Skip to content

Sumbu Panjang KPSI-PSSI

January 21, 2013

Sumbu perseteruan PSSI dan KPSI masih panjang sementara tenggat penyelesaian yang dipatok FIFA kian mepet. Sanksi di depan mata

sumber foto: tribunnews

sumber foto: tribunnews

Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI)Halim Mahfudz sedang melahap sarapannya bersama Ketua Umum PSSI Djohar Arifin dan dua Anggota Komite Eksekutif PSSI, Bob Hippy dan Sihar Sitorus, di Hotel Okura, Tokyo, Jepang, 13 Desember tahun lalu, ketika telepon selularnya berdering.

“Bisakah kalian ke sini dalam waktu 15 menit? Sepp (Blatter) ingin menemui kalian,” ujar seseorang di bibir telepon. Orang itu ternyata Thierry Regenass, Direktur Olahraga dan Pengembangan Asosiasi FIFA. Sepp Blatter yang meminta mereka datang itu tak lain Presiden FIFA. Tanpa menunggu lama, Halim langsung menjawab, “Ok.”

Jarum jam di hotel Okura saat itu menunjuk angka 9.15 pagi. Mereka pun langsung meluncur ke Ritz Carlton, tempat Sepp Blater dan para anggota komite eksekutif FIFA menginap selama rapat. Tak sampai 15 menit kemudian mereka tiba di Ritz Carlton.

Rombongan PSSI itu langsung meluncur ke lantai 50. Regenass menemui mereka sebelum mengajak mereka naik lagi ke lantai 53. “FIFA menyewa lantai tersebut khusus untuk kantor mereka selama rapat digelar,” kata Sihar.

Sepp Blatter telah menunggu di salah satu ruang di lantai tersebut. Ia duduk didampingi Sekretaris Jenderal FIFA Jerome Valcke. Regenas mengambil duduk di samping Jerome. Sementara Halim dan delegasi PSSI duduk di depan mereka.

“Indonesia punya potensi besar dan masyarakatnya sangat gila bola,” kata Blatter membuka pertemuan itu “Sayang sekali ada permasalahan di sana. Karena itu saya ingin sesuatu yang kongret dari kalian. Kira-kira berapa lama masalah ini bisa kalian tangani?”

Seorang delegasi PSSI meminta waktu satu tahun. Namun Blatter menilai usul itu terlalu lama. Ia minta PSSI segera menyiapkan jalan keluar dari kekisruhan yang selama ini membelit sepak bola Indonesia. “Kami perlu sesuatu yang kongret,” kata Blatter.

15 menit kemudian ia meninggalkan ruangan. Pertemuan dilanjutkan dengan Jerome dan Regenass. Mereka menyarankan agar PSSI segera membuat langkah kongkret seperti yang diminta Blatter. Langkah-langkah PSSI itu akan mereka bawa saat rapat komite eksekutif keesokan harinya.

PSSI lalu balik ke hotel Okura. Rapat dadakan pun digelar. Hasilnya sebuah road map berisi tiga poin: penyatuan kompetisi liga super dan liga prima Indonesia, pengembalian empat Anggota Komite Eksekutif PSSI yang dipecat, serta revisi Statuta PSSI. Malam itu juga road map dikirim ke semua anggota komite eksekutif FIFA lewat surat elektronik.

Esoknya, 14 Desember 2012, sekitar jam 11 siang, sidang komite eksekutif FIFA pun digelar. Pada saat yang sama, rombongan PSSI dijamu Federasi Sepak Bola Jepang (JFA). Namun Djohar Cs baru bisa mengunyah dengan tenang ketika telepon selular Halim bergetar pukul 3 sore. Seorang anggota komite eksekutif FIFA mengirimkan selarik pesan berbunyi: “Kami sepakat memberi perpanjangan waktu untuk kalian hingga 13 Februari.”

Rombongan PSSI itu pun kembali ke tanah air dengan wajah sumringah. Indonesia bebas dari sanksi, setidaknya hingga Februari nanti. Tapi senyum mereka tak mekar terlalu lama. Sebab surat-surat berisi ajakan kembali ke PSSI yang dilayangkan PSSI ke klub-klub Liga Super, tak berbalas. Padahal penyatuan liga tercantum dalam road map yang membuat FIFA bersedia menunda sanksi.

Keadaan makin rumit ketika Jumat malam pekan lalu pelaksana tugas Kementerian Pemuda dan Olahraga, Agung Laksono, menerbitkan rekomendasi penyelenggaraan Liga Super dan Liga Prima. Dengan surat rekomendasi itu, Liga Super bisa mengantongi ijin pertandingan dari kepolisian. Mulai 5 Januari lalu, Liga Super pun bergulir.

Keputusan ini bertolak belakang dengan keputusan yang diumumkan beberapa jam sebelumnya. Pada Jumat sore, Agung mengatakan pemerintah tak akan memberikan ijin penyelenggaraan kompetisi sampai Liga Super dan Liga Prima Indonesia berdamai.

“Tapi akhirnya kami beri rekomendasi setelah mereka menyanggupi akan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan,” kata Agung. Syarat-syarat tersebut yaitu komitmen untuk menghilangkan dualisme kepengurusan dan kompetisi, kesedian mengirim pemain ke tim nasional serta menuntaskan pembayaran gaji pemain yang tertunggak.

Namun Johar tetap meradang. Sebab PSSI menginginkan kompetisi Liga Super tak digelar sebelum klub-klub mereka mengakui PSSI sebagai satu-satunya federasi sepak bola tanah air yang sah. Selama ini mereka berafiliasi ke Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). “Rekomendasi itu bahkan tanpa melibatkan PSSI.”

Djohar menilai rekomendasi yang dikeluarkan pemerintah itu sebagai langkah gegabah karena bisa merusak road map penyelesaian konflik kompetisi yang telah disetujui FIFA di Jepang, terutama poin penyatuan liga.

“FIFA menginginkan klub-klub yang ikut kompetisi berada di bawah yurisdiksi PSSI. Tapi klub-klub ISL sampai saat ini belum mengakui PSSI,” kata Djohar. “Karena itu kami ingin menunda kick off kompetisi ISL sampai mereka mengakui PSSI sebagai satu-satunya federasi agar tak melanggar ketentuan FIFA.”

Sampai Rabu pekan lalu, klub-klub yang bermain di Liga Super memang belum merapat ke PSSI. Mereka juga belum mengirimkan para pemain untuk memperkuat tim nasional yang kini sedang berlatih di Medan untuk persiapan Kualifikasi Piala Asia 2015.

Agung Laksono mengatakan rekomendasi tersebut, terutama untuk Liga Super, tak akan mencederai road map PSSI. Sebab, kata dia, sampai tahun ini FIFA tetap merestui ada dua kompetisi di Indonesia. “Kami tidak sembarangan memberikan rekomendasi,” katanya. “Tahun depan baru kompetisinya disatukan.”

Lagipula, mantan Ketua DPR ini melanjutkan, konflik kepengurusan tak semestinya membuat kompetisi terlantar. Sebab kompetisi adalah sarana paling pas untuk melakukan pembinaan pemain. “Ini kan sudah dua tahun lebih pertengkaran ini.”

Selain menerbitkan rekomendasi untuk kompetisi liga super dan liga prima, Agung juga membentuk tim rekonsiliasi untuk mendamaikan kedua kubu tersebut. Tim terdiri dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), PSSI dan KPSI.

PSSI diwakili anggota Komite Eksekutif Sihar Sitorus; Deputi Sekretaris Jenderal bidang kompetisi, Saleh Mukaddar; dan Ketua PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), Widjajanto. Adapun KPSI diwakili anggota komite eksekutif Djamal Aziz; juru bicara KPSI, Togar Manahan Nero; dan CEO PT Liga Indonesia, Joko Driyono.

Agung mematok sebelum 16 Januari semua persoalan harus sudah tuntas. Namun sampai saat ini harapan tuntas itu masih jauh panggang dari api. Pada pertemuan perdana Rabu siang pekan lalu, tim masih gagal mencapai kata sepakat soal kompetisi dan tim nasional.

KPSI meminta tim nasional dikelola pihak yang netral, seperti pemerintah. Namun PSSI menilai kewenangan pengelolaan tim nasional mutlak harus ada di tangan mereka. “Sesuai aturan FIFA,” kata Sihar Sitorus, “Pengelolaan tim nasional tidak bisa diintervensi oleh pihak manapun termasuk pemerintah.”

Deadline yang dipatok Agung juga kelewat lama. Sebab Presiden AFC, Zhang Zilong, ternyata datang lebih cepat ke Jakarta. Zilong semula dikabarkan akan datang pertengahan Januari. Namun ia sudah tiba Kamis sore pekan lalu bersama Sekretaris Jenderal AFC, Alex Soosay. Penyelesaian konflik yang masih mangkrak ini pun sampai ke telinga mereka. “Kami hanya melaporkan perkembangannya saja,” kata Johar pasrah.

FIFA akan kembali menggelar rapat komite eksekutif pada 20-21 Maret 2013 di Zurich, Swiss. Ini akan menjadi pengadilan bagi nasib sepak bola Indonesia. Zilong akan memberikan laporannya di sana. Sehingga, jika kabar yang diterima Zilong itu tak segera di update dengan kabar baik, entah cara apalagi yang bakal digunakan PSSI untuk berkelit dari sanksi. Sebab FIFA, dalam laman resmi mereka, menulis: “Ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan kepada PSSI untuk menormalkan situasi.”

DW

Baca Juga:

Catatan Si Roy 
Messi Terpilih dari Belakang Meja Kami
Rumah Batu, Riwayatmu Dulu..
Tato di Bahu Leo
Sampai Mati Menanti Gaji
Natal Kelabu Buat Mou
Malaikat Telat Turun ke Timnas
Serba Salah
Kritik Nike di Punggung Timnas
Wangsit Dari Paris
Balada The Real Garuda

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: