Skip to content

Sepucuk Daun di Pusaran Angin

April 24, 2013

daunIa terus menggeleng dan meracau. Sesekali mengusap wajah sambil beristigfar. Aku memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya. Apa yang harus kukatakan pada seorang suami yang istrinya mati di pangkuannya setengah jam lalu?

“Tadi dia masih ketawa,” ia terisak lagi. “Aku pikir dia bercanda, tapi badannya membiru. Semuanya membiru. Aku terlambat..aku terlambat..”

Sang istri kini terbujur di atas dipan. Usianya belum genap 25 tahun. Ia sedang menimang bayi yang dilahirkannya dua bulan lalu ketika nafasnya mendadak sesak. Lima menit kemudian, jantungnya berhenti berdetak.

Aku terpaku di samping tubuhnya yang mulai kaku. Secepat inikah kehidupan berlalu? Bahkan secangkir kopi yang ia suguhkan untuk suaminya masih hangat-hangat kuku.

Begitu rapuhnya kehidupan, begitu tak pastinya kematian. Kita bernyawa di antara keduanya, tanpa garansi tak mati esok pagi, tanpa jaminan hidup sepuluh tahun lagi. Kita hanya sepucuk daun tanggal di pusaran angin.

Sahabatku..sahabatku, kuatkan hatimu. Semoga kepergiannya membebaskanmu, seperti yang kau citakan saat meniti jalan suluk dulu..

_DW_

Baca Juga:

Rumah, Surga yang Tak Sempurna
Tuhan Dalam Kenangan Kami
Tuhan dan Secangkir Kopi
Embun dari Tibet
Selamat Natal, MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Jalan Sunyi Para Santri
Anti Klimaks Fatwa Zakat

 

 

 

 

 

 

2 Comments leave one →
  1. kifliyah permalink
    April 24, 2013 2:59 pm

    Semoga jannah tempat yang terbaik buat ibu bayi ini ya nom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: