Skip to content

Duet Baru Stok Lama

February 7, 2013

“Jangan terlalu bernafsu, santai saja,” bisik Hendra Setiawan kepada pasangan barunya, Muhammad Ahsan, saat laga final Malaysia Terbuka Super Series 2013 yang digelar di Stadium Putra Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, pertengahan Januari lalu. “Kita hanya perlu satu poin lagi.”

Ahsan mengangguk pelan. Sejenak ia menarik nafas sebelum melakukan service. Di papan skor tertera angka 20-13 untuk kemenangan Indonesia. Ia memang hanya perlu satu poin lagi untuk membawa pulang tropi. Dan Ahsan tak menyia-nyaiakan peluang emas itu.

Ia melakukan service rendah, shuttlecoc pun melaju pelan di atas net. Ko Sung Hyun, pemain Korea Selatan yang menjadi lawan mereka, menyambar service tersebut. Namun bola kembaliannya terlalu nanggung, Ahsan langsung menyambar. Smash mendatar yang dikirimnya gagal di kembalikan Lee Yong Dae, pasangan Ko Sung Hyun.

Stadium pun bergelora. Bendera merah putih berkibar di salah satu sisi stadion. Ahsan langsung memeluk Hendra. Mereka sukses menekuk pasangan Korea Selatan itu setelah pada set pertama menang dengan skor 21-15. Trofi Malaysia Super Series ini menjadi gelar pertama buat Indonesia tahun ini.

Kemenangan pasangan Ahsan/Hendra di Malaysia Super Series ini cukup mengejutkan karena mereka adalah pasangan baru. Keduanya baru berduet usai Olimpiade London, Agustus tahun lalu. Ahsan sebelumnya berduet dengan Bona Septano dan Hendra berpasangan dengan Markis Kido.

Karena itu kehadiran mereka di Malaysia Super Series sempat tak diunggulkan. Maklum, keduanya hanya menempati peringkat ke-66 dunia, sementara pasangan Lee Yong Dae/Ko Sung Hyun menempati peringkat ke-6 dunia.

Apalagi, sepekan sebelumnya, pasangan Korea Selatan ini juga menjuarai Korea Open Super Series Premier 2013. Pada laga itu, Hendra/Ahsan tersingkir di babak pertama setelah dikalahkan pasangan Kim Ki Jung/Kim Sa Rang, mereka adalah junior dari Lee Yong Dae/Ko Sung Hyun.

“Mereka sebenarnya lawan yang sangat berat, tapi permainan mereka kemarin kurang berkembang,” kata Ahsan. “Mungkin karena kondisi di lapangan sedikit berangin dan keputusan Hendra yang suka memotong-motong bola di depan juga membuat mereka tertekan.”

Hendra, sepanjang pertandingan tersebut, memang banyak mengambil posisi di depan. Peran yang kerap ia mainkan ketika masih berduet dengan Markis Kido. Dan Ahsan menjaga lini belakang. Formasi ini bukan tanpa perhitungan.

Pelatih Ganda Putra, Herry Iman Pierngadi, mengatakan Hendra dan Ahsan memang sengaja dipasangkan karena keduanya saling melengkapi. Hendra sangat lihai menyambut bola-bola di depan net. Ia juga bisa membaca dan mengatur ritme pertandingan. “Sementara Ahsan yang melakukan finishing dengan smashnya. Powernya kuat.”

Selain soal tehnik, faktor lain yang menjadi pertimbangannya untuk menduetkan Ahsan dan Hendra adalah faktor umur. Jarak usia keduanya tak sampai 3 tahun. Ini jarak yang ideal untuk pasangan gandra putra. “Sebab kalau usianya terpaut terlalu jauh, nanti bebannya akan lebih banyak ke yang pemain lebih muda,” kata Herry. “Dulu Ricky (Subagja) dan Rexy (Mainaky) juga dua tahunan selisihnya.”

Pertimbangan lainnya adalah kombinasi senior-junior. Hendra yang lebih senior dianggap mampu menyuntikkan semangat ke dada Ahsan. “Ahsan masih kurang jam terbangnya karena itu dia butuh pemain yang lebih senior yang bisa membuatnya terus fokus sepanjang pertandingan.”

Tapi membuat Ahsan dan Hendra bersatu sebenarnya adalah terbatasnya stok pemain yang dipanggil ke pemusatan tim nasional. Menurut Herry, semua pemain ganda putra yang dipanggil telah memiliki pasangan. Tinggal Ahsan dan Hendra saja yang masih single. “Mereka akhirnya berbicara dan sepakat untuk bersama,” katanya.

Herry mengaku tak sulit memadukan keduanya. Sebab gaya permainan mereka sudah saling melengkapi. Hendra sejak masih bersama Markis Kido lebih suka berperan di depan sementara Ahsan adalah karakter pemain belakang. Mereka juga sering berlatih bareng. “Mereka kan stok lama,” katanya. “Di wisma, mereka juga tidur sekamar.”

Ahsan mengamini. Menurutnya Hendra bukan sosok anyar. Mereka pernah berduet di ajang Sudirman Cup 2009 lalu. Saat itu mereka mencapai semi final. Keduanya kembali berduet di ajang Axiata Cup 2012 dan sukses membenamkan pasangan asal Malaysia, Teo Ee Yi dan Nelson Heg Wei Keat, dua set langsung dengan skor 21-7 dan 21-15.

“Kami mulai berpasangan di Sudirman Cup 2009 dan sering latihan bareng. Jadi tidak butuh waktu lama untuk penyesuaian,” kata Ahsan. “Apalagi style Hendra mirip Bona dan dia lebih berpengalaman dari saya.” Adapun Hendra mengatakan mereka perlu lebih banyak bertanding untuk menambah kekompakkan. “Seperti pengambilan bola di tengah siapa yang ambil.”

Kehadiran duet anyar ini membawa angin segar bagi kancah bulutangkis Indonesia, terutama di sektor ganda putra, yang sempat mati suri setelah Hendra dan Kido bercerai 2008 lalu. “Setelah Hendra dan Kido bubaran, regenerasinya telalu jauh,” kata Herry. “Sempat dua tahun kita kehilangan regenerasi.”

Memang selain Hendra/Kido masih ada pasangan ganda putra lain seperti Bona dan Ahsan. Namun prestasi kedua pasangan ini tak sekinclong duet Hendra/Kido. Bona/Ahsan memang pernah mencapai rangking ke-6 di nomor ganda putra Badminton World Federation (BWF) dan menyabuet juara Sea Games 2011. “Tapi Hendra/Kido pernah menjuarai Olimpiade Beijing 2008,” kata Herry.

Ia optimistis duet Hendra/Ahsan bisa mengembalikan kejayaan ganda putra Indonesia seperti yang pernah dilakukan pasangan Ricky Subagja dan Rexy Mainaky. Kedua pasangan itu menyabet hampir seluruh turnamen bergengsi dunia, mulai dari Medali Emas Olimpiade (1996), Asian Games (1994, 1998), Juara Dunia (1995), dan Juara All England (1995, 1996).

Herry mengatakan saat ini ada 11 pasangan ganda putra yang sedang di godok di pelatihan nasional di Cipayung, Jakarta Timur. 11 Pasang tersebut terbagi dua kategori, yakni 6 pasang untuk pemain utama dan 5 pasang pemain pratama. Nah, duet Hendra/Ahsan yang berada di kategori utama ini bakal menjadi tulang punggung Indonesia dalam ajang All England 2013 Maret mendatang. “Mereka jadi ujung tombak kami.”

Kemenangan di Super Series Malaysia bakal menjadi modal penting bagi pasangan anyar ini untuk terjun di ajang bulutangkis paling bergensi di dunia itu. “Mereka jadi lebih percaya diri dan sedang on fire. Hendra juga akan all out karena itu satu-satunya gelar yang belum pernah dia raih.”

DW

Baca Juga:
Apel Busuk di San Siro
Para Pengutil di Liga Eropa
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Rumah Batu, Riwayatmu Dulu..
Tato di Bahu Leo
Sampai Mati Menanti Gaji
Natal Kelabu Buat Mou
Malaikat Telat Turun ke Timnas
Serba Salah
Kritik Nike di Punggung Timnas
Wangsit Dari Paris
Balada The Real Garuda

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: