Skip to content

Singa Ompong di Kandang Emas

August 5, 2013


Gemerlap di luar, suram di dalam. Perumpamaan itu yang ingin diungkapkan Roy Hodgson untuk mengilustrasikan kondisi sepak bola Inggris saat ini.

Berbicara di depan Asosiasi Manajer Liga Premier awal Juni lalu, pelatih tim nasional Inggris itu mengeluhkan sulitnya mencari pemain untuk the Three Lions — julukan tim nasional Inggris.

“Dari beberapa pemain yang tampil bagus di Liga Premier, saya tidak melihat ada dari mereka yang berasal dari Inggris,” katanya. “Lebih dari dua pertiga pemain di Liga Premier bahkan tak bisa bahasa Inggris.”

Kritik pedas Hodgson itu ditujukan langsung untuk Liga Premier Inggris. Liga ini menjadi kompetisi paling kinclong di dunia. Di sana ada Manchester United, Chelsea, Arsenal, serta Liverpool.

Separuh bintang top dunia juga merumput di sana. Sebut saja Robin van Persie, Gareth Bale, Luiz Suarez, Juan Mata, Podolski, David Silva, dan Fernando Torres. Tak heran jika kompetisi ini menjadi yang paling banyak menyedot perhatian.

Tapi Hodgson masygul. Sebab, ditengah gemerlap itu, sumbangsih Liga Premier ke tim nasional Inggris sangat minim. “Dari semua liga, tingkat pertumbuhan pemain lokal kami terendah,” kata Hodgson. “Ini persoalan besar bagi pelatih tim nasional.”

Roy mengatakan saat ini tim-tim Liga Premier lebih doyan membeli pemain dari luar. Akibatnya, pembinaan pemain-pemain muda terabaikan. Stok pemain untuk tim nasional pun menyusut. “Bagaimana mau menyeleksi mereka jika tak ada pemain yang memenuhi syarat.”

foto: the sun

foto: the sun

Hodgson wajar masygul. Sebab jumlah pemain asing yang merumput di Liga Premier memang membludak. Ketika Liga Premier pertama kali digelar pada 1992, hanya ada 13 pemain asing yang merumput di Inggris.

Kini kondisinya berbalik: hampir semua pemain bintang yang bermain di Liga Premier adalah pemain asing. Jumlah mereka terus meningkat setiap tahun. Pada 2001 jumlah pemain asing mencapai 36 persen. Tiga tahun kemudian jumlah mereka membengkak menjadi 45 persen!

Jika dirata-ratakan, sejak 2009, pemain asing yang merumput di Liga Premier mencapai 40 persen. Angka ini membuat para pemain Inggris hanya menjadi penonton, mereka terpinggirkan dan gigit jari di bangku cadangan.

Harian The Guardian yang terbit di Inggris mencatat dari 189 pemain asal Inggris yang bermain di Liga Primer, hanya 29 pemain yang bermain di empat klub papan atas Liga Primer. Selebihnya dikuasai pemain asing.

Jam terbang Ke-29 pemain Inggris itupun masih terhitung minim. Rata-rata mereka hanya bermain selama 611 menit sepanjang musim. Bandingkan dengan para pemain lokal Spanyol di La Liga yang rata-rata bermain selama 1.131 menit.

Sudah minim, jam terbang pun dipangkas. Nasib pemain lokal pun makin miris. Kondisi ini boleh jadi karena banyaknya klub-klub Inggris yang berpindah tangan ke investor asing.

Terakhir, klub asal London, Fulham, dibeli pengusaha otomotif asal Amerika, Shahid Khan. Dari total 20 klub yang berlaga di Liga Premier, 9 di antaranya dimiliki investor asing.

Mereka yaitu Aston Villa, Chelsea, Fulham, Liverpool, Manchester United, Manchester City, Portsmouth, Westham, dan Sunderland.

Para investor asing itu, tentu saja, berorientasi laba. Mereka lebih suka mendatangkan pemain-pemain bintang dari luar ketimbang menggosok talenta lokal karena butuh hasil cepat.

foto: espn.go.com

foto: espn.go.com

Bahkan klub seperti Manchester City, Queens Park Rangers, Swansea City, serta Wigan Athletic sama sekali tidak memiliki akademi. Mereka lebih suka membeli pemain asing ketimbang membina pemain lokal.

Membeli pemain bintang dari luar memang lebih menggiurkan. Kehadiran mereka langsung mendongkrak popularitas klub. Sponsor pun berdatangan. Modal yang telah digelontorkan pun kembali lebih cepat.

Sementara jika membina pemain muda, membutuhkan waktu bertahun-tahun! Tak heran jika para taipan ini berani jor-joran menggelontorkan dana.

Musim lalu, klub-klub Liga Premier menggelontorkan dana tak kurang dari Rp 8,3 triliun. Angka ini menjadikan Liga Premier sebagai liga paling boros di dunia.

Total belanja klub-klub Liga Premier itu dua kali lipat lebih banyak dari total belanja pemain yang digelontorkan klub-klub Liga Seri A Italia yang hanya mengeluarkan sekitar Rp 4,6 triliun.

Bahkan La Liga, kompetisi yang menopang tim nasional Spanyol saat mereka menjuarai Piala dunia 2010 dan Piala Eropa 2018 dan 2012, hanya menghabiskan Rp 1,7 triliun untuk belanja pemain.

Dominasi klub-klub Liga Premier di bursa transfer bertahan hingga musim ini. Sampai pertengahan Juli lalu, mereka telah merogoh tak kurang dari 291 juta euro untuk membeli pemain baru!

Duit berlimpah, jumlah pemain asing pun makin gemuk. Kondisi ini memuat gusar Manajer tim nasional Inggris U-20, Peter Taylor. Seperti Roy Hodgson, ia menilai banjir pemain asing itu membuat pemain-pemain muda Inggris menjadi mandul.

“Jika anda datang ke negara lain maka anda akan melihat bahwa jumlah pemain asing yang bermain di kasta tertinggi mereka tidak akan sebanyak di sini,” katanya. “Jumlah mereka harusnya dibatasi.”

Peter baru saja menelan pil pahit setelah tim nasional U-21 yang dibesutnya terdepak dari Piala Dunia U-20 setelah ditekuk 2-0 oleh Mesir. Mereka pulang dengan menanggung malu karena hanya meraih dua poin dari dua pertandingan pembuka.

Presiden FIFA, Sepp Blatter, juga angkat bicara. Jumlah pemain asing yang berlebih, kata Sepp, membuat tim nasional Inggris selalu terpuruk di kompetisi internasional.

“Mereka harus bercermin pada Spanyol, Italia, dan Jerman. Di sana lebih dari 80 persen pemain yang memperkuat tim nasional mereka bermain di liga sendiri,” kata Blatter.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), David Bornstein, juga menyampaikan hal senada. Liga Premier semestinya mencontoh Bundesliga dalam hal komposisi pemain lokal.

Di liga Jerman itu, pemain lokalnya mencapai 60 persen. Sementara di Inggris pemain lokal tak sampai 40 persen.
“Hasilnya bisa dilihat dari perbandingan kualitas tim nasional kedua negara tersebut,” kata Bornstein.

Tim nasional Inggris memang selalu terpuruk di ajang internasional. Sejak memenangi Piala Dunia 1966, mereka tak pernah lagi menjadi juara. Paling banter mereka hanya sampai perempat final. Bahkan, pada 2008, mereka tak lolos ke Piala Dunia.

Di Piala Eropa, nasib mereka lebih nahas. Sejak piala paling bergengsi di Benua Biru itu digelar pada 1960, tak sekalipun Inggris menjadi juara. Mereka selalu hanya menjadi tim penggembira.

Mantan bek kanan timnas Inggris dan Manchester United, Gary Neville, menilai keterpurukkan tim nasional Inggris tak semata karena minimnya pemain lokal yang berkompetisi di Liga Premier. “Tapi juga karena kurangnya pelatih bersertifikat UEFA.”

Neville mencontohkan, di Spanyol rasio pelatih bersertifikat pada 2010 1:17. Artinya satu orang pelatih membina 17 pemain. Sementara di Inggris satu orang pelatih harus menangani 872 pemain sekaligus!

Kritikan bertubi-tubi itu rupanya membuat panas kuping CEO Liga Premier, Richard Scudamore. Operator Liga Premier ini tak terima dijadikan kambing hitam dari merosotnya prestasi tim nasional Inggris.

Richard Scudamore

Richard Scudamore

“Kita tidak lagi memenangkan Piala Dunia sejak 1966. Liga Premier baru dimulai pada 1992. Apa yang terjadi antara 1966 dan 1992? Siapa yang salah?” katanya, akhir Juli lalu. “Jika Inggris tidak memenangkan sesuatu itu bukan salah kami.”

Scudamore justru menyerang balik. Ia menilai federasi sepak bola Inggrislah yang seharusnya dipersalahkan. “Apa yang dikerjakan orang-orang FA itu? Bagaimana dengan akuntabilitas mereka?”

Scudamore dan FA hingga kini masih saling menarik urat syaraf. Para pemain Inggris pun, lagi-lagi, hanya jadi penonton. Di antara gemerlap Liga Premier, mereka seperti singa ompong di kandang emas.

TRANSFERMARKT | SKY SPORTS | TELEGRAPH | DW

dimuat di Koran Tempo Edisi Minggu 5 Agustus 2013

Baca Juga:
Menanti Tarian Neymar di Camp Nou
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kala Fergie Meracik Madu dan Roti
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Skandal Gigi di Padang Golf
Kisah Blanco dari Negeri Tango
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Tato di Bahu Leo

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: