Skip to content

Di Simpang Jalan Pedang

June 26, 2013

Di atas panggung kecil itu ia tampil memikat. Pilihan kata, intonasi, serta sorot matanya yang teduh membuat kami betah mendengar orasinya.

“Sekarang ini independensi jurnalis dipertanyakan karena media banyak yang telah berkongsi dengan pemilik modal dan politikus,” katanya.

Ia mengistilahkan kongsi segitiga itu sebagai perkawinan tak suci. Sebagai bisnis, tentu sah-sah saja pemilik modal, media, dan politikus berkongsi.

Tapi dalam jurnalistik, perkawinan yang sah itu tak bisa dianggap suci. Sebab indenpendensi adalah harga mati bagi setiap penempuh jalan pedang –istilah untuk wartawan yang sering dipakai wartawan senior Amarzan Lubis.

Saat ini semua ada harga rupiahnya dan karenanya bisa dibeli. Di titik ini, media seharusnya membuktikan diri, bahwa mereka bukan sekedar produk, tapi juga mewakili asas independensi. Itu prinsip.

“Asas jurnalisme majalah ini bukanlah jurnalisme untuk memaki atau mencibirkan bibir, juga tidak dimaksudkan untuk menjilat atau menghamba,” ia mengutip kalimat yang ditulis Goenawan Mohammad dalam edisi perdana Tempo, Maret 1971 .

Kalimat itu, setelah apa yang saya alami pekan lalu, terasa begitu mengharukan. Saya tak tahan untuk tak mengusap air mata ketika ia mengutip cerita Totok Amin Soefijanto, bekas wartawan Tempo yang kini menjadi wakil rektor Univesitas Paramadina.

“Saya ingin ada satu tempat di republik ini di mana orang-orangnya tak bisa dibeli,” katanya menirukan ucapan Totok. Kalimat itu aslinya keluar dari mulut GM –sapaan Goenawan Mohammad. Totok mendengar petuah itu ketika ia baru lulus seleksi Tempo tahun 80-an.

Saya terharu. Alhamdulillah, di tempat itulah saya masih berdiri, tempat di mana kami belajar untuk melepaskan bandrol. Banyak kantor yang membuat kita bangga karena kebesarannya, tapi sedikit yang bisa membuat kita terharu.

Orang itu lantas turun panggung. Tepuk tangan masih terdengar meski ia telah duduk kembali. Sejumlah wartawan senior yang hadir dalam peringatan pembredelan Majalah Tempo, Senin petang lalu, berdiri menyalaminya.

“Terimakasih Mas Anis,” kata pembawa acara. Anies yang dimaksud tak lain Anies Baswedan.

_DW_

Baca Juga:
Eksibisionis Sufi
Forum OB
Sendiri Membela Durno
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: