Skip to content

Para Penjajah Akidah

August 19, 2013

“Lebih baik kita diatom daripada merdeka tidak 100 persen,” kata Soedirman menolak ajakan Sukarno untuk berpura-pura menyerah ketika Belanda menyerang Yogyakarta.

Ia bergerilya di hutan, meski dengan sebelah paru. Tubuhnya kurus, dadanya bengek, namun hatinya sekeras batu. Ia belagu. Tapi darinya kita tahu: kemerdekaan bukan sesuatu yang bisa ditawar.

Belanda dan Jepang kemudian memang angkat kaki, tapi kemerdekaan tak sepenuhnya tegak. Masih ada penjajah akidah yang hobi menebar cap sesat kemudian mengusir, membakar, bahkan membunuh.

Agustus setahun lalu, puluhan rumah orang Syiah dibakar di Sampang, seorang terbunuh, ratusan lainnya mengungsi. Di negeri bhineka tunggal ika ini, pengusiran adalah tragedi, pembiaran atas kejadian itu menjadi tragedi lain!

Sampai hari ini orang-orang Syiah itu masih terusir. Mereka hanya boleh pulang asal mau meneken surat tobat. Ketua MUI Jawa Timur, Abdussomad, mengkaim ini negeri Sunni, karenanya tak boleh ada penganut syiah. “Saya ingatkan kepada warga Syiah agar mencari tempat di luar negeri saja jika ingin mengembangkan ajaran Syiah.”

Hebat betul kyai ini. Memangnyaa siapa dia? Kanjeng nabi? Sehingga merasa berhak mendikte keyakinan orang lain dan mengusir mereka. Lagipula, sejak kapan Indonesia jadi negara sunni? Mungkin dia lupa, dasar negara kita adalah Pancasila, bukan Kitab Bukhari-Muslim.

Dia mungkin juga lupa, di luar sana ada risalah Yaman yang menegaskan Syiah adalah salah satu mazhab dalam Islam –karenanya bukan aliran sesat. Seseorang harus melepas kacamata kudanya agar kyai ini ngeh bahwa dunia bukan sekedar sepetak tanah di Sampang.

Seseorang yang karena gelar kyainya merasa benar sendiri sejatinya tak lebih baik dari seekor kodok yang sepanjang hidupnya terkurung dalam tempurung. Dan ironisnya, menteri agama dan presiden membiarkan para kodok ini menjadi penjajah akidah..

Setara Institute mencatat, sejak awal tahun hingga Juni kemarin, terjadi sedikitnya 122 kekerasan terhadap kebebasan berkeyakinan, termasuk terhadap warga Syiah dan Ahmadiyah. Mereka ditimpuki, diburu, serta diusir.

Jika penafsiran berbeda atas agama mengakibatkan terusirnya sekelompok orang dan tercabutnya sejumlah nyawa, maka kita harus mengucapkan innalillahi pada bhineka tunggal ika. Presiden dan menteri agama ikut menebar bunga di atas pusara itu.

Kemerdekaan 100 persen yang didamba Soedirman, pada akhirnya, masih harus menunggu, entah sampai kapan..

_DW_

Baca Juga:
Ayat-ayat Kodok
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Taraweh Nabi Adam
Banyak Berdoa, Sedikit Meminta
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: