Skip to content

Menanti Tarian Neymar di Camp Nou

July 26, 2013

Neymar tampil sebagai ikon baru dalam sepak bola Brasil. Digadang-gadang menggantikan Pele.

Tingginya tak sampai 160 centimeter, bobotnya pun hanya 55 kilogram, tapi kelincahannya sulit dibendung. Di lapangan futsal, bocah berusia 11 tahun itu meliuk-liuk, memutar tubuh, kemudian menyelinap di antara kawalan pemain belakang. Ia menjadikan lapangan futsal bak panggung balet.

“Dia sekarang menjadi ikon,” kata Ermenegildo Pinheiro da Costa Miranda, Direktur Administrasi Sekolah Liceu di Sao Paulo, Brasil, sembari menunjuk pemain berkostum putih-hitam dengan nomor punggung 7 yang “menari-nari” di layar teve itu.

Miranda selalu memutar cuplikan pertandingan futsal yang berlangsung pada 2004 itu setiap kali ada yang bertanya tentang Neymar da Silva Santos Júnior. Yap, bocah ajaib yang membuatnya takjub tujuh keliling itu memang Neymar, pemain klub sepak bola Santos FC yang musim depan berkostum Barcelona.

Neymar bersekolah di Liceu saat berusia 11 tahun. Pada saat yang sama ia juga terdaftar di akademi sepak bola milik Santos FC, klub sepak bola elit di Brasil. “Dualisme” ini kerap membuat Miranda geram. Persoalannya, kata Miranda, “Nilai matematikanya payah.”

Miranda wajar geram. Sebab Neymar –bersama adiknya Rafaela– duduk di bangku sekolah Liceu lantaran mendapat beasiswa. Tapi, alih-alih rajin belajar, “Yang ada di kepalanya hanya bola, bola, dan bola. Tak ada yang lainnya.”

Neymar memang jarang mengebet buku. Sepulang sekolah, ia langsung ngacir ke akademi sepak bola Santos FC. Jika tak ada jadwal latihan, ia pergi ke lapangan atau pantai. Di sana, bersama teman-temannya, ia bermain bola.

Gawangnya adalah dua sendal jepit yang dijejer selebar 1,5 meter. Bolanya bisa apa saja, bisa bola plastik atau sekedar buntalan plastik yang diikat. Pokoknya apa saja selama bisa digiring dan ditendang. Praktis tak ada hari tanpa bola dan karenanya tak ada hari untuk benar-benar belajar.

ilustrasi: thetouchlinetimes.com

ilustrasi: thetouchlinetimes.com

Bagi kebanyakan anak Brasil, bermainan bola di jalanan menjadi satu-satunya cara melupakan kemiskinan –sekitar 50 orang hidup miskin di Brasil pada 2002. Neymar satu diantara mereka. Sehingga, sepak bola jalanan pun menjadi hiburan, tempat berekspresi dan bersenang-senang.

Tak heran jika mereka lebih doyan beratraksi meliukkan tubuh atau memainkan ritme kaki alias menggocek ketimbang mencetak gol. Kalau sudah begitu, mereka lebih mirip rombongan penari cilik dibanding pemain bola.

Di antara anak-anak itu, Neymar menjadi seniman cilik yang paling mencolok. Caranya meliukkan tubuh, ritme kaki dan gerak tipu plus kelincahannya membuat namanya jadi buah bibir. Ia telah menjadi bintang kampung sebelum menjadi bintang sesungguhnya di Santos FC 6 tahun kemudian.

Tapi Neymar Sr, Sang Ayah, tak tahu. Ia megap-megap mencari nafkah sehingga tak punya banyak waktu di rumah. Neymar Sr semula pemain di klub sepak bola lokal di kota Mogi das Cruzes, sekitar 25 mil dari Sao Paulo. Di kota inilah Neymar lahir pada 5 Februari 1992.

Namun Neymar Sr terpaksa menggantung sepatu setelah kecelakaan mobil. Jadi pengangguran tanpa penghasilan, Neymar Sr lalu memboyong istri dan putranya ke kampung halamannya di Sao Vicente. Di kota kecil ini mereka tinggal di sepetak rumah.

Foto: whatculture.com

Foto: whatculture.com


Untuk menghidupi keluarga, ia bekerja serabutan, mulai dari montir mobil hingga tukang batu. Istrinya, Nadine Santos, bekerja sebagai juru masak di tempat penitipan anak. “Kami tidak memulai dari nol,” kata Neymar Sr. “Tapi dari minus 5.”

Neymar Sr baru menyadari bakat anaknya saat seorang bernama Roberto Antonio dos Santos –biasa disapa Betinho– mengetuk pintu rumahnya pada suatu pagi pada 1999. Betinho adalah pencari bakat untuk tim futsal.

Ia kepincut saat melihat aksi Neymar di jalanan. Gaya bermain anak itu mengingatkannya pada satu nama yang 8 tahun lalu ia rekrut: Robinho –kini bermain di AC Milan. “Neymar memiliki keseimbangan tubuh yang sangat baik,” kata Betinho. “Dalam banyak aspek ia mirip Robinho.”

Tak sulit menyakinkan Neymar Sr akan potensi anaknya. Sebab Neymar Sr sejak lama bercita-cita menjadi pemain top. Apalagi, menjadi pemain sepak bola profesional adalah tiket yang paling mungkin mereka raih untuk keluar dari kemiskinan.

Neymar Sr dan Betinho kemudian sepakat. Mereka bersalaman. Sejak itu Betinho resmi menjadi pelatih sekaligus manajer Neymar yang saat itu baru berusia 8 tahun.

Tiga tahun kemudian Neymar masuk akademi sepak bola Santos FC. Gaji pertamanya 10 ribu reais per bulan. Ayahnya, yang melihat masa depan anaknya mulai cerah, memutuskan berhenti bekerja. Bersama Betinho, ia fokus diri mengurus semua keperluan Neymar.

Mereka membeli sebuah rumah di dekat Stadion Vila Belmiro, markas Santos FC. Kehidupan keluarga Neymar mulai merangkak naik. Setahun kemudian gajinya naik menjadi 25 ribu reais per bulan. Saat usianya 14 tahun, datang tawaran Real Madrid.

Klub kaya asal Spanyol itu meminta Neymar segera terbang ke Madrid untuk mengikuti tes. Ronaldo dan Robinho pernah bermain di sana. Kini mereka kaya raya. Jalan keluar dari jerat kemiskinan makin terbentang di depan mata.

Bersama Betinho, bapak-anak itu lalu terbang ke Madrid. Selama 20 hari Neymar menjalani serangkaian tes di akademi Real Madrid. Emilio Butragueno, Direktur Real Madrid ketika itu, kesengsem melihat aksi Neymar. Namun Los Blancos –julukan Real Madrid– gagal mendapatkan tanda tangan Neymar lantaran interupsi Santos FC.

Santos FC menjanjikan satu tempat untuk Neymar di tim utama begitu usianya 17 tahun plus bonus sebesar 500 ribu dollar AS. Tawaran ini langsung disambut Neymar Sr. Kepada petinggi Real Madrid, ia beralasan anaknya belum siap bermain di Eropa. “Lagi pula di Madrid terlalu dingin,” katanya. “Dan tidak ada pantai.”

Tiga tahun kemudian Santos memenuhi janji mereka. 7 March 2009, ketika Neymar telah berulangtahun ke-17, ia langsung disodori kontrak. Gajinya 4 juta dollar AS atau Rp 38 miliar per tahun. Mereka pun resmi tak miskin lagi.

Musim pertamanya bersama Santos FC, Neymar tampil cemerlang. Ia mencetak 14 gol dari 48 pertandingan. Musim berikutnya ia mencetak 42 gol dari 60 pertandingan. Torehan ini membuat klub Liga Premier Inggris, Westham United, kepincut.

Mereka mengutus agen untuk melamar Neymar dengan mahar 12 juta pound sterling. Tak lama kemudian giliran Chelsea yang kesengsem. The Blues –julukan Chelsea– menawar lebih tinggi: 20 juta pound sterling.

Santos menolak pinangan kedua klub tersebut. Gaji Neymar dinaikkan 50 persen. Pundi-pundi keluarga Neymar makin gemuk dengan merapatnya sejumlah sponsor besar, antara lain Nike dan Red Bull.

Total pendapatannya dari sponsor mencapai 4 juta dollar AS, hampir sama dengan gajinya di Santos. Jumlah ini tak kalah banyak dengan pendapatan dari sponsor yang diterima Beckham, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan seniornya di tim Brasil, Kaka.

Pada musim 2011/12, Neymar makin menggila. Ia membawa Santos meraih trofi Copa Libertadores, yang terakhir kali mereka raih pada 1963 ketika masih diperkuat Pele. Sejak itu, orang mulai menyamakan dirnya dengan legenda sepak bola Brasil itu.

Duit pun makin deras mengalir. Gaya hidupnya berubah. Neymar membeli sederet rumah mewah, seperti sebuah mansion di pantai utara Sao Paulo seharga 2 juta dollar AS dan sebuah flat seharga 150 ribu dollar AS di Sao Paulo.

Ia juga membeli Porsche Panamera Turbo serharga 400 ribu atau Rp 4 miliar. Mobil super mewah ini segera menyingkirkan Volvo XC60, mobil pertamanya yang ia beli dua tahun sebelumnya. Tapi itu belum seberapa dibanding yacht bekas yang dibelinya seharga Rp 75 miliar dengan biaya perawatan Rp 1 miliar per tahun.

foto: futbolita.com

foto: futbolita.com


Muda, kaya raya, dan karenanya boros. Seorang wartawan Majalah Forbes, Christina Settimi, menudingnya lupa daratan. “Neymar sudah membelanjakan uangnya secara berlebihan,” kata Settimi. Jika tak dihentikan, Neymar bisa bangkrut seperti Romario, mantan bintang Brasil yang menanggung hutang Rp 47 miliar di akhir karirnya.

Tapi Neymar rupanya punya “rem” sendiri. Tak banyak orang tahu, meski boros dan doyan berpesta, ternyata Neymar akrab dengan Tuhan. Ia rajin datang ke Gereja Baptis Peniel di Sao Paolo setiap kamis.

Lobato, pastor muda di gereja tersebut, mengatakan Neymar datang ke sana untuk mencari “tombol reset”. “Setiap mengalami tekanan dia akan datang ke sini untuk berlutut lalu menangis,” katanya. “Dia haus akan Tuhan.”

Rutinitasnya mengunjungi gereja sekaligus menjadi penyeimbang sikap bengalnya. Dia, misalnya, pernah membuat geram ayahnya ketika akan bertanding pada 2010. Sebelum pertandingan dimulai, Neymar diam-diam mampir ke salon. Di sana ia memohawk rambutnya.

Sang ayah yang duduk manis di tribun untuk menonton anaknya bertanding, terkejut begitu melihat rambut Neymar kini mirip duri ikan. “Saya ingin mengejar lalu mencekeknya,” katanya.

Tapi ia tak pernah benar-benar melakukannya. Sebab dalam laga itu Neymar mencetak dua gol dan rambut duri ikannya langsung menjadi tren. “Saya kira ketika itu hanya presiden Brasil yang tak mau memohawk rambutnya,” kata Neymar Sr terkekeh.

Neymar memang bukan Lionel Messi yang hidupnya lurus-lurus saja. Penggemar makanan italia dan Jepang ini penuh kejutan, kaya sensasi, serta doyan joget. Kebetulan, musim depan nanti keduanya akan berduet di Camp Nou, markas Barcelona.

Banyak yang menyangsikan Neymar masih bisa menari-nari di antara Messi, Xavi Hernandes, dan Andres Iniesta. Neymar menjawab keraguan itu dengan menceploskan satu gol –dari 3 gol Brasil– ke gawang tim nasional spanyol di final Piala Konfederasi 2013 pekan lalu.

Kemenangan itu membawa Brasil mencetak hattrick alias tiga kali kemenangan beruntun di Piala Konfederasi. Neymar terpilih sebagai pemain terbaik di turnamen tersebut, mengalahkan Andres Iniesta dari Spanyol.

Miranda mematikan DVD player yang memutar cuplikan-cuplikan pertandingan Neymar semasa masih di Liceu. Ia memang meragukan prestasi akademik bekas muridnya itu, tapi Neymar selalu mendapatkan kepercayaannya di lapangan bola. “Dia terlahir untuk itu.”

DW (MARCA | NEW YORK TIMES | ESPN | FORBES)
*dimuat di Majalah Tempo Edisi 8 Juli 2013

Baca Juga:
Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Tak Bosan-bosan Merasa Bosan
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: