Skip to content

Teraweh Nabi Adam

July 22, 2013

ilustrasi: mystiquelolita3298.blogspot.com

ilustrasi: mystiquelolita3298.blogspot.com

“Perasaan kamu kok ga pernah teraweh?” tanya seorang teman setelah buka puasa sore ini. Sambil menikmati lontong dan bakwan yang dicampur sambel kacang saya hanya menyahut sekenanya, “Nabi aja nggak teraweh kok.”

Rupanya dia menanggapi serius. Kacamatanya dinaikkan ke atas hingga nangkring di jidatnya. Bangkunya digeser hingga persis berada di depanku. ‘Wah, berabe ini. Bisa panjang urusannya,’ batinku.

Benar saja. Dia berpidato hampir lima menit. Isinya kira-kira mirip ceramah ustad-ustad di teve atau masjid: taraweh itu ibadah sunah yang pahalanya berlipat kali. “Istimewa karena hanya ada di Ramadan,” katanya.

Kalau saja dia mengutip hadis atau menukil ayat Quran, niscaya dia akan jadi ustad beneran. Setidaknya, gaya bicaranya sudah mirip, meski kurang difasih-fasihkan.

“Itu dari kacamata agama,” kataku setelah menelan suapan lontong terakhir. “Dari kacamata sejarah bagaimana? Saya kok ngga pernah baca sejarah nabi itu taraweh ya?”

“Lho,” katanya sambil menegakkan tubuh. “Sampeyan piye tho, kalau ada sunahnya ya pasti ada sejarahnya. Memangnya dari mana sahabat itu mencontoh kalau nabi tidak melaksanakannya.”

“Sahabat? Memangnya saat itu nabi punya sahabat?”

“Ya buanyak,” katanya. “Jaman sahabat Umar itu ramai orang teraweh, banyak itu di buku-buku sejarah –Abu Bakar dilongkap karena memang tak ada teraweh berjamaah di jaman khalifah pertama itu. Sampeyan meski kelewatan baca bab itu.”

“Lho, jadi kita ini bicarakan nabi siapa toh?”

“Ya Nabi Muhammad. Memangnya siapa?”

“Walah..yang saya maksud tadi Nabi Adam.”

“Semprul!” semprotnya sambil balik badan.

_DW_

Baca Juga:

Banyak Berdoa, Sedikit Meminta
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: