Skip to content

Jejak Fergie di Kamar Ganti Moyes

June 3, 2013

Sir Alex Ferguson dan David Moyes berasal dari “cetakan” yang sama. Di Old Trafford, nasibnya bisa berbeda.

foto: dailymail

foto: dailymail

Kamar ganti di Akademi Sepak Bola Amatir Drumchapel terasa pengap. Lusinan kostum setengah kering dijembreng di salah satu sisi dinding. Udara dingin yang menyusup dari jendela kecil berebut tempat dengan pewangi cucian. Di sisi atas dinding tergores kalimat: “Tak cukup menjadi yang terbaik, harus jadi yang terhebat!”

Akademi itu berdiri di tepi Jalan Farm Road, Drumchapel, sekitar 30 menit perjalanan dengan mobil dari pusat kota Glasgow, Skotlandia. Tak banyak yang tahu jika akademi sepak bola itu pernah melahirkan dua tokoh paling penting dalam sejarah sepak bola Inggris.

“Jangan tanya saya siapa saja anak-anak yang pernah melewati pintu itu, sebab saya tak bisa mengingat semuanya” kata petugas perlengkapan di akademi tersebut, George Hay. “Tapi saya selalu mengenang dua nama yang mungkin anda kenal: Sir Alex Ferguson dan David Moyes.”

Hay berkerja di akademi tersebut sejak 30 tahun lalu. Tugasnya, menyiapkan kostum, sepatu, hingga kaos kaki para pemain. Setiap pagi, ia harus memastikan kostum-kostum itu sudah tergantung di tempatnya sebelum anak-anak masuk ke ruang ganti untuk memulai latihan.

Layaknya di kamar ganti klub-klub elit, setiap anak di sini punya gantungan baju sendiri, lengkap dengan namanya. Mereka juga punya tradisi unik: mengukir nama setiap pemain yang berhasil masuk ke klub besar pada selembar plakat putih. Mereka dianggap sukses. Plakat itu kemudian ditempel di bawah gantungan baju yang pernah dipakai si pemain.

Nama David Moyes dan Sir Alex Ferguson ada di salah satu plakat tersebut. Nama Moyes diukir di plakat nomor 5 bersama Graham Elder (Queens Park Rangers) dan Jim Easton (Hibs). Sementara nama Ferguson terukir di plakat nomor 10, tentu saja tanpa gelar “Sir”.

Sampai saat ini, setelah beberapa dekade, plakat-plakat itu masih utuh. Mata Hay selalu bersinar setiap kali menatapnya. “Apa yang lebih hebat dari kenyaataan ini,” katanya. “Di dua plakat itu ada dua nama yang kini menjadi manajer Manchester United.”

David Moyes memang telah resmi menjadi pelatih Manchester United. Ia menggantikan Sir Alex Ferguson yang pensiun akhir musim ini. Pengunduran diri Fergie –sapaan Ferguson–dan penunjukkan David Moyes yang mendadak itu sempat menghebohkan jagat balbalan.

Tapi tidak bagi Jimmy Wood. Presiden Drumchapel itu sedang duduk di ruang tamu di rumahnya di Glasgow ketika menonton berita pengunduran diri Fergie di layar teve. “Kami sudah tahu David (Moyes) akan menggantikan Ferguson berbulan-bulan sebelumnya,” katanya.

fergeWood mengenal Fergie dan Moyes sejak mereka masih belia. Ia tahu persis, meski tak satu angkatan, keduanya punya satu kesamaan, yakni sama-sama mewarisi spirit “Tak cukup menjadi yang terbaik, harus jadi yang terhebat!”

Fergie telah merealisasikannya di Old Tafford –kandang Manchester United– dengan persembahan 13 trofi Liga Premier Inggris, 5 piala FA, 10 piala Charity Shield, 2 trofi Liga Champions, dan 1 piala Liga Eropa. Torehan ini membuatnya menjadi pelatih terhebat dalam sejarah Liga Inggris.

Kini giliran Moyes membuktikan dirinya.

Lahir di Bearsden, Skotlandia, pada 25 April 1963, Moyes telah akrab dengan bola sejak kecil. Ayahnya, David, adalah pelatih di Drumchapel. Moyes kecil sering berlatih bola besama kakaknya, Kenny –kelak menjadi agen pemain, di halaman rumah.

“Mereka hanya berhenti jika saya mulai menyiapkan makan siang,” kata Joan, ibunda Moyes. Kegilaan Moyes pada bola membuat sang ayah kemudian memasukannya ke Drumchapel. Di akademi ini ia berbaur dengan 300 anak lain.

Meski putra pelatih, Moyes tak dianakemaskan. David Garret, teman tumbuh Moyes di akademi itu, masih mengingat kerasnya latihan. “Dia (Moyes) berlari seperti kami, kehabisan nafas, dan terkapar di ruang ganti,” kata Garret. “Ayahnya menuntut kedisplinan tinggi dari semua pemain, termasuk dari Moyes.”

Di Drumchapel, kedisiplinan dan ketangguhan fisik memang jadi harga mati. Pakem ini ditanamkan pendiri akademi, Douglas Smith –seorang veteran perang. Di bawah arahannya, akademi disulap jadi barak militer. Kedisiplinan dan ketangguhan fisik mengikuti standar tentara.

Douglas tak mengenal istilah “mereka hanya anak-anak”. Baginya, laki adalah laki, tak perduli dia masih anak-anak atau sudah dewasa. “Kekejaman” Douglas ini, tanpa disadari, membuat anak-anak didiknya melampaui batas kemampuan mereka.

“Jika ada yang melakukan kesalahan, Douglas akan memanggil anak itu ke ruangannya kemudian memarahinya habis-habisan,” kata Wood. Cara ayah Moyes melatih juga 11-12. Praktis tak ada sedikit pun ruang buat bermanja.

Ketegasan Douglas membekas cukup dalam di hati Sir Alex Ferguson. Dalam biografinya, Fergie menyebut Douglas sebagai pelatih yang tak pernah lelah dan menuntut hal yang sama pada anak didiknya. “Kedisiplin, ketepatan waktu, dan cara militernya membentuk saya,” katanya.

Moyes pun terbentuk dari cetakan yang sama. Gaya militer ini kelak ia terapkan di Everton. Di Goodison Park –kandang Everton– ia menciptakan sesi latihan bernama “sepatu kuda”. Dalam sesi ini, semua pemain diminta berlari secepat mungkin dalam jarak yang cukup jauh.

Kapten Everton, Phil Neville, mengisahkan, setelah sesi “pacuan kuda” itu selesai, kaki semua pemain bergetar. “Banyak pemain yang muntah,” gerutu Phil. Tapi itu belum seberapa. Sebab Moyes juga punya sesi lain: merendam mereka di sungai.

Suhu dingin dan derasnya aliran air perlahan tapi pasti membuat kaki membeku. Sehingga, mereka harus terus menggerakkkan kaki agar darah tetap mengalir. “Saya pernah menganggapnya pelatih terkejam di Inggris,” Phil melanjutkan.

Moyes, seperti juga Douglas dan ayahnya, menuntut kedisplinan tinggi, ketangguhan fisik, dan dedikasi setiap pemain. Itu sebabnya ia lebih suka pemain muda yang mau bermain spartan ketimbang pemain beken yang malas mengejar bola.

drumchapelMasa penggodokkan Moyes di Drumchapel berakhir ketika ia hijrah ke Celtic. Saat itu usianya 17 tahun. Tiga tahun di Celtic, ia pindah ke Cambridge United, lalu ke Britol City, Shrewsbury Town, Dunfermline Athletic, Hamilton Academical, dan Preston North End.

Sebagai pemain, karirnya memang tak moncer. Prestasi terhebatnya hanya membawa Celtic juara Championship, divisi teratas di Skotlandia. Setelah itu namanya tenggelam. Jalan karirnya ini mirip Sir Alex Ferguson yang tak sukses sebagai pemain.

Untungnya, sambil bermain, Moyes nyambi kursus kepelatihan. Saat itu usianya baru 22 tahun. Mulai saat itu pula pikirannya bercabang, antara melanjutkan karir sebagai pemain atau banting stir jadi pelatih. Hatinya ternyata lebih condong pada pilihan kedua.

Ketika Preston North End menawarinya menjadi pelatih pada 1998, Moyes pun langsung menyanggupinya. Saat itu Preston terancam terdegradasi ke divisi 3. Moyes hanya perlu dua musim untuk membawa mereka promosi ke divisi 1 –prestasi yang tak pernah diraih klub itu selama dua dekade.

Moyes lalu hijrah ke Everton pada Maret 2002. Di sini karirnya tambah ngacir. Di musim pertamanya ia mengerek The Toffees –julukan Everton– dari posisi buncit ke peringkat 7 klasemen. Pada 2005, ia membawa Everton menembus 4 besar dan tampil di Liga Champions –kompetisi antar klub paling bergengsi di Eropa.

Selama 11 tahun melatih Everton, ia menyabet 3 gelar Manajer of the Year. Satu-satunya pelatih yang menyamai torehan ini hanya Fergie. Tapi Moyes lebih hebatnya karena ia meraihnya dengan dana cekak. Bayangkan saja, bujet belanja pemain tak sampai Rp 12 miliar per musim.

Prestasi dan dedikasi inilah yang meluruhkan keluarga Glazer, pemilik Manchester Untied, ketika Ferguson merekomendasikan Moyes sebagai penggati dirinya. “Dia memiliki semua kualitas yang dibutuhkan pelatih untuk memimpin klub ini,” kata Fergie.

Moyes sudah mengemasi barang-barangnya di Goodison Park sejak Senin pekan lalu. Pesta perpisahan dengan fans Everton pun telah digelar sehari sebelumnya. Kini ia berdiri di gerbang Old Trafford, menatap bayang-bayang kebesaran Fergie dengan rasa cemas. “Selalu ada kekhawatiran setiap kali pindah klub,” katanya.

Kekhawatiran yang sama menghinggapi seluruh penggemar United. Bisakah Moyes keluar dari bayang-bayang kebesaran Fergie kemudian menciptakan kebesarannya sendiri?

DW (GUARDIAN | INDEPENDENT | DAILY RECORD | REUTERS)

Baca juga:
Kubus Ajaib Pemoles Dortmund
Tak Bosan-bosan Merasa Bosan
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: