Skip to content

Lagu Koboi dari NIROM

September 17, 2013
foto: jakarta.go.id

foto: jakarta.go.id

Gadis cilik itu tersenyum girang di dalam Oteva yang melaju menuju kantor Maskapai Siaran Radio Belanda (NIROM) di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, pada Rabu 1939. Wajahnya yang mungil menempel di jendela, gumun mengamati jalan.

“Kami dijemput dari arah Tanah Abang Bukit, lewat Pasar Tanah Abang, terus masuk ke Jalan Karet,” kata gadis cilik itu, hampir 70 tahun kemudian. Gadis itu bernama Siti Asiah, putri ke-8 Haji Agus Salim yang sering dipanggil Bibsy.

Setiap Rabu, Oteva alias taksi menjemput Agus Salim di rumahnya di Jalan Karet (kini Jalan KH Mas Mansyur) No 44, persis di seberang gerbang Pemakaman Karet. Bibsy saat itu berusia sekitar 11 tahun. “(Setiap ke NIROM) Ayah memang dijemput Oteva yang poolnya ada di sebelahnya NIROM.”

Bibsy tak selalu diajak, hanya sesekali saja. Karena itu ia senang sekali saat ayahnya mengajaknya. Di kantor NIROM, sementara Paatje –panggilannya untuk Agus Salim– sedang on air, Bibsy menunggu di ruang lain. “Paatje ceramah apa saya tidak tahu,” katanya. “Seinget saya tentang keislaman.”

Agus Salim aktif di NIROM pada periode 1939-1942. Di radio yang menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia itu ia menjabat sebagai Penasehat Bagian Ketimuran. Tak seperti aktivitasnya di koran yang selalu mengkritik pemerintah kolonial, di sini ia tak berpolitik.

Agama dan budaya menjadi tema utama ceramah-ceramahnya. Sayang, rekaman ceramah-ceramah itu hangus ketika Gedung RRI dilahap api pada 20 Juli 1985. “70 persen koleksi rekaman kami ikut terbakar,” kata Kepala Bidang Humas RRI, Ginda Hutapea.

Meski begitu, bukan berarti jejak Agus Salim di NIROM hilang. Bibsy ingat Paatje biasa berceramah di corong radio itu sekali setiap pekan selama 30-60 menit. Solichin Salam, penulis buku Agus Salim Pahlawan Nasional, menulis, “Dia bicara di depan radio tanpa teks dan selalu selesai tepat pada waktunya.”

Menurut Solichin, ceramah Agus Salim di radio bertumpu pada kekuatan bahasa, kefasihan pengucapan, serta nalar. “Tidak menggeledek seperti Tjokroaminoto,” tulisnya. Karena itu materi ceramah Agus Salim lebih ditujukan buat golongan cendekiawan atau ulama.

Agus Salim, menurut Sejarawan Ridwan Saidi dalam 100 Tahun Agus Salim, selalu menghindari persoalan khilafiyah –perbedaan fikih– dalam setiap ceramahnya. “Salim menghidangkan tema-tema pembahasan yang menantang intellectual exercising,” tulis Ridwan.

Tapi urusan Agus Salim di NIROM tak melulu ceramah. Adakalanya juga ia menerima order menerjemahkan lagu-lagu yang sedang tren saat itu. Bibsy masih ingat suatu hari Paatje pulang dari NIROM sambil membawa setumpuk rekaman lagu-lagu koboi (Country).

“Yang menerjemahkan kakak-kakak saya,” katanya. Anak-anak Agus Salim memang hampir semuanya bisa bahasa Inggris dan Belanda. Malah, sehari-hari mereka menggunakan bahasa Belanda. “Kami sampai bisa menyanyikan lagu-lagu itu.”

Bibsy tak ingat lagu-lagu apa saja yang pernah mereka garap. Selain lagu-lagu koboi, ada juga lagu-lagu bertema sedih. Salah satu liriknya, kata Bibsy, “Kamu meninggalkan aku ketika daun berguguran.”

Selain di NIROM, Agus Salim juga berceramah di radio penyiaran V.O.R.O (Vereeniging Oostersche Radio Omroep) dan PPRK (Perkumpulan Pemancar Radio Ketimuran). Di dua radio itu pun ia tak menyentuh politik.

Sejak mendirikan gerakan Penjadar dan memisahkan diri dari PSII pada 1936, Agus Salim memang menarik diri dari politik. Pertikaian dan saling pecat antar pimpinan partai membuatnya kecewa. Ia berpaling ke persoalan agama dan menyorongkannya lewat stasiun radio.

Oteva yang sejak tadi menunggu Agus Salim dan Bibsy meluncur lagi ke Jalan Karet. Bibsy pun tersenyum girang. Sebab keinginannya ikut Paatje ke NIROM memang bukan untuk mendengarkan ceramahnya. “Tapi supaya bisa naik Oteva.”

DW
*dimuat di Majalah Tempo edisi khusus Agus Salim

Baca Juga:
Jalan Melarat Agus Salim
Para Penjajah Akidah
Ayat-ayat Kodok
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Taraweh Nabi Adam
Banyak Berdoa, Sedikit Meminta
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: