuk keripik. “Makanan itu kami ambil dan kami ganti uangnya,” kata Alfan.

Sebagai dokter di tim nasional, tugas dosen di Universitas Islam Yogyakarta ini tak hanya memastikan semua pemain dalam kondisi sehat, tapi juga harus 100 persen fit. Untuk itu, ia tak mau main-main dengan makanan.

Ia, misalnya, mengharamkan semua pemain mengkonsumsi makanan pedas, termasuk saos, karena bisa mengakibatkan iritasi pada usus halus. “Akibatnya permain sering merasa mual sebelum latihan,” kata Alfan. “Kalau sudah iritasi, kuman bisa masuk dengan cepat.”

Selain itu ia juga mencoret vetsin. Penyedap rasa ini dianggap bisa memperlambat impuls otak alias bisa membuat pikiran jadi lemot. Akibatnya, respon pemain jadi berkurang. Padahal, saat bertanding, permain harus berpikir cepat.

Makanan lain yang ‘difatwa haram’ adalah goreng-gorengan dan minuman bersoda. Keduanya bisa menyebabkan radang tenggorokan. “Saat masih di pemusatan latihan kami hanya batasi,” kata Alfan. “Tapi kalau sudah mendekati pertandingan dilarang sama-sekali.”

Sebagai gantinya, ia telah menyusun menu khusus untuk mereka. Setiap pagi, segelas susu campur madu plus kuning telur ayam kampung menjadi sarapan setiap pemain. Selain itu juga disediakan roti tawar. “Sebelum berlatih harus sarapan agar tidak animea,” kata Alfan.

Sementara untuk menu makan siang ia menyiapkan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, seperti nasi dan kentang, dengan tambahan sayur dan ikan. Ada juga jus jambu dan jeruk.

Di hari pertandingan, menu makan siang itu berubah menjadi daging lunak yang dimasak agak lunak dan asin. Tujuannya, kata Alfan, “Untuk meningkatkan performa jantung.” Pemain juga diminta menenggak minuman elektrolit.

Adapun menu untuk makan malam tak jauh berbeda dengan hidangan makan siang. Namun, sebelum makan malam, para pemain mendapat makanan ringan seperti roti pada pukul 16.00 wib. “Karena mereka setiap 3 jam sekali pasti lapar.”

Awalnya, Alfan melanjutkan, tak mudah meminta pemain untuk menaati pola makan yang telah diaturnya. Ia bahkan beberapa kali harus berpura-pura main ke kamar pemain untuk mengecek ada atau tidak makanan ‘asing’ yang disimpan pemain.

“Tapi sekarang mereka telah tahu efek setiap makanan yang mereka telan,” kata Alfan. “Karena selain melarang kami juga memberikan pengertian pada mereka. Klub-klub di Eropa sudah lama melakukan cara ini untuk meningkatkan stamina pemain mereka.”

krioterapiSelain mengatur pola makan, jurus lain yang dilakukan tim pelatih adalah krioterapi. Ini adalah metode pemulihan sekaligus pencegahan cedera dengan menggunakan es. Secara fisiologis, es bisa mencegah kerusakan jaringan sekunder dan mengurangi sinyal rasa sakit ke sistem saraf pusat

Prakteknya, seusai latihan, setiap pemain diminta berendam di kolam renang selama 5-10 menit. Tujuannya untuk merelaksasi otot. Setelah itu pemain masuk ke tong berisi air setinggi dada selama 2 menit.. “Kami kasih es sehingga suhunya minus,” kata Alfan.

Tujuan berendam di tong berisi air bersuhu minus ini untuk mengembalikan fisiologis otot dan menangkal cedera. Pegal-pegal setelah berlatih pun langsung menguap. Setelah itu, kata Alfan, “Mereka masuk ke air hangat agar peredaran darah yang mengecil kembali lancar sehingga ligamen lebih fresh.”

Awalnya, tak banyak pemain yang mau berendam di air es. Apalagi saat mereka berlatih malam. Sehingga staf pelatih tak jarang harus menarik-narik mereka. “Tapi setelah mencoba mereka justru ketagihan,” kata Alfan.

Ini diamini pemain depan Dinan Yahdian Javier. “Saya menjadi cepat pulih. Kaki pun lebih enteng setelah berendam, meski sebelumnya menjalani latihan dan pertandingan yang berat,” katanya.

Pemain lain, Muhammad Hargianto, mengatakan dengan metode berendam di air dingin itu proses pemulihan menjadi lebih cepat. “Sebelum kenal metode itu saya menghabiskan satu hari untuk pemulihan agar kembali fit,” kata Hargianto.

Dinan, Hargianto, serta sebagian besar pemain memang baru kali ini menjalani metode krioterapi. Kini, menurut fisioterapis timnas U-19, Aditya Prameswara Ardi, mereka melakukannya hampir setiap hari setelah latihan.

Kombinasi pengaturan pola makan super ketat dengan metode krioterapi berbuah manis. Saat menghadapi Vietnam di partai puncak Piala AFF U-19 dua pekan lalu, mereka tampil spartan meski pertandingan berlangsung hingga 120 menit!

Indonesia, seperti kita tahu, keluar sebagai juara setelah drama tos-tosan yang berakhir dengan skor 7-6. Kemenangan ini bukan sekedar kemenangan taktik dan tehnik, tapi juga kemenangan nafas yang tak putus-putus di lapangan. Sudah saatnya kita menerapkan sport science!

DW|AF
*dimuat di koran tempo

Baca Juga:
Guru Sekolah di Sukses Arsenal
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: