Skip to content

Tuhan dalam Kenangan Kami

January 3, 2013

Doktorandus Rohmen. From mBantul with jokes.

Doktorandus Rohmen. From mBantul with jokes.

“Dalam jurnalistik Tuhan itu fakta atau bukan?” pertanyaan Bambang Harymurti itu sontak membuat kelas yang berisi 10 calon reporter gaduh. Sebab kami memang tak siap dengan pertanyaan berat seperti itu.

Saya, misalnya, hanya membayangkan materi kelas hanya seputar teori-teori jurnalistik, seperti membuat lead, menulis breaking news dan in depth news atau bikin ficer.

Jadi kami tergagap dan terbelah. Ada yang menganggap Tuhan adalah fakta tapi ada juga yang berpendapat sebaliknya, meski kami benar-benar tak tahu persis alasannya.

Dalam kebingungan itu, BHM –sapaan untuk Bambang Harymurti– tiba-tiba mengambil sebuah gelas. Ia mengangkat gelas itu sambil berkata, “Kalau ini apa?”
Tentu saja, kami semua kompak menjawab, “Gelas…!”
Tapi, tunggu dulu, ternyata ada satu anak yang menjawab lain. Namanya Sorta. “Tergantung, Pak!” kata Sorta. “Kalau gelas itu diisi air terus dikasih ikan, itu bisa jadi akuarium!

Sorta. Ini bukan gelas, tapi..

Sorta. Ini bukan gelas, tapi..

Gerrrr…kelas kembali gaduh. Kami spontan tertawa. Jawaban unik yang melepaskan kami dari pertanyaan berat sebelumnya.

Hari berikutnya, di kelas yang sama, kami hanya menghabiskan waktu dengan menonton beberapa film. Beberapa yang saya ingat adalah The Insider dan Goodbye and Goodnight. Saat film kedua diputar, saya tertidur…

Kelas pendidikan untuk calon reporter itu berlangsung 3-15 Januari 2007 lalu. Tak terasa 6 tahun telah berlalu. Dalam prosesnya, satu per satu berguguran. Dari 10 orang kini hanya tersisa 4.

Menapaki dunia jurnalistik memang tak mudah –meski tak selamanya sulit. Kata Amarzan Lubis, wartawan senior, jurnalistik adalah jalan pedang. Mungkin saja ungkapan itu sedikit berlebihan.

Saya sendiri masih bertahan untuk alasan yang tak sepenuhnya saya paham. Saat SMA dulu, selain Vademekum Wartawan, buku favorit saya lainnya berjudul Seandainya Saya Wartawan Tempo. Tapi belakangan saya suka berkhayal Seandainya Saya Bukan Wartawan Tempo.

Hari ini saya mengingat teman-teman yang sudah move on. Dan percaya atau tidak, sampai kini pun mereka masih bertanya: Tuhan itu fakta atau bukan. Tuhan, yang terselip dalam kalimat tanya itu, selamanya menjadi kenangan kami.

_DW_

3 Comments leave one →
  1. January 4, 2013 12:51 am

    Asalamu, alaikum…wr.wb..

    Menarik sekali ulasanya, mas kalau boleh tahu, dulu apa Magang di Tempo?.

    mohon kunjungan balik: boediintitute.wordpress.com

  2. Alex permalink
    May 20, 2013 3:24 pm

    Ah, ternyata kau penulis berbakat. Turut bangga, pernah menugasimu mengerjakan ini-itu, dan mengedit laporan-laporanmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: