Skip to content

Kubus Ajaib Pemoles Dortmund

May 27, 2013

footbonaut1Bangunan berbentuk kubus itu berdiri di pusat latihan Borussia Dortmund di Brackel, Jerman. Luasnya sekitar 14 x 14 meter. Di dalamnya terhampar rumput sintetis dengan lingkaran putih di tengah. Panel-panel berbentuk kotak memenuhi semua sisi dinding.

Sekilas, bangunan yang didirikan Maret tahun lalu ini mirip lapangan futsal tanpa gawang dan garis tepi. Namun, saat seorang asisten pelatih memberi tahu biaya pembangunan kubus ini, pengunjung pasti akan berkata: “Wow!” Maklum, harganya mencapai US$ 3.5 juta!

Bangunan kubus itu memang bukan lapangan futsal, tapi sebuah “robot”. Namanya footbonaut. Tugasnya mendongkrak respon, teknik, insting, kecepatan, dan –terutama– akurasi umpan para pemain. Di dunia ini, cuma Borussia Dortmund yang memiliki robot pelatih itu.

“Ini alat yang paling sempurna untuk meningkatkan kemampuan penguasaan bola. Alat ini mengasah ketepatan, kecepatan, dan juga fisik setiap pemain,” kata Pelatih Borussia Dortmund, Jurgen Klopp. “Sangat cocok untuk gaya bermain kami.”

Footbonaut terdiri dari 64 panel yang disusun mengelilingi empat sisi lapangan. Masing-masing panel ini berfungsi sebagai gawang. Di antara panel-panel itu tersembunyi 8 mesin pelontar bola yang kecepatan lontarannya bisa diatur mulai dari 60-120 kilometer per jam. Laju, ketinggian, arah, dan pelintiran bola pun bisa disetel.

Satu sesi latihan berdurasi 10-15 menit dengan seorang pemain berdiri di tengah lingkaran. Latihan dimulai begitu terdengar bunyi “beep” yang diikuti lontaran bola dari salah satu mesin pelontar. Pada saat bersamaan, secara acak, salah satu panel akan menyala.

Tugas pemain adalah “menangkap” lontaran bola itu dengan kepala, dada, atau kaki kemudian menendangnya ke panel yang menyala. Jeda waktu antara lontaran bola dengan keharusan memasukkannya ke salah satu panel tak sampai 2 detik. Jeda yang sangat tipis itu menuntut konsentrasi, akurasi, dan kecepatan tinggi.

Stamina juga ikut digenjot karena, selama 10 menit, pemain harus mengendalikan tak kurang dari 200 lontaran bola lalu memasukkannya ke salah satu panel. Selama latihan berlangsung, sebanyak 1500 sensor yang tersebar di ruangan merekam setiap gerak, arah, dan kecepatan bola serta tubuh pemain.

Lalu di mana peran pelatih? Jurgen Klopp ternyata sedang duduk santai di tepi lapangan sambil mengamati layar IPad-nya. Dari layar tablet cerdas itulah Klopp mengendalikan arah, kecepatan, dan kecepatan lontaran bola, lewat sapuan jarinya di layar IPad!

Ini dimungkinkan karena di dalam IPad tersebut telah dibenamkan sebuah aplikasi yang bisa mengontrol mesin pelontar bola. Aplikasi itu juga akan mengirim hasil setiap latihan. Catatan itu, antara lain, jumlah bola yang dilontarkan dan jumlah yang berhasil di masukkan ke “gawang”. Pemain juga mendapatkan hasil ini di layar telepon cerdas mereka.

footbonaut“Dengan alat ini pelatih dan pemain bisa langsung melihat hasil latihan mereka,” kata Kepala Pemandu Bakat Borussia Dortmund, Sven Mislintat. “Setiap perkembangan pemain akan dievaluasi sehingga tak ada alasan pemain tak bisa berkembang.”

Penemu alat ini, Christian Güttler, mengklaim latihan 15 menit bersama footbonaut setara dengan porsi latihan tradisional selama sepekan. “Di sini setiap pemain menerima umpan sebanyak yang mereka terima selama satu pekan latihan,” katanya.

Guttler mencontohkan Xabi Alonso, pemain Real Madrid, yang bermain di La Liga Spanyol. Xabi rata-rata membutuhkan waktu 3 jam untuk menerima dan memberikan 200 umpan ke pemain lain. Sementara di footbonaut, pemain hanya butuh 15 menit untuk jumlah umpan yang sama.

“Umpan yang diberikan secara terus-menerus dan konstan dalam waktu yang begitu singkat secara otomatis akan meningkatkan respon, akurasi dana naluri pemain,” kata Guttler. “Selain itu stamina dan konsentrasi mereka juga ikut terkerek.”

Ini klop dengan filosofi Klopp. Kecepatan dan ketepatan adalah dua hal yang mutlak baginya. “Sebab pemain harus bertindak cepat dan berpikir lebih cepat lagi karena seringkali mereka harus mengambil keputusan dalam waktu sepersekian detik,” kata Klopp.

Ia ingin setiap pemain mengasumsikan diri mereka sebagai pembalap yang sedang meluncur di sirkuit, tempat di mana kecepatan, ketepatan, dan konsentrasi menjadi harga mati. Sedikit saja seorang pemain melakukan kesalahan, satu tim bisa tergelincir.

Klopp gregetan saat pertama kali datang ke Dortmund 2008 lalu. Pergerakan pemain dan aliran umpan Die Borussen –julukan Dortmund– saat itu sangat lambat. Klop mencatat setiap umpan, dari mulai ditendang pengoper hingga sampai ke penerima, membutuhkan waktu rata-rata 2,8 detik. “Itu terlalu lama.”

Akibatnya, bola mudah dipotong lawan. Tak mengherankan jika di akhir musim 2007/2008, musim sebelum Klopp membesut Dortmund, mereka terpuruk ke peringkat 13 klasemen. Klopp pun langsung membenahi sektor ini.

Umpan yang cepat dan akurat harus menjadi nyawa permainan tim. Ia juga menggenjot stamina pemain dan memberikan porsi latihan fisik lebih banyak ketimbang teknis permainan. Ia menghitung jarak ideal yang harus ditempuh tim dalam satu pertandingan tak boleh kurang dari 130 kilometer.

Artinya setiap pemain harus menempuh setidaknya 13 kilometer per pertandingan. Angka itu tak mungkin dicapai jika pemain bergerak lambat dan umpan-umpan yang dialirkan salah alamat. Untuk itu, kecepatan, ketepatan, stamina, dan konsentrasi menjadi syarat yang harus ada dalam setiap pemain Dortmund.

“Saya ingin setiap pemain bergerak cepat dan berpikir lebih cepat lagi. Semuanya harus bergerak dengan kecepatan penuh,” kata Klopp. Filosofinya ini sukses menggosok performa Dortmund. Prestasi mereka terus merangkak naik sejak dibesut Klopp.

Saat datang ke Dortmund, klub kuning-hitam itu terperosok di peringkat 13 klasemen Budesliga. Klopp hanya perlu waktu semusim untuk membawanya ke peringkat 6. Musim berikutnya, mereka finish di peringkat ke-5. Puncaknya, mereka menjuarai Bundesliga musim 2010/11 dan 2011/12.

Nama Klopp makin harum ketika Dortmund secara mengejutkan menumbangkan raksasa Eropa, Real Madrid, di perempat final Liga Champions dengan agregat 4-3. Permainan cepat yang nyaris tanpa jeda plus umpan-umpan kilat yang akurat membuat El Real –julukan Real Madrid– tak berkutik.

Dortmund yang semula hanya dianggap kuda hitam, telah bertiwikrama menjadi kuda troya yang memporak-porandakan semua pertahanan lawan. “Secara individu maupun tim, mereka jauh lebih baik dari kami. Mereka pantas untuk menang,” puji Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho. “Kami selalu kesulitan setiap kali mereka menekan.”

Sejak awal turnamen, penampilan Die Borussen –julukan Dortmund– sudah ciamik. Mereka menjuarai grup “neraka” setelah berjibaku dengan Ajax Amsterdam, Manchester City, dan Real Madrid. Mereka kemudian mendukkan Shakhtar Donetsk di babak 16 besar dan memaksa pulang Malaga di perempat final.

Klopp sebenarnya hanya tinggal selangkah lagi untuk mengulang sejarah gemilang 16 tahun lalu ketika Dortmund menjadi kampium Eropa dengan memboyong trofi Liga Champions. Saat itu mereka menumbangkan wakil dari Italia, Juventus, dengan skor 3-1.

Tapi mimpi itu kandas di Wembley Stadium, Ahad dinihari kemarin. Bayern Munchen menumbangkan mereka dengan skor tipis 2-1. Meski begitu, toh torehan ini tetap fantastis. Seperti kata Stephenie Meyer dalam seri Twilight: Jika apa yang diberikan hidup melampaui harapanmu, maka tak ada alasan untuk bersedih ketika semua itu berakhir.

Tapi bagi Dortmund, kekalahan ini bukan sebuah akhir. Dari Kubus Ajaib itu segalanya akan bermula.

DW (BILD, UEFA, FOOTBALL SCIENCE, DAILY MAIL)

Baca Juga:
Islami
Uje
Di Balik Teralis
Biarkan Anjing Menggonggong..
Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: