Skip to content

Deru Buldozer di ‘Teras’ Kabah

August 23, 2013

Zul pulang umrah dengan hati tak nyaman. Hatinya gusar memikirkan nasib Kabah. Menurutnya, suatu saat nanti, bangunan suci umat Islam itu bakal digusur.

“Ini mungkin terakhir kalinya gue melihat Kabah,” katanya lirih. Dari matanya yang berkaca-kaca, saya tahu ia sedang tak bercanda.

Tapi saya tak percaya. Pria asal Medan ini suka ber-Drama Queen. Lagu pula, mana mungkin Kabah digusur? Siapa pula yang berani melakukannya?

Raja Abrahah dari Yaman pernah mengirim pasukan gajah –pasukan terbesar ketika itu– untuk meratakannya ratusan tahun lalu. Qurais, suku penjaga Kabah, melarikan diri ke bukit.

Hanya seorang saja yang tinggal: Abdul Mutholib. Ia mendatangi perkemahan pasukan itu. Abrahah menyambutnya dengan takjub. ‘Pria ini sungguh bernyali,’ pikirnya.

Tapi dia kecele. Abdul Muthalib ternyata datang bukan untuk menghalanginya, tapi meminta kembali kawanan domba miliknya yang dirampas pasukan Abrahah.

“Kamu sungguh dungu!” maki Abrahah. “Kami akan menghancurkan Kabah yang semestinya kamu jaga tapi kamu malah mengkawatirkan domba!”

Abdul Mutahilb mengangkat wajahnya lalu berkata, “Domba-domba itu milikku, karena itu keselamatan mereka menjadi tanggung jawabku. Adapun Kabah itu milik Tuhan, maka biarlah Dia sendiri yang menentukan nasibnya.”

Pasukan gajah itu pun bergerak. Namun belum sempat pasukan itu memasuki Mekkah, Tuhan mengirim ribuan burung ababil. Burung-burung itu menghujani mereka dengan batu-batu yang konon diambil dari neraka. Pasukan Abrahah pun berakhir mengenaskan.

Saya kisahkan cerita ini ke Zul. Beberapa saat ia diam. Tapi kemudian berkata, “Itu serangan dari luar, bagaimana kalau serangannya dari dalam?” katanya.

“Maksudnya?”

Zul menghela nafas panjang. Kesedihan kembali menggelayut di kedua matanya. Ia menelan ludah sesaat sebelum berkata, “Waktu gue mau buang air besar di sana, pemandu bilang toilet umum itu dulunya makam Siti Khadijah.”

Khadijah adalah istri pertama Nabi. Beliau orang pertama yang masuk Islam dan mewakafkan semua hartanya untuk menopang dakwah Nabi. Kemuliaannya sejajar dengan Mariam ibunda Isa dan Fatimah.

“Denger itu Emak gue histeris,” kata Zul. “Gue sendiri nggak jadi buang air. Tangan gue sampe merinding. Gue nggak habis pikir, kok bisa mereka mendirikan toilet di atas pusara istri Nabi!”

Bulu kuduk saya pun diam-diam ikut berdiri. Jelas Zul tak sedang bercanda. Sebab ia membawa-bawa nama emaknya, yang bahkan lebih ia hormati ketimbang rasa hormatnya kepada Jokowi.

“Mereka juga menggusur rumah tempat Nabi dilahirkan dan menggantinya dengan perpustakaan. Makam Abu Bakar dijadiin mall. Waktu gue tanya di mana nisannya, atau sekedar tanda keberadan makam, pemandu itu cuma geleng kepala.”

Ini makin serius, pikirku. Saya bergidik melihat percikan api yang keluar dari sorot mata Zul. Kesedihannya berganti amarah. Marah pada penggusuran dan mungkin pada dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa kecuali menahan kencing.

Saya sendiri pernah mendengar berita penggusuran beberapa tempat suci itu sebelumnya. Tapi mendengarnya langsung dari Zul, yang melihat sendiri perubahan tempat-tempat suci itu, membuat hati saya ikut meringis.

“Barangkali mereka menggusur tempat-tempat suci itu agar para peziarah haji tak menjadikannya mitos. Banyak yang berdoa di sisi makam, bahkan solat di sana, itu kan musyrik,” kataku.

“Waktu gue berdiri menghadap kubah Nabi di taman Raudah dan mengangkat tangan untuk berdoa, seorang askar –penjaga kemanan– melecutkan sajadah sambil berkata, ‘Haram..haram..!'”

“Tuh, kan!”

“Tapi apa mereka tahu apa yang ada di hati gue? Gue memang menghadap kubah Nabi dan mengangkat tangan untuk berdoa, tapi apa itu berarti gue meminta pada kubah? Nggak, kan?”

Saya tak punya pilihan selain mengangguk.

“Begitu juga mereka yang berdoa dan solat di makam orang suci. Belum tentu mereka minta pada orang yang terbaring di dalamnya. Syirik itu persoalan hati, tak bisa bisa dihikimi hanya lewat perbuatan!”

“Emang bener begitu, setuju banget. Tapi ada juga yang sampe sujud-sujud segala di kuburan, apa nggak musyrik tuh!”

“Bah,” potong Zul. “Kau ini bagaimana, membedakan sujud di kuburan dengan sujud kepada kuburan saja nggak ngerti!”

Buk! Kalimat itu menohok tenggorokanku. “Tapi Zul,” kataku nyaris tercekik, “Bisa jadi mereka meratakan makam dan rumah Nabi itu untuk mencegah orang dari kemusyrikan. Mencegah, kan, nggak salah.”

“Mencegah dan menghancurkan itu dua hal yang beda, Bung!” katanya. “Sudah kubilang tadi kalau syirik itu soal hati, jadi nggak ada yang bisa mencegahnya kecuali pemilik hati itu sendiri.”

Diam beberapa saat. Kudengar nafas Zul masih berat. Tiba-tiba dia berkata lagi, “Itulah yang gue takutin,” katanya mendadak lirih.

“Apa?”

“Jika mereka mendirikan kaskus di atas makam khadijah, membangun mall di atas makam Abu bakar, serta meratakan rumah Nabi karena takut semua itu dijadikan mitos dan tempat pemujaan, apa nggak mungkin nantinya mereka juga akan meratakan Kabah? Karena hampir semua musim memitoskannya.”

Saya terhenyak. Logika yang sederhana tapi sangat gamblang. Sampai hari ini pertanyaan itu masih terngiang-ngiang meski percakapan ini terjadi hampir dua pekan lalu..

_DW_
*Diolah dari obrolan dengan zul

Baca Juga:
Jalan Melarat Agus Salim
Para Penjajah Akidah
Ayat-ayat Kodok
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Taraweh Nabi Adam
Banyak Berdoa, Sedikit Meminta
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: