Skip to content

Antara Betul dan Kebetulan

April 3, 2013
tags:

kebetulan

Di mana batas sebuah kebetulan?

Ada seorang tokoh meninggal lalu terjadi gerhana matahari total. Langit langsung gelap. Sejumlah orang segera mengaitkan dua peristiwa itu. Gerhana –yang datangnya belum tentu setahun sekali itu– bukti langit bersedih atas kepergiannya. Tapi sejumlah lain cuma bilang, “Itu hanya kebetulan.”

Kebetulan memang jauh dari jangkauan akal. Tapi bagaimana jika peristiwa yang sama terulang lagi –tentu saja dengan tokoh yang berbeda? Dua kebetulan dalam peristiwa yang sama mungkin akan membuat orang yang semula bilang “Itu hanya kebetulan” mulai goyah. Apalagi jika menyusul peristiwa ketiga.

Saya ingat seorang dosen pernah bilang, “Tak ada itu yang namanya kebetulan karena sesuatu yang terlihat begitu acak pun ternyata memiliki pola.” Dia mengutip sebuah teori, saya lupa dari buku mana ia menukilnya, yang menyebut keberadaan mahluk di dunia ini sejatinya saling terhubung.

Ia mencontohkan, manusia Jawa memiliki koneksi tak terlihat dengan beruang kutub di Afrika. “Lho, emang ada kutub di Afrika?” Sudahlah, ini hanya permisalan. Apa yang dilakukan manusia Jawa itu, setiap geraknya, akan berdampak pada Si Beruang. Entah dalam bentuk apa.

Ia lalu menyuruh kami semua menutup mata. “Bayangkan kalian berdiri di depan sebuah danau yang sangat tenang, tak ada riak atau gelembung nafas ikan hingga kalian kesulitan membedakan mana permukaan danau dan langit,” katanya.

Ia diam senjenak sebelum melanjutkan, “Lalu ambillah sebuah kerikil dan lemparkan ke danau itu. Apa yang terjadi? Permukaan danau yang semula tenang akan bergelombang menimbulkan arus yang melebar seperti kipas. Arus itu menjangkau apa saja hingga ke tepian danau.”

“Begitulah,” kata dia menutup kuliah malam itu, “Setiap tindakan satu mahluk akan berdampak pada mahluk lain, mungkin berupa gelombang, saya tak tahu. Teori ini yang kemudian menjadi pijakan para pelaku telepati.”

Teori yang sangat memikat meski mungkin masih sangat abstrak. Kita yang terpenjara dalam dunia materi akan selalu kesulitan saat menembus dunia energi. Jadi, teori itu pun masih tak bisa melepaskan diri dari kebetulan karena konstruksi pemikirannya masih abstrak.

Jadi di mana batas kebetulan? Dua kebetulan yang sama, atau bahkan tiga, sudahkah bisa disahihkan sebagai kebenaran? Atau barangkali tak perlu juga dibuat batasan itu. Biar kita terus menebak-nebak..

DW

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: