Skip to content

Tuhan Gak Nongkrong di Masjid

July 8, 2013

Karen Armstrong masuk ke biara dengan idealisme setinggi langit lalu keluar 7 tahun kemudian dengan iman yang cacat. Ia kecewa. Biara, alih-alih mengakrabkannya dengan Tuhan, justru menjauhkannya.

Ia ingin mengenal Tuhan secara baik-baik, lewat rasa dan akal. Tapi biara mencecokinya dengan dokrin. Karen pun tersedak. Ia protes. “Apakah untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan harus menanggalkan akal sehat, mematikan pikiran, cinta, dan sikap kritis?”

Setelah 7 tahun di biara, Karen akhirnya keluar. Ia tak sanggup. Proses pencarian Tuhan semestinya bertolak dari pembebeasan diri dan pikiran dari segala dokrin dan dogma, bukan malah menungungkungnya.

“Agama membuatku terluka dan lelah,” katanya. Tapi ia tak sepenuhnya bisa melepaskakan diri dari agama.

Karen yang linglung kemudian terbang ke Yerusalem. Ia bertemu para Sufi dan Rabi Yahudi. Dari mereka ia ngeh: Tuhan bukan realitas di luar sana. Ia tak nongkrong di Biara, Gereja, atau Masjid, tapi bersemayam di dalam diri sendiri.

Karen, di luar kehendaknya, terjerat lagi dalam biara. Kali ini, biara itu bernama hati. Ia percaya, Tuhan hanya mungkin dipahami dengan intuisi –karenanya hanya bisa ditangkap dengan bahasa simbol.

Perjalanan Karen menemukan Tuhan yang ditulis Majalah Tempo pekan ini membuat saya terhenyak sekaligus bertanya: aslikah Tuhan yang selama ini saya sembah?

Jangan-jangan, Tuhan yang saya kenal hanya “produk” ciptaan ulama. Jika benar begitu, celaka dua belas. Sebab itu berarti saya sama sekali tak mengenalNya.

Tuhan versi ulama adalah sosok dan deretan panjang kata-kata. Mereka bilang Tuhan bertahta di langit, karena itu mendongaklah saat berdoa. Mereka menjembreng Tuhan dalam 99 asma. Tuhan diberi tempat, dikasih sifat.

Padahal, menjelaskan Tuhan dengan deretan kata seperti mengukur langit dengan mistar. Apalagi, jika kata-kata itu sekedar comotan dari ulama.

Seorang ulama sufi, maaf lupa namanya, berkata nyinyir: “Apapun yang kamu bayangkan tentang Tuhan, itu pasti bukan Tuhan. Sebab Tuhan yang asli tak mungkin muat dalam bayanganmu.”

Saya cemburu dengan Karen. Bisa jadi Tuhan yang dikenalnya pun bukan Tuhan yang asli. Tapi, setidaknya, ia terus mencari, dengan akal dan intuisi. Tak seperti saya yang hanya mangap di depan televisi, membiarkan ulama-ulama menyuapkan Tuhan yang bahkan saya telan tanpa mengunyah.

Selamat berpuasa. Saatnya membaca intuisi.

_DW_

Baca Juga:
Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: