Skip to content

Sendiri Membela Durno

June 17, 2013

Ilustrasi: Majalah Tempo

Ilustrasi: Majalah Tempo

Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah di Jalan Semeru Raya, Grogol, Jakarta Barat, akhir September 1966. Seorang wanita berkerudung bergegas turun bersama seorang pria. Sampai di halaman, wanita itu menghentikan langkahnya.

“Dia menunggu di bawah pohon dan menyuruh pria yang bersamanya mengetuk pintu,” kata Yap Hong Gie, putra sulung Yap Thiam Hien, mengisahkan ulang cerita yang pernah dituturkan ibunya. “Wanita itu pakai kacamata hitam dan baru masuk setelah ayah membuka pintu.”

Wanita itu tak lain Hurustiati, istri pertama Soebandrio. Soebandrio adalah tangan kanan Presiden Soekarno di era Demokrasi Terpimpin. Kedatangan Hurustiati ke rumah Yap hari itu untuk meminta bantuan hukum buat suaminya.

Soebandrio diciduk pemerintah enam bulan sebelumnya. Bekas Wakil Perdana Menteri Kabinet Dwikora I, Kepala Badan Pusat Intelijen dan Menteri Luar Negeri Kabinet Djuanda itu dituding terlibat penculikkan para Jenderal, 30 September 1965.

Sangkaan itu menjadikan Soebandrio sebagai musuh bersama. Pamflet-pamflet disebar dan berbagai unjuk rasa digelar untuk menghujatnya. Bahkan, pers pun menyudutkannya. Mereka menyebut Soebandrio sebagai “Durno” –guru Kurawa yang licik dan jahat jahat.

“Kebencian terhadap Soebandrio saat itu sangat tinggi sekali sehingga ada kecemasan di keluarga jika ayah membela Soebandrio, karena kami tidak tahu endingnya akan seperti apa nanti,” kata Hong Gie. “Ayah anti komunis, tapi sebagai advokat dia tidak bisa menolak.”

Yap, meski sempat ditentang istrinya, Gian Khing Nio, menyanggupi permintaan Hurustiati. Khing cemas jika pembelaan Yap pada Soebandrio akan memancing kemarahan masyarakat pada keluarga mereka. “Soalnya saat itu tidak ada yang mau membela PKI,” kata Hong Gie.

Untungnya, saat itu pemerintah ternyata juga menunjuk Yap sebagai pengacara Soebandrio. Khing pun sedikit bernafas lega. Penugasan resmi ini tentu akan disertai perlindungan. Namun Hong Gie tak tahu persis siapa yang duluan ke rumahnya, istri Soebandrio atau utusan pemerintah. Kedua kejadian itu, kata dia, “Seperti kebetulan.”

Tapi itu bukan kebetulan. Beberapa hari sebelum sidang digelar, terjadi kegaduhan di kantor oditur Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub). Penyebabnya: mereka belum menemukan pengacara yang bersedia mendampingi Soebandrio. Padahal, sesuai Pasal 4 Keputusan Presiden Nomor 16 tahun 1963 tentang pembentukkan Mahmillub, sidang hanya bisa digelar jika terdakwa didampingi pengacara.

Mayor Soewarno, yang ditunjuk untuk mencari pengacara buat Soebandrio, pun pontang-panting. Ia telah menemui beberapa pengacara, namun ditolak. Tak seorang pun ketika itu, termasuk pengacara, mau berurusan dengan “orang kiri”. Subagio Djojopranoto, salah seorang pengacara, menyarankannya menemui Yap Thiam Hiem. Saran itu manjur.

1 Oktober 1966 pukul 20.00 wib. Sidang pertama Soebandrio digelar di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Sedikitnya ada 5 ribu permohonan untuk menyaksikan secara langsung sidang tersebut, namun hanya 400 yang dikabulkan.

Hari itu juga ribuan orang turun ke jalan memperingati setahun peristiwa penculikan para jenderal. Truk-truk berisi ratusan pengunjuk rasa seliweran di jalan. Sebuah toko buku di Glodok, Jakarta Barat, dibakar. Juru bicara sidang berkata, “Soebandrio adalah arsitek orde lama, teman karib gestapu (Gerakan September Tiga Puluh).”

Yap memarkir mobilnya di Taman Soeropati, persis di depan Gedung Bappenas. Khing ikut mendampingi. Keduanya harus menembus ratusan orang yang berjejal di luar Gedung Bappenas untuk masuk ke ruang sidang.

Sidang dipimpin Letnan Kolonel Ali Said dan Letnan Kolonel Achmad Durmawel sebagai oditur. Ketiganya sempat makan siang bersama sebelum sidang. Saat itu Yap minta agar pengadilan terbuka untuk umum dan disiarkan radio, televisi, dan media cetak. Ia juga minta diberi kebebasan menanyai saksi. Ali menyanggupi.

Tepat pukul 20.00 wib sidang dibuka. Oditur Achmad Durmawel membacakan dakwaan. Ia, antara lain, mendakwa Soebandrio bersekongkol dengan tokoh PKI dan sejumlah perwira militer untuk mempersiapkan pemberontakkan.

Buktinya, kata Durmawel, pada Mei 1965, sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen, Soebandrio tidak menginvestigasi adanya gosip Dewan Jenderal. Lalu pada Juli 1965, ia memanggil Aidit pulang dari perjalanannya ke Rusia. Pemanggilan Aidit ini dinilai sebagai bagian dari persiapan coup.

Keterlibatan Soebandrio dalam gerakan 30 September, dakwa Durmawel, juga terindikasi dari sikap Soebandrio yang melanjutkan perjalannya ke Sumatera ketika peristiwa penculikkan para Jenderal terjadi. Sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen, Soebandrio seharusnya segera kembali ke Jakarta.

Yap hanya punya sedikit waktu untuk mempelajari semua dakwaan itu. Ia sempat meminta majelis meminjaminya sejumlah buku undang-undang yang relevan dengan kasus itu, yang dipelajarinya saat oditur membacakan dakwaan.

Yap baru tampil menjelang malam. Ia tak langsung membantah semua dakwaan, tapi justru mempertanyakan legalitas Mahmillub. Strategi hukum yang mengejutkan. Yap menilai, secara konstitusional, Mahmillub tak sah.

Dasar pembentukkan peradilan militer itu hanya Keputusan Presiden Nomor 16 tahun 1963. Padahal, Yap merujuk Pasal 21 UUD 1945, setiap organisasi peradilan harus dibentuk berdasarkan undang-undang. “Pasti bertentangan dengan undang-undang dasar,” kata Yap.

Tak hanya payung hukumnya yang bermasalah, Yap juga menilai Soebandrio semestinya tak bisa diseret ke peradilan militer karena dia orang sipil. Ia juga menyerang hakim. Ali Said, kata Yap, tak bisa menyidangkan Soebandrio karena pangkatnya lebih rendah.

Soebandrio, meski orang sipil, tapi karena menjabat Ketua Badan Intelijen, mendapat pangkat setara Marsekal Madya. Artinya, pangkat Ali Said lebih rendah dari Soebandrio. Padahal, sesuai ketentuan peradilan militer, pangkat hakim harus lebih tinggi dari terdakwa.

Sebagai Kepala Badan Intelijen, kata Yap, Soebandrio memang mendapat bisikan tentang gerakan Dewan Jenderal. Bisikan itu diterima dari sejumlah intel dari setiap angkatan. “Seharusnya kepala dinas masing-masing (angkatan itu) juga harus dipersalahkan dengan tuduhan yang sama.”

Adapun mengenai pemanggilan Aidit dari perjalanannya ke Rusia, Yap membuktikan bukan Soebandrio yang memangil Aidit, melainkan Presiden Soekarno. Semua dakwaan oditur, kata Yap, lemah dan hanya berdasarkan kesimpulan para saksi yang subjektif.

Meski begitu, Yap sejak awal menyadari jika Mahmillub hanya upaya menyingkirkan tokoh-tokoh orde lama secara legal. Dalam pledoi yang dibacakan 17 Oktober, Yap dengan gagah membuat pernyataan yang membuat kuping majelis, juga pemerintah, memerah.

“Orde lama seakan-akan semuanya des duivels (setan) dan orde baru segalanya des engelen (malaikat),” kata Yap. Semua orang menyimak. Semua mata menyorotnya. “Tanpa disadari, itu sama saja mengaku diri sendiri sebagai anak setan.”
.
Majelis, seperti diduga, memvonis mati Soebandrio pada 25 Oktober, meski tak ada bukti keterlibatannya dalam gerakan 30 September. Namun eksekusi tak pernah benar-benar dilaksanakan karena Soebandrio mengajukan grasi pada 1970, hukumannya lalu dijadikan seumur hidup.

“Yap memang sering kalah di pengadilan,” kata Adnan Buyung Nasution, pengacara senior yang dekat dengan Yap. “Sebab dia membela bukan untuk menang, tapi untuk membela kemanusiaan. Orang-orang PKI itu dibela semua oleh Yap.”

Selain Soebandrio, Yap juga membela sejumlah tokoh yang dituding terlibat gerakan 30 September, seperti Kolonel Abdul Latief, Asep Suryawan, dan Oei Tjoe Tat. Pada 1973, melalui Persatuan Advokat Indonesia (Peradin), Yap menuntut semua tahanan politik di Pulau Buru dibebaskan.

“Yap selalu membela orang-orang yang menjadi korban politik,” kata Albert Hasibuan, sahabat Yap yang kini menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia. “Hobinya membela orang-orang yang dipinggirkan.”

DW
*dimuat di Majalah Tempo edisi khusus Yam Thiam Hien

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: