Skip to content

Kisah Blanco dari Negeri Tango

April 1, 2013

Toyota Innova hitam itu meluncur dari Hotel Sultan di kawasan Senayan menuju Lapangan Sutasoma 77 di Halim Perdana Kusumah, Jakarta Timur, Senin pagi tiga pekan lalu. Di belakang supir duduk pelatih tim nasional Indonesia Luis Manuel Blanco dan asistennya Marcos Conenna. Keduanya telah menyiapkan menu latihan fisik pagi itu. Tapi, sampai di Halim, lapangan ternyata kosong. Tak seorang pemain pun terlihat.

Ternyata tempat latihan telah dipindah ke Lapangan C di Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan. Di sana pun sudah ada pelatih baru: Yeyen Tumena. Yeyen adalah mantan pemain tim nasional. Dia dibantu pelatih kiper Afiludin. “Saya sama sekali tidak diberitahu,” kata Blanco, mutung. Keduanya langsung balik kanan ke hotel. Siangnya ia mendapat kabar dirinya telah dipecat.

Pemecatan tersebut merupakan buntut dari aksi walk out 21 pemain saat latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat sepekan sebelumnya. Mereka memprotes porsi latihan fisik yang diberikan Blanco. Pelatih asal Argentina itu mengharuskan pemain melakukan lari cepat bolak-balik lapangan setiap 8 menit sekali. Baru di 8 menit pertama, nafas sejumlah pemain sudah kedodoran.

Pemain kesal. Latihan itu kelewat berat bagi mereka. Apalagi sejumlah pemain baru tiba dua hari lalu di Jakarta. Pemain asal Persipura, Imanuel Wanggai, misalnya, berkata keras, “Pulang..Persipura..Pulang..Persipura..” Manajer Tim nasional, Habil Marati, hanya diam melihat tingkah para pemain itu. “Mereka mungkin kelelahan,” kata Habil.

Memasuki 8 menit kedua, lima pemain meminta ijin Blanco untuk tak mengikuti latihan. Mereka yaitu Zulkifli Syukur, Hamka Hamzah, Ponaryo Astaman, Boaz Salosa dan Patrich Wanggai. Blanco mengijinkan mereka kembali ke hotel. Yang tak diduganya adalah 16 pemain lain ikut hengkang dari latihan. Total 21 pemain ngacir ke Hotel Sultan, tempat mereka menginap.

“Kami masih kelelahan akibat kompetisi dan masih butuh istirahat. Sedangkan pelatih memberikan porsi latihan fisik yang berat yang telah kami terima di klub,” kata Zulkifli Syukur. Zulham Zamrun menimpali, “Nanti sore kami akan kembali berlatih bersama.”

Tapi sore harinya mereka tak benar-benar berlatih bersama. Sebab Blanco memanggil mereka satu per satu seusai salat Jumat. Sebanyak 14 dari 21 pemain itu diminta pulang. Blanco mencoret mereka dari daftar pemain tim nasional.

Empat belas pemain itu yakni Boas Solossa, Imanuel Wanggai, Ian Louis Kabes, Ruben Zanadi, Ferinando Pahabol, Patrich Wanggai, Ricardo Salampessy, Ponaryo Astaman, Tantan, Zulham Zamrun, Hamka Hamzah, Ahmad Bustomi, Samsidar dan Zulkifli Syukur.

Buntut pemecatan ke-14 pemain ini ternyata panjang. Sebab, secara kebetulan, semua pemain itu berasal dari Liga Super Indonesia. Tak heran jika kemudian berkembang isu Blanco memecat semua pemain Liga Super. Berita gawat ini sampai ke telinga para petinggi Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI).

Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin, Anggota Komite Eksekutif PSSI Tonny Aprilani dan Manajer Tim Nasional Habil Marati langsung meluncur ke hotel siang itu juga. Kepada mereka, Blanco membantah memecat semua pemain Liga Super karena di sana masih ada 5 pemain lain: Syahrizal (Persija), Victor Igbonefo (Arema Indonesia), Dedi Hartono dan Faturahman (Barito Putra) dan Sergio van Dijk (Persib Bandung).

“Blanco bersikap tegas,” kata Habil Marati. “Dari pada ke-14 pemain itu mengganggu keseluruhan tim, lebih baik mereka dipulangkan. Lagi pula dia (Blanco) telah memiliki bayangan susunan pemain dan mereka tidak masuk dalam pilihannya.”

Tapi, setelah didesak terus agar pencoretan ke-14 pemain itu dianulir, Blanco pun nyerah. Ia membolehkan mereka berlatih lagi. Namun ia ogah melatih mereka sore hari itu. Alhasil, latihan Jumat sore itu hanya dipimpin dua asistennya, Jorge Di Gregorio dan Marcos Connena.

Namun persoalan ternyata belum tuntas. Wakil Ketua Badan Tim Nasional, Harbiansyah Hanafiah, yang mengikuti latihan Jumat sore itu cekcok dengan Marcos Connena. “Mana ada pelatih yang mencoret pemain sebelum memegang bola dan berlatih,” semprot Harbiansyah. “Saya jadi ragu kapasitas dia sebagai pelatih.”

Perseteruan ternyata bergulir kelewat cepat. Jumat malam secara mengejutkan nama pelatih kepala tim nasional Indonesia yang terdaftar di situs Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) untuk menghadapi Arab Saudi dalam pra kualifikasi Piala Asia 2013 yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu dua pekan lalu, ternyata bukan Luis Manuel Blanco, melainkan Rahmad Darmawan!

Seseorang secara diam-diam telah mengubah nama pelatih kepala dan mengirimkannya ke AFC. Sumber mengatakan orang yang mengganti nama Blanco menjadi Rahmad Darmawan itu tak lain Harbiansyah. Saat dikonfirmasi, Harbiansyah tak membantah. Ia beralasan susunan pemain dan pelatih yang akan menghadapi Arab Saudi harus sudah disetor ke AFC paling lambat jam 23.00 Jumat malam itu juga.

Soal kenapa justru nama Rahmad Darmawan yang disetorkan, Harbiansyah mengatakan dirinya telah mendapat restu dari Ketua Badan Tim Nasional, Isran Noor. “Isran waktu itu setuju Rahmat Darmawan saya daftarkan setelah saya laporkan ada masalah yang tidak harmonis (antara Blanco) dengan pemain itu,” kata Harbiansyah.

Isran Noor langsung membantah klaim tersebut. Dirinya, kata Isran, tak pernah memberi restu kepada Harbiansyah untuk mengganti nama Blanco menjadi Rahmad Darmawan dari daftar pelatih kepala tim nasional. “Harbiansyah mengambil langkah ilegal karena Ketua Umum (PSSI) juga tidak setuju. Jadi itu ilegal.”

Djohar Arifin Husin sendiri baru mengetahu pergantian kepala pelatih itu saat menghadiri acara perkenalan anggota komite eksekutif PSSI yang baru terpilih di Hotel Sultan, Ahad malam. Saat itu Harbiansyah mengumumkan Rahmad Darmawan sebagai pelatih baru. Djohar protes. Ia meminta Blanco tetap dipertahankan karena ia belum genap dua bulan melatih.

“Rencana memasukan Rahmad Darmawan belum pernah dikonsultasikan kepada saya tapi tahu-tahu namanya sudah didaftarkan ke AFC,” kata Djohar. Ia juga menilai pemecatan secara sepihak bisa membuat citra Indonesia di mata sepak bola dunia tercoreng.

Apalagi kehadiran Blanco di Indonesia juga atas “pesanan” Istana. Habil mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta persoalan sepak bola diselipkan dalam agenda pertemuan dengan Presiden Argentina Cristina Elisabet Fernandez De Kirchner di Istana Merdeka, pertengahan Januari lalu.

Saat itu Presiden Yudhoyono meminta Argentina membantu sepak bola Indonesia. PSSI pun langsung bergerak dengan meminta agen mereka di Argentina mengirimkan 10 pelatih terbaik asal Argentina. Agen itu lalu mengirim 10 nama, antara lain Alejandro Sabella, Marcello Bielsa, Julio César Falcioni dan Luis Manuel Blanco.

“Sabella tidak mungkin karena masih melatih timnas Argentina, Bielsa juga mustahil karena dia pelatih Athletic Bilbao, Cesar terlalu mahal,” kata Habil. Pilihan kemudian jatuh ke Blanco. Semula Blanco mematok harga US$ 600 ribu per musim. “Tapi bisa dinego sekitar 40 persen,” kata Habil.

Tapi memang sial nasib Blanco. Sudah digaji lebih rendah dari penawaran, dipecat pula. Rabu sore tiga pekan lalu, bersama Marcos Conenna, ia menemui Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo. Ia mengancam akan membawa kasus ini ke Asosiasi Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA).

Menteri Roy meminta posisi Blanco yang diputus secara sepihak dikembalikan setelah tim nasional melawan Arab Saudi. Sebab mustahil memasang Blanco sebagai pelatih saat melawan Arab Saudi karena namanya tak didaftarkan ke AFC. Meminta AFC merevisi jelas tak mungkin karena pendaftaran telah ditutup sepekan sebelum laga.

Garansi bakal mendapatkan kursinya lagi ternyata tak cukup membuat Blanco terhibur. Pemecatan secara sepihak ini telah membuat namanya tercoreng. Ia langsung bergegas meninggalkan Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pada saat bersamaan, di Lapangan C Senayan –lokasinya persis di seberang kantor tersebut– para pemain sedang berlatih di bawah arahan Rahmad Darmawan.

DW

Baca Juga:
Skandal Gigi di Padang Golf
Duet Baru Stok Lama
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Tato di Bahu Leo
Sampai Mati Menanti Gaji
Malaikat Telat Turun ke Timnas
Serba Salah
Kritik Nike di Punggung Timnas
Balada The Real Garuda

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: