Skip to content

Banyak Berdoa, Sedikit Meminta

July 20, 2013

ilustrasi: leadership.ng

ilustrasi: leadership.ng

Malam telah larut. Angin sahara yang dingin menusuk-nusuk kulit. Kesunyian membekap bukit, rumah, serta pepohonan kurma yang tegak membisu.

Di tengah Masjidil Haram, seorang pemuda bergerak perlahan memutari Ka’bah. Matanya yang basah menatap langit yang sunyi. Lamat-lamat terdengar ia merintih.

“Duhai celakalah aku. Bertambah umurku dan bertumpuk dosaku. Tak sempat aku bertobat kepada-Mu. Sekarang aku malu menghadap-Mu,” pemuda itu menangis.

Langkahnya gontai. Sesekali ia menggenggam kiswah, menjaga tubuhnya agar tak jatuh. Kakinya gemetar. “Ilahi, apakah orang yang telah mencicipi manisnya cinta-Mu akan menginginkan pengganti selain-Mu, apakah orang yang telah bersanding di samping-Mu akan mencari penukar selain-Mu..”

Pemuda itu ambruk. Ia bersujud. Debu memenuhi wajahnya yang basah. Namun kata-kata masih meluncur dari bibirnya yang mulai kelu.

“Ya Tuhanku
Apakah Engkau akan menggelapkan wajah-wajah yang rebah tunduk karena kebesaran-Mu
Apakah Engkau akan membungkam lidah-lidah yang selalu bergetar memuji keagungan dan keluhuran-Mu
Apakah Engkau akan mengunci hati yang telah luluh dalam kecintaan pada-Mu
Apakah Engkau akan membelenggu tangan-tangan yang terangkat karena berharap memohonkan kasih-Mu
Apakah Engkau akan menyiksa tubuh-tubuh yang mematuhi-Mu hingga melepuh dalam mengabdi-Mu
Apakah Engkau akan mengazab kaki-kaki yang berlari mengejar Mu.”

Seorang tua yang diam-diam memerhatikan pemuda itu tak tahan lagi. Ia berhambur memeluknya. “Untuk apa segala rintihan ini? Kamilah yang bergelimang dosa sementara ayahmu adalah Husain dan ibumu Fathimah Az-Zahra. Rasulullah adalah kakekmu.”

Pemuda itu memandang pria yang memeluknya. Matanya masih berkilat karena basah. “Tolong jangan sebut-sebut ayah, ibu, dan kakekku. Allah menciptakan surga bagi yang menaati-Nya, walaupun ia seorang budak.”

Pemuda itu tak lain Ali Zainal Abidin as, Imam keempat dalam rangkaian Imam Ahli Bait. Kaum sufi mengenalnya sebagai Imam As-Sajjad karena sepanjang hidup ia lebih sering sujud ketimbang berdiri.

Ia banyak sekali berdoa, tapi sedikit sekali meminta. Doa yang meluncur dari mulut sucinya adalah untaian kerinduan seorang pecinta pada pencipta, kecemasan seorang mahluk pada keadilan-Nya, serta ungkapan syukur yang tak terukur.

Karenanya ia begitu puitis dan mistis. Menikmati setiap munajatnya di kitab Shahifah As-Sajjadiyah serasa membaca kumpulan sajak cinta. Imam As-Sajjad, melalui doa-doanya yang kemudian tercatat dalam kitab itu, mengajarkan bagaimana semestinya berdoa.

_DW_

Baca Juga:
Hajat
Tuhan Nggak Nongkrong di Masjid
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

Comments are closed.

%d bloggers like this: