Skip to content

Para Pengutil di Liga Eropa

January 31, 2013

mu lostRobin Van Persie berdiri kikuk di pusat latihan Manchester United di Carrington, Manchester, Inggris, Rabu pagi pekan lalu. Ia sudah tak sabar untuk berlatih. Tapi, entah kenapa, sesi latihan pagi itu belum juga dimulai. Ia melirik Wayne Rooney, rekannya di lini depan, namun pemain 27 tahun itu pun hanya mengangkat bahu. Beberapa menit kemudian baru datang kabar: bola-bola untuk latihan telah digondol maling!

Van Persie cuma geleng-geleng kepala. Carrington berada di lahan seluas 108 hektare. Pagar besi sepanjang 2,5 kilometer mengelilingi pusat latihan para pemain United ini. Selain itu pohon-pohon juga tumbuh rapat di sekeliling pagar. Sehingga, jangankan maling, fotografer pun bakal kesulitan jika nekat menyusup masuk. Tapi, nyatanya, mereka tetap saja kebobolan.

United mengaku rugi sekitar 3500 Euro (Rp 45 juta). Cukup besar. Maklum saja, bola-bola yang dicuri itu bukan bola sembarangan, tapi Nike Maxim. Harga per satu bola yang dipakai secara resmi di Liga Premier Inggris, La Liga Spanyol dan Liga Serie-A Italia ini sekitar US$ 150 (Rp 1,4 juta). United pun langsung menggelar investigasi internal.

Namun belum tuntas investigasi dilakukan, datang kabar baru; bola-bola itu telah dijual di beberapa tempat sebagai memorabilia. Pencurinya sendiri belum terindentifikasi. Namun United belum berniat melaporkan kasus ini ke polisi.

Kasus pencurian di pusat latihan bukan kali ini terjadi. Manchester United pun bukan satu-satunya korban. Awal September tahun lalu, misalnya, pusat pelatihan Chelsea di Cobham, Surrey, 32 kilometer Baratdaya London, juga dibobol maling. 6 dompet, 9 telepon genggam serta beberapa jam tangan milik pemain dan staf raib.

“Pencurian kemungkinan terjadi di kamar ganti akademi,” kata juru bicara klub. “Dari rekaman CCTV kami tahu ada seorang penyusup. Dia juga sempat mengincar tempat lain. Tapi kami memastikan pelakunya bukan dari pihak kami dan kasus ini telah kami serahkan ke polisi.”

Pencuri ternyata juga berkeliaran di Jerman. Kali ini korbannya adalah tiga pemain Real Madrid: Cristiano Ronaldo, Karim Benzema dan Mesut Oezil. Ketiganya kehilangan sepatu di Allianz Arena, beberapa saat sebelum El Real –julukan Madrid– menantang Bayern Muenchen pada leg pertama semifinal Liga Champions, April 2012.

Ronaldo tentu saja kelimpungan karena peristiwa itu terjadi hanya beberapa menit sebelum kick off pertandingan. Si maling pun tak tanggung-tanggung, ia menggondol tiga pasang sepatu Ronaldo. Selain itu ia juga sempat mengambil kostum milik Iker Casillas. “Ini sungguh memalukan,” semprot Mourinho, pelatih Real Madrid. “Kejadian ini tak mungkin terjadi di Bernabeu (markas Real Madrid).”

Dalam pertandingan tersebut, Madrid takluk 1-2. Ronaldo yang menjadi bomber Madrid gagal mencetak gol. Mungkin karena ia sibuk memikirkan tiga pasang sepatunya yang mendadak raib. Pihak Munchen sendiri, saat itu, enggan berkomentar meski Madrid secara resmi mengadukan kasus ini ke Asosiasi Sepakbola Eropa (UEFA).

Seorang penyiar radio senior di Muenchen, Stephan Lehmann, merasa prihatin atas kasus ini. Ia berinisiatif mengirimkan Bavarian Brogues, sepatu tradisional suku Bravarian, kepada Ronaldo. “Orang-orang yang tinggal di Bravaria adalah orang-orang yang ramah,” tulis Lehmann dalam surat yang dikirimnya ke Ronaldo. “Mungkin saja kami mencuri, tapi kami tidak mengambil sepatu.”

“Karena itu saya ingin mengganti sepatu Anda yang telah hilang. Ini adalah sepasang Bavarian Brogues asli untuk Anda,” lanjut Lehmann dalam suratnya. “Tentu saja sepatu ini tidak akan membantu Anda mencetak gol, tapi bisa membantu anda terlihat lebih manis jika menggunakannya.” Lehmann juga mengirim Bravarian Borgues kepada Benzema dan Ozil sebagai pengganti sepatu mereka yang hilang.

Selain Inggris dan Jerman, pencurian di tempat latihan juga terjadi di Italia. Lima pasang sepatu digondol maling saat para pemain Inter sedang berlatih di Appiano Gentile, pusat latihan Inter Milan, pada September 2009. Di antara 5 pasang sepatu itu, salah satunya milik Marco Materazzi.

Sialnya, sepatu tersebut bukan sepatu biasa, tapi sepatu yang digunakannya saat membawa tim nasional Italia menjadi juara dunia 2006. Sepatu itu pula yang membuat bek jangkung itu sukses menjebol gawang Prancis untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Tak heran jika sepatu itu sangat ia eman-eman. Untungnya, sepekan kemudian, Polisi Italia berhasil membekuk si pencuri. Sepatu berukuran 14 itu pun kembali ke tuannya.

GUARDIAN | MARCA | FOOTBALL ITALIA | DW
dimuat di koran tempo edisi minggu 27/01/13

Baca Juga:
Sumbu Panjang KPSI-PSSI
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Rumah Batu, Riwayatmu Dulu..
Tato di Bahu Leo
Sampai Mati Menanti Gaji
Natal Kelabu Buat Mou
Malaikat Telat Turun ke Timnas
Serba Salah
Kritik Nike di Punggung Timnas
Wangsit Dari Paris
Balada The Real Garuda

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: