Skip to content

Biarkan Anjing Menggonggong..

April 25, 2013
foto hanya ilustrasi

foto hanya ilustrasi

Saya tak punya anjing apalagi memeliharanya. Tapi anjing tetangga suka mampir ke rumah. Kadang dia mengintip dari jendela atau sekedar rebahan di teras. Selama nggak buang hajat di lantai, no problem–meski saya dah dua kali membuang kotorannya dari rumput tamanšŸ˜¦

Saya tak tega mengusirnya. Sebab kondisinya memprihatinkan. Pemiliknya tak pernah memberi makan hingga badannya tinggal kulit dan tulang. Perutnya mengempis dan kakinya kecil mirip kucing. Untuk makan, dia sering mengorek-ngorek bak sampah hingga isinya berceceran di jalan.

Kelakuannya ini sering membuat berang tetangga lain. Anak-anak tak jarang melemparinya dengan batu. Tapi dia tak pernah mengejar anak-anak badung itu, hanya menggonggong. Sementara pemiliknya, cuek aja.

Anjing itu sebenarnya milik ayah tetangga saya. Tapi ayahnya telah meninggal. Si anak, yang mewarisi anjing itu, mengabaikannya. Jangankan memandikan, memberi makan pun tak pernah.

Toh, anjing itu tetap bertahan. Ia mencari makan di bak sampah dan meminum air got. Ia tetap menggonggong setiap kali ada orang asing masuk ke komplek dan terjaga ketika malam. Jadi, sebenarnya, ia cukup setia.

Sehingga saya pun tak punya alasan mengusirnya. Meski, konon, malaikat rahmat ogah masuk ke rumah yang di depannya ada anjing. Tapi, benarkah malaikat begitu alergi sama anjing?

Kalau benar, pasti tak ada malaikat rahmat yang mau berdekatan dengan 7 pemuda Ashabul Kahfi. Karena mereka membawa seekor anjing ke dalam goa dan tidur bersamanya selama 300 tahun!

Padahal, Tuhan sendiri yang menggaransi ketujuh pemuda itu masuk surga, beserta anjingnya. Apa mungkin Tuhan menjanjian surga tapi tak memberinya rahmat lantaran malaikat-Nya enggan mendatangi mereka karena keberadaan seekor anjing?

Liurnya mungkin haram. Tapi itu, tentu saja, bukan alasan menolak, mengusir, apalagi sampai membunuhnya. Saya percaya, seharam apapun mahluk, ia tak diciptakan Tuhan untuk disakiti atau dibunuh.

Jika ada Tuhan yang begitu, saya tak akan memilihnya..

_DW_

Baca Juga:

Sepucuk Daun di Pusaran Angin
Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

2 Comments leave one →
  1. arieitem permalink
    April 30, 2013 5:53 pm

    gue suka tulisan2 lu, Mas. Suatu saat mungkin menggantian Putu Setia di Koran Tempo Minggu. Bagi gua, itu lebih baik daripada tiap pekan menulis di halaman terakhir majalah. hehe..

  2. Nu2nk permalink
    May 2, 2013 12:20 pm

    hahaha beneer… tiap baca majalah, gak pernah baca halaman terakhir. Buat apa baca sesuatu yg tidak dimengerti hehe. Mungkin otak gw yg perlu diupgrade wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: