Skip to content

Bikin Dulu, Beli Kemudian

April 2, 2013

Semua barang Sale Up to 70 % Cuma Sampai 31 Maret!!!

Siap ditempel di dinding

Siap ditempel di dinding

Iklan toko furniture yang tercetak di media massa itu bikin ngiler. Sofa, rak buku, dipan, buffet segera masuk daftar belanja yang saya bawa ke toko itu, sehari kemudian. Tapi begitu melihat label harga di setiap item, saya cuma nyengir. Sudah di diskon aja masih semahal ini. Harga rak buku tempel, misalnya, Rp 200 ribuan.

Padahal kayunya berbahan partikel yang bakal buyar kalau kena air. Bentuknya pun sederhana. Apa yang membuatnya mahal? Saya tak mau pulang dengan tangan kosong, tapi juga tak mampu beli. Akhirnya saya contek bentuk-bentuk rak yang menempel di dinding. Yah, setidaknya ada yang bisa saya bawa pulang..

Di jalan, saya melipir ke toko kayu Madura yang berjejer di tepi kanan Jalan Lenteng Agung Raya. Harga selembar kayu Jati Belanda berukuran 15 x 110 centimeter ternyata cuma Rp 10 ribu. Dibanding kayu berbahan partikel seperti yang di toko furniture itu, Jati Belanda jelas lebih unggul, terutama serat dan warnanya yang unik.

“Bungkus 5, Cak!” Saya ingin meniru rak di toko furniture itu, tapi lebih sederhana. Biar ngga dikira nyontek-nyontek amat..xixi.

Sampai di rumah, gergaji, bor listrik dan palu langsung beraksi. Tak sampai dua jam, lima lembar kayu itu sudah dimutilasi jadi 14 potongan, masing-masing berukuran 55 cm (4 lembar), 27,5 cm (8 lembar) dan 50 cm (2 lembar). Jika disusun, potongan-potongan itu bisa jadi 3 rak buku plus 2 ambalan.

Tapi, sebelum disusun, setiap lembar kayu itu harus dipernis biar kinclong dan tahan air. Harga sekaleng pernis Rp 45 ribu. Butuh dua hari untuk memoles kayu-kayu tersebut karena harus dikuas hingga tiga lapis, dan setiap lapisnya harus diamplas lalu dijemur minimal 2 jam.

Setelah kinclong, saatnya untuk menyusunnya menjadi rak. Prosesnya gampang, tinggal disekrup. Sebelumnya, posisi yang akan diskrup harus dibor agar tak pecah. Ini proses paling nyenengin. Oya, untuk proses ini, saya butuh 36 sekrup dan 1 lembar amplas. Harganya, ditambah 4 siku untuk ambalan, pas Rp 50 ribu.
tinggal disusun
Tiga rak dan dua ambalan pun siap ditempel di dinding. Bentuknya memang tak secanggih yang di toko, tapi fungsinya sama aja. Bahkan dari segi estetika, tiga rak ini lebih yahud karena motif, tekstur, dan warna jati belanda yang alami membuatnya menjadi lebih nyeni ketimbang kayu partikel yang dilapis HPL –lapisan stiker untuk kayu.

jadi gini juga bisaDan dari segi harga, selisihnya juga jauh banget. Total biaya
untuk tiga rak plus dua ambalan ini Rp 145 ribu dengan rincian Rp 50 ribu untuk lima lembar kayu, Rp 45 ribu untuk sekaleng pernis, dan Rp 50 ribu untuk skrup plus amplas plus 4 braket ambalan. Selain menghemat juga ada kepuasan tersendiri setiap kali melihatnya.

Kalau bisa beli kenapa bikin sendiri? Ups..

DW

4 Comments leave one →
  1. dijournalist.wordpress.com permalink
    May 19, 2013 10:23 am

    Kang, tanya dung. Toko kayu Madura yang di LA itu di sebelah kiri atau kanan dari arah UI. Atau sebaliknya dari arah Pasar Minggu di sebelah kiri atau kanan. Punya ciri-cirinya ga? Makasih yah. Kirim jawabannya ke dian_ka_jabotabek@yahoo.com boleh juga… Makasih Kang…

  2. December 18, 2013 11:13 am

    Keren …. coba juga ah, makasih infonya mas … ditunggu karya selanjutnya

  3. frida permalink
    November 18, 2014 1:27 pm

    Beli di sampean ajah aku.. gmn? heheeuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: