Skip to content

Guru Sekolah di Sukses Arsenal

October 7, 2013
foto: highbury-house.com

foto: highbury-house.com

London – Saat Arsene Wenger pertama kali datang ke Highbury –kandang Arsenal sebelum Emirates Stadium– pada 1 Oktober 1996, tak ada yang terkesan dengan penampilannya. Badannya tinggi kurus dan rambutnya disisir ke samping. Logatnya Prancisnya membuatnya semakin terlihat aneh.

Tonny Adams, kapten Arsenal ketika itu, bahkan menyambutnya dengan nyinyir. “Pertama kali melihatnya saya langsung berpikir ‘Apa yang bisa dilakukan orang Prancis ini?’ Dia memakai kacamata dan lebih mirip guru sekolah dibanding pelatih sepak bola. Dia bahkan tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik.”

Harian Evening Standard yang terbit di London bahkan menurunkan berita dengan judul besar: ‘Arsene Who?’ Memang tak banyak yang tahu nama ini. Saat itu yang menjadi favorit menggantikan Bruce Rioch, pelatih Arsenal yang dipecat, adalah Johan Cruyff dan Terry Venables.

“Saya inget ketika Bruce Rioch dipecat, kami semua berharap Terry Venables atau Johan Cruyff akan menggantikannya,” kata penulis buku Fever Pitch, sekaligus penggemar fanatik Arsenal, Nick Hornby. “Saya sama sekali tidak pernah mendengar nama Arsene Wenger.”

Wenger saat itu memang bukan siapa-siapa. Dia datang ke Highburry dari Jepang. Di negeri matahari terbit itu, ia melatih klub Nagoya Grampus Eight, membawa mereka ke puncak klasemen Japan League dan memboyong Emperor’s Cup serta Piala Super Jepang. Dia cukup dikenal di Jepang.

foto: news.bbc.co.uk

foto: news.bbc.co.uk

Tapi saat latihan perdananya di Highburry, ketika seorang staff menceritakan kisah suksesnya di Jepang, tak ada pemain yang terkesan. “Kami mendengarkan apa yang telah diraihnya di sana,” kata seorang pemain, Lee Dixon. “Tapi tak ada yang terkesan.”

Wenger semakin terlihat aneh ketika keesokan harinya ia membagikan buku panduan diet kepada semua pemain. Seorang ahli gizi bernama Philippe Boixel juga didatangkan dari Prancis untuk memastikan semua pemain ‘makan dengan benar’ dan ‘hidup secara sehat’.

Dalam buku panduan diet tersebut, Wenger mengharuskan semua pemainnya memakan sayuran, melarang mereka memakan puding, menjauhi minuman bersoda, tak boleh ngemil, serta –ini yang paling menyebalkan– tak boleh makan coklat.

Pemain pun meradang. Tak ada aturan gila seperti itu sebelumnya di Inggris. Sehingga, saat bus tim melaju ke Ewood Park untuk menjalani laga melawan Blackburn Rovers pada 12 Oktober 1996, mereka berteriak, “Berikan coklat kami!”

Tapi Wenger bergeming. Ia berkata kepada mereka, “Betapa memalukannnya jika kalian berlatih keras setiap minggu tapi tak menghasilkan apapun hanya karena kondisi tubuh kalian tidak prima. Sebagai pelatih saya tahu persis diet apa yang harus kalian jalani!”

Di Ewood Park, Arsenal menang 2-0. Kemenangan ini menjadi debut sempurna Wenger. Bus Arsenal pun melaju ke Highburry dengan riang. Pemain tak lagi menagih coklat. Mulai hari itu Tonny Adams tak lagi menganggapnya lebih pantas jadi guru sekolah. Itulah awal dari dinasti Le Professeur –Sang Profesor– dari Prancis!

Musim pertamanya di Highbury, Wenger membawa The Gunners –julukan Arsenal– ke posisi tiga klasemen. Musim berikutnya ia memboyong dua gelar sekaligus: Liga Premier dan Piala FA. Prestasi serupa ia raih lagi pada musim 2001-2002.

Namun musim terhebatnya terjadi pada 2003–04, ketika ia membawa Arsenal kembali menjuarai Liga Premier tanpa mengalami satu kekalahan pun! Bahkan Manchester United, peraih gelar terbanyak Liga Premier, tak pernah melakukan hal hebat seperti ini. Media, saat itu, menjuluki mereka The Invicible Arsenal!

Pekan lalu, saat Arsenal membungkam Swansea City dengan skor 1-2 di laga lanjutan Liga Premier, Arsene Wenger tersenyum puas. Kemenangan itu menjadi kado terindah untuk 17 tahunnya bersama The Gunners. “Kemenangan ini menjadi kue ulang tahun yang paling indah,” katanya, girang.

Laga kontra Swansea City itu mengukuhkan Arsenal di puncak klasemen sementara Liga Inggris saat ini sekaligus menjadi laga ke-964-nya bersama Arsenal, dengan torehan 558 kemenangan. Total golnya pun mengagumkan, 1.786!

Selama 17 tahun, Wenger telah menyumbang 3 trofi Liga Premier, 4 trofi Piala FA, dan 4 kali keluar sebagai juara di turnamen Community Shield. Hanya satu yang belum diraih pria kelahiran 22 Oktober 1949 ini: Tropi Liga Champions.

Kemarin dinihari, Arsenal menekuk Napoli 2-0 di babak penyisihan Liga Champions, mengukuhkan mereka di puncak klasemen Grup F, sekaligus menebalkan harapan Wenger untuk meraih trofi Liga Champions. “Selama ini kami hanya mendambakannya,” katanya.

Wenger sebenarnya tak harus membuktikan apapun lagi untuk membuktikan dedikasinya. Sebab, awal Oktober lalu, ia telah mencatatkan dirinya sebagai pelatih terlama, sekaligus tersukses, di Arsenal. Namun, tentu saja, gelar Liga Champions akan melengkapi semua itu.

GUARDIAN | TELEGRAPH | SKY SPORTS | DW
*pernah dimuat di koran tempo

Baca Juga:
Singa Ompong di Kandang Emas
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: