Skip to content

Reinkarnasi Jengki

August 1, 2013

jengki jadi sampingBanyak hal yang sebenarnya sederhana namun kita menjadikannya rumit. Bukan karena kita begitu bodoh mau merepotkan diri, tapi karena sesuatu yang mudah dan gampang sepertinya kurang nyeni, kurang menantang, dan karenanya tak menarik.

Soal perabotan rumah, saya dan istri termasuk yang suka merepotkan diri sendiri itu. Sebab kami ingin semua hal di rumah ini punya kisahnya sendiri. Bukan apa-apa, rumah kami kecil, kalau isinya tak unik, lantas apa istimewanya?

Untuk ruang tamu, misalnya, kami sepakat mengisinya dengan kursi model jengki. Model ini beken di era 60-70an. Ciri khasnya bagian kaki-kakinya meruncing ke bawah mirip pensil. Bentuknya yang unik dan langka pastinya akan menciptakan suasana “keduluan”.

Alasan lain, model jengki biasanya simpel dan ringkas, sangat cocok untuk ruang tamu berukuran mini. Plusnya lagi, ini mungkin yang utama, konstruksinya terbuat dari jati tua sehingga kekuatannya jangan ditanya.

Itu sebabnya perajin kayu ketika itu pede memasang kaki-kaki kurus ala pensil, sebab kayunya memang sangat kuat. Kualitas kayunya ini bisa dilihat dari warnanya yang coklat kehitaman.

Bandingkan dengan kursi-kursi jati yang sekarang banyak beredar. Kebanyakan kayunya berwarna coklat muda atau bahkan putih kekuningan seperti gading, itu pertanda usia jatinya belum akil balig ketika ditebang.P1100594

Kisah kelahiran jengki ternyata juga menarik. Gaya ini konon dicetuskan langsung Bung Karno untuk menandingi gaya arsitektur kolonial. Jengki berasal dair kata Yankee, sebuah sebutan bagi orang-orang New England yang tinggal di bagian Utara Amerika Serikat.

So, bisa dibilang, model jengki adalah perlawanan para tukang kayu terhadap penjajahan arsitektural. Menghadirkannya di ruang tamu berarti meneguhkan keindonesiaan kita di rumah (prettt) sekaligus membantu perjuangan mereka! Merdeka!

Kembali ke ruang tamu, setelah sepakat dengan kursi jengki, langkah berikutnya adalah mencarinya. Ini akan menjadi proses yang panjang dan melelahkan. Sebab tak mungkin mencari kursi jaman Led Zeppelin berkibar itu di Informa, Index, atau Home Solution.

Satu-satunya cara mendapatkannya hanya dengan memburunya ke toko-toko furniture bekas. Untuk itu berarti harus blusukan, bergelut dengan debu dan waktu.

Dua tempat di sekitar Jakarta yang menjadi pusat furniture rongsokan adalah Ciputat dan Kemang. Setiap wiken, ke sanalah kami berburu. Menyantroni satu demi satu toko, memasuki ruang-ruang pengap berdebu –satu di antaranya penuh tahi burung, serta mengais-ngais rongsokan ternyata menyenangkan.

Sayangnya, meski tokonya berderet-deret sepanjang jalan, hanya segelintir yang menyimpan kursi jengki. Itu pun bandrolnya bikin sakit kepala. Satu bangku harganya bisa menyentuh angka Rp 1,5 juta!

Kursi jadul tapi harganya melebihi kursi anyar. Sisi ini selalu sukses bikin perut saya mulas. Tapi bisa dimaklumi sih. Jengki, seperti juga barang antik, harganya memang suka-suka gue.

Kalau harganya ga cocok, silahkan cari di tempat lain. Persoalannya, tempat lain itu dimana? Bisa jadi cuma toko itu yang menjualnya. Maklum, namanya juga barang langka. Pomeo pembeli adalah raja, maaf saja, tak berlaku di dunia rongsokan ini.

jengki mentahJangan bayangkan pula kondisi kursi di toko-toko furniture bekas itu layak pakai. Nasib mereka menyedihkan. Beberapa di antaranya bahkan tak lagi utuh. Ada yang sandaran lengannya hilang, kakinya copot, atau rem kayunya patah. Butuh imajinasi untuk membayangkan bentuk utuhnya!

Sebenarnya ada alternatif lain, yakni membuat kursi model jengki sendiri. Bahannya tetap kayu jati tua. Toko-toko furniture bekas biasanya menawarkan alternatif ini. Tapi opsi ini saya coret.

Kalau bikin sendiri, apa bedanya dengan membeli baru? Tak ada perjuangannya, tak ada riwayatnya, dan yang terpenting: gak orisinil! Padahal faktor itu yang jadi nilai utama barang langka.

Jadi kami terus melanjutkan pencarian. Hampir 4 bulan bolak-balik ciputat-kemang sampai kenal dengan satu-dua pemilik toko. Hasilnya nihil.

Di bulan ke-4 asa mulai meredup. Kami lalu mengubah strategi, tak lagi mencari kursi satu set, tapi mencicilnya. Kalau ada kursi, ya kursi dulu, meski hanya satu. Kalau ada meja, ya meja dulu.

Hasilnya, kami menemukan meja berbentuk mangga di salah satu toko di kemang. Ini meja model antik dengan tiga kaki meruncing ke bawah. Dan yang terpenting, harganya relatif murah. Jadilah itu barang berpindah tempat.IMG00007-20130713-1445

Ibu saya tertawa saat melihatnya. Bukan karena bentuknya, tapi karena kesendiriannya. Meja tanpa kursi memang seperti pengantin yang duduk sendirian di pelaminan. Kasihan dia.

Tapi kesendiriannya tak lama. Dua pekan kemudian, kami menemukan kursi “ajaib” di salah satu toko di Ciputat, terjepit di antara tumpukan meja dan kursi. Bentuknya utuh, meski kumuh. Harganya relatif tak murah, tapi satu set: 2+1+1+1. Ini jarang-jarang, lho!

Saya persingkat, kami akhirnya meminangnya. Butuh waktu satu minggu untuk kembali menghidupkan aura masa lalunya. Setelah itu tinggal proses pemasangan jok. Istri saya memilih warna-warna cerah: merah dan oranye.

Mahluk-mahluk manis itu kini sudah menemani meja mangga di ruang tamu kami. Melihat mereka bereinkarnasi menghadirkan keharuan tersendiri di hati. “Ini langkah kecil kami untuk mengurangi penebangan pohon di hutan,” kata istri saya.

_DW_

Baca Juga:
Rumah Surga yang Tak Sempurna
Mewahnya Jendela Samping
Kalau Bisa Beli, Kenapa Bikin?

13 Comments leave one →
  1. October 14, 2013 10:27 pm

    Sangat “inspiratif “kisahnya mudah2an jejaknya bisa saya ikuti salam kenal dari yang sedang berjuang berburu kursi jengki yang belum nemu2

    • October 17, 2013 6:38 pm

      selamat berburu mba, melelahkan tapi pastinya akan sangat menyenangkan!

  2. felicia permalink
    October 23, 2013 9:04 am

    Waah… pasti puas banget ya setelah lihat hasilnya! Salut deh!

    Kami sedang berburu jengki-jengki antik juga.

    Kalau berkenan kami tolong diberikan input untuk beberapa pertanyaan kami dong?

    1. Finishing dilakukan di mana?
    Kebetulan keluarga punya rumah tua di Jawa yang penuh jengki-jengki tua. tapi perlu di-refinish.
    2. Untuk pemasangan jok dilakukan di manakah?
    Karena jok-jok baru yang kami lihat di sekitaran ciputat pemasangannya kurang bagus, terlalu tebal dll, sehingga keanggunan jengki itu sendiri yang khas dengan kerampingannya jadi rusak.

    • October 25, 2013 10:16 pm

      Hi..
      Iya kalau mengingat perjuanganya mencari jengki, puas banget rasanya..hehe.
      1. finishingnya saya di ciputat, tapi bukan finishing sih karena waktu nemu kursi itu kondisinya masih lumayan, jadi tinggal di wax aja dah cakep lagi.
      2. jok masang di pondok pinang. untuk model jok dan ukuran bisa dikonsep sendiri kok, mba. tinggal desain modelnya aja plus ukuran ketebalan dan jenis busanya, nanti mereka yang bikin.
      selain di ciputat, jengki2 juga banyak di kemang. harganya, di beberapa toko, justru lebih murah di kemang. saya, misalnya, dapat meja mangga di kemang dengan harga yang lumayan miring (hampir setengah harga yang ditawarin di ciputat)🙂
      Selamat berburu!

      • felicia permalink
        October 31, 2013 10:31 am

        Wah! Thank you buat inputnya!!
        Belum pernah lihat yang di Kemang, karena terkesan mahal, tapi malah justru lebih murah ya? Hehe.
        Kalau boleh tau nama toko jok di pondok pinang apa ya? Kalau ada nomor kontaknya sekalian🙂

      • November 11, 2013 3:34 pm

        sama-sama mba. toko jok di pondok pinang namanya fortuna, nggak begitu jauh kok dari gedung fedex, kalo dari lebak bulus, posisinya di sebelah kiri jalan. waduh maaf, nomer teleponnya saya lupa..

  3. October 28, 2013 12:53 pm

    Hi…keren banget jengki-nya!

    Kebetulan saya lagi hunting juga nih, belum dapat lokasinya. Kalo boleh tau toko di kemang namanya apa dan sebelah mana tepatnya yah?

    Tks

    • November 11, 2013 3:37 pm

      Bisa coba telusuri jalan Kemang Timur aja Pak. Di sepanjang jalan itu banyak kok toko furniture2 tua, di kiri atau di kanan jalan…

      • angga permalink
        June 5, 2015 12:54 pm

        beli kursi bekas ny aja abis berapa mba/om

      • June 25, 2015 5:43 pm

        2,5 juta satu set mas: dua kursi kecil dan satu kursi panjang.

  4. mattoafurniture permalink
    July 15, 2015 6:33 pm

    Reblogged this on mattoa furniture and commented:
    Yess…sangat menarik.

  5. rama permalink
    February 3, 2016 3:26 am

    mau tanya, peremajaan kursi jengki nya habis berapa ya ?

    • April 10, 2016 6:49 pm

      tergantung kondisinya. tapi kalo hanya pernis ulang sih biasanya ga mahal kok. coba main aja ke kemang atau jalan juanda di ciputat. di sana banyak yang bisa restore..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: