Skip to content

Kepak Sayap Kupu-kupu di Trotoar Masjid

July 2, 2013

Pria itu memarkir Jeep Cherookenya di trotoar di samping masjid. Ia melirik jam yang melingkar di lengannya: pukul 2 lebih 22 menit. Waktu zuhur hampir habis. Ia pun bergegas masuk. ‘Sekalian menunggu asar,’ batinnya.

Tak lama kemudian Udin melintas. Ia terpaksa turun ke jalan untuk menghindari Jeep Cherokee yang memakan lahan trotoar. Malang bagi bapak dua anak ini, belum sempat kakinya menjejak aspal, tubuhnya disambar sepeda motor.

Udin terpental lalu jatuh berguling-guling. Pengendara sepeda motor terjungkal ke got. Semua terjadi begitu cepat. Udin sempat menggeliat kemudian diam tak bergerak. Pingsan.

Dua tukang ojek, pangkalannya tak jauh dari situ, berhambur mendekat. Mereka bergerak cepat: menyetop angkutan umum dan menggotong Udin dan pengendara motor ke dalam angkot. Mereka lalu meluncur ke rumah sakit.

Udin mengalami pendarahan otak –sepekan kemudian ia meninggal. Sementara pengendara sepeda motor yang ternyata pegawai honorer di perusahaan logistik mengalami patah rusuk dan tulang belakangnya retak –ia harus rehat 6 bulan dan karenanya tak mendapat gaji.

Selepas asar, pemilik Jeep itu ke luar masjid. Senyum mengembang di wajahnya. Langkahnya terasa ringan. Sebagai muslim, ia telah menuntaskan kewajibannya. Hatinya plong. Ia merasa telah menjadi muslim yang baik.

Ia sama sekali tak tahu jika jeepnya yang diparkir di trotoar itu membuat satu orang kehilangan nyawa, satu istri kehilangan suami, dua orang anak kehilangan bapak, serta seorang pegawai tak digaji setengah tahun.

Yang terjadi pada udin dan pegawai itu adalah –apa yang disebut kemudian sebagai– butterfly effect: perbuatan kecil seseorang memicu bola salju yang bergulir menghantam orang lain. Butterfly effect, atau efek kupu-kupu, merujuk pada kepakan sayap kupu-kupu di hutan Amazon yang secara teori bisa menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Pria itu menghidupkan mobilnya. Jeep bongsor itu melaju hingga perlahan lenyap di balik tikungan. Dua tukang ojek yang membawa udin dan pegawai logistik itu kembali ke pangkalan.

Hati mereka mencelos saat melihat trotoar itu kini melompong. “Siapa yang bertanggung jawab kalo begini,” kata seorang diantaranya. Tukang ojek lainnya hanya menarik nafas sambil berkata, “Sudahlah, pemilik mobil itu tak sepenuhnya salah. Kalau masjid itu menyediakan lahan parkir, semua ini nggak akan terjadi.”

_DW_

*terinspirasi dari kisah yang ditulis Muhsin Labib di laman facebooknya

Baca Juga:
Di Simpang Jalan Pedang
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: