Skip to content

Hajat

July 20, 2013

Sudah sepuluh menit berlalu sejak imam masjid memimpin doa. Tangan mulai terasa pegal, ujung jari kaki kesemutan, tapi belum ada tanda-tanda doa akan berakhir.

Koor ‘Amiiin’ yang semula gegap gempita mulai lesu. Beberapa orang bahkan menguap. Tapi sang imam tetap kusyu, matanya memejam, mulutnya -mungkin- berbusa.

“Kenapa doa jadi begini bertele-tele?” protes Seno begitu mereka meninggalkan masjid –imam itu menutup doanya lima menit kemudian. “Toh, yang diminta itu-itu aja: keselamatan, kebahagiaan, serta ampunan.”

“Hus, jangan begitu. Semakin banyak berdoa justru semakin baik, karena kita nggak tahu doa mana yang akan dikabulkan,” kata Zakir. “Selama tuh imam nggak minta diangkat jadi nabi, jangan protes.”

“Lha, gimana nggak protes kalo doanya panjang banget sampe bikin tangan gemeteran dan kaki mau copot?” semprot Seno. “Lagian, kalo doa hanya berisi daftar panjang permintaan, itu sama aja menunjukkan ketidakyakinan kita pada kebijaksanaan-Nya.”

Zakir menghentikan langkah. Keningnya berkerut. “Maksudnya?”

“Apa kamu yakin Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik buat kita?” Seno balik bertanya.

“Tentu saja.”

“Nah, kalau kamu yakin Dia akan memberikan yang terbaik, kenapa masih meminta ini-itu?” kata Seno. “Kalau Dia belum memberikan sesuatu, itu berarti sesuatu itu memang belum baik buat kita. Kenapa mendesak- Nya?”

Zakir memutar otak, mencerna ucapan tak terduga itu.

“Kalau kita menganggap apapun yang diberikan Tuhan itu pasti yang terbaik, kita juga harusnya menganggap apapun yang belum diberikan Tuhan itu juga yang terbaik,” Seno terus nyerocos.

“Sebab Tuhan tahu semua kebutuhan kita, tapi Dia menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya. Itu sebabnya nabi meminta kita tak hanya mensyukuri apa-apa yang ada, tapi juga apa-apa yang belum ada. Karena yang ada dan belum ada sama baiknya.”

“Ah, tapi kenapa Tuhan meminta kita sering-sering berdoa?”

“Karena Tuhan ingin eksis, Bro!” kata Seno. “Dengan berdoa, kita mengukuhkan Tuhan sebagai Sang Pencipta, sebagai Sang Pemberi. Itulah substansi doa: sebagai pernyataan kehambaan. Nah, apa pantas seorang hamba mendikte Tuhannya?”

“Mendikte?” Zakir makin bingung.

“Lho, meminta Tuhan agar memberikan ini-itu, bukannya itu mendikte?”

“Terus gimana baiknya dong?”

“Ya teruslah berdoa,” jawab Seno sambil melangkah lagi.

“Berdoa yang seperti apa?” Zakir menguntit.

Seperti ratapan punguk yang merindukan bulan.”

“Maksudnya?”

Seno tak menjawab. Ia mempercepat langkahnya. Sejak di masjid tadi perutnya tak karuan karena menahan hajat.

_DW_

Baca Juga:
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: