Skip to content

Jalan Melarat Agus Salim

August 20, 2013

agus salim Satu kutipan kecil dari edisi khusus Majalah Tempo tentang Agus Salim yang terbit pekan lalu sungguh menyentak hati: “Selama hidupnya dia selalu melarat dan miskin.”

Kalimat itu dicomot dari buku harian Het dagboekvanSchermenhorn milik Profesor Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati.

Agus Salim salah satu arsitek kemerdekaan bangsa ini. Ia aktivis awal pergerakan dan ulama karismatik. Perannya tak kecil, sumbangsihnya membumbung, tapi anehnya ia hidup melarat.

Padahal, tentu saja, mudah baginya jika sekedar ingin hidup berkecukupan: ia lulusan terbaik HBS, menguasai 9 bahasa, mantan menteri luar negeri pula.

Tapi hidupnya bak burung, berpindah dari satu kontrakkan ke kontrakkan lain. Di salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya bahkan tak bisa disiram. Istrinya menangis.

Kasman Singodimejo, anak didik Salim, mengatakan mentornya itu paham sepenuhnya resiko hidup melarat. Memimpin berarti menderita, katanya.

Salim menjalaninya dengan lapang hati. Ia sendiri yang menyiram toilet tersebut. Saat salah satu anaknya meninggal, ia bahkan tak punya duit untuk membeli kain kafan.

Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.”

Kustiniyati Mochtar dalam buku Seratus Tahun Agus Salim menulis, “Tak jarang mereka kekurangan uang belanja.” Soal pakaian pun ia termasuk “jorok”. Salim lebih mengutamakan “isi” ketimbang tampilan luar.

Kebersahajaan –kalau tak bisa dibilang kemelaratan– menunjukkan ketulusan perjuangannya. Sikap zuhudnya menunjukkan maqamnya: seorang ulama yang menatap dunia tak lebih dari sebutir debu di telapak kaki –karenanya tak semestinya dirisaukan!

Kini tak banyak lagi orang yang memilih jalan ini. Kita tak bisa lagi menghitung dengan jari jumlah pejabat yang dicokok KPK. Tak heran korupsi menggila, lha ustad yang semestinya mengajarkan kebersahaan hidup saja naik Lamborghini!

Agus Salim, bersama pejuang lain, semestinya menjadi orang yang paling berhak atas kemakmuran negeri ini. Tapi mereka mengambil amat sedikit dan memilih jalan sulit: sebuah jalan becek yang berujung di rumah petak.

Jalan becek itu sekarang sepi. Para pemimpin, juga ulama, kini lebih suka memilih jalan berlapis karpet merah yang ujungnya menjuntai di lantai istana.

_DW_

Baca Juga:
Para Penjajah Akidah
Ayat-ayat Kodok
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Taraweh Nabi Adam
Banyak Berdoa, Sedikit Meminta
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: