Skip to content

Keserakahan Tuhan dalam Rukun Islam

January 2, 2013

muslim_kids_prayingSeno yang masih duduk di kelas 5 sekolah dasar bertanya kepada ayahnya. “Ayah, kenapa Allah begitu serakah?”
Si ayah yang aktivis dakwah nyaris tersedak mendengar pertanyaan putra tunggalnya itu. Segelas kopi yang sudah di tangannya ditaruh lagi di meja.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Seno tadi belajar rukun Islam di sekolah,” kata seno menjelaskan. Ayahnya mendengarkan dengan baik. “Kata Pak Iksan, rukun Islam itu ada lima.”
“Memang ada lima,” ayahnya menebalkan.
“Seno tadi tanya kenapa hanya ada lima tapi pak guru tidak menjawab.”
Ayahnya mengerutkan dahi. Seno, putra tunggalnya itu, memang sering berpikir aneh. Tapi ia tak menyangka pertanyan itu meluncur dari mulut mungil yang usianya bahkan belum genap 12 tahun.
“Hmm..karena memang lima rukun itulah yang menjadi pilar agama kita, sayang.” ia berusaha menjawab sebijak mungkin.
“Tapi ayah,” kata seno, “Dari lima rukun itu, hanya zakat yang untuk manusia, selebihnya untuk Allah semua. Itu berarti Allah tidak adil dan serakah, kan?”
Ayahnya nyaris tersedak lagi. Syahadat, shalat, puasa, dan haji –empat rukun Islam lainnya– memang untuk Allah. Ia memutar otak, mencari jawaban yang paling tepat. Tapi ia tak menemukannya.
“Ayah, apakah Allah rugi jika kita tidak bersyahadat, meninggalkan salat, tidak berpuasa dan tidak berhaji?” Seno bertanya lagi.
“Tentu saja tidak, kemuliannNya tidak akan hilang setitik pun meski semua hambaNya berpaling.”
“Kalau begitu kenapa empat rukun Islam itu semuanya untuk Allah?”
Ayahnya merasakan kepalanya berdenyut-denyut. “Hmm….” gumamnya setelah sekian lama terdiam. “Karena rukun Islam itu memang bukan dari Allah.”
“Bukan dari Allah?”
“Hmm..iya, tapi dirumuskan oleh ulama.”
Tiba-tiba kedua mata Seno berbinar-binar. “Horeee…,” soraknya kegirangan. “Kalau begitu bukan Allah yang serakah ya, Yah.”
Ayahnya cepat mengangguk. Ia terus mengangguk sampai Seno melesat lalu hilang di dapur. Ia masih belum memahami apakah putranya itu yang kelewat polos atau ulama itu yang salah merumuskan Islam. Anggukannya perlahan berubah menjadi gelengan kepala. “Ah, ada-ada saja,” gumamnya sambil menyeruput kopi..

_DW_
foto
Baca Juga:
Ngangkang
Embun dari Tibet
Tuhan dan Secangkir Kopi
Selamat Natal MUI
Tuhan Ada di Tengah
Kiamat Sudah Lewat
Kisah Sesat Para Penepuk Dada
Karena Tuhan Tak Membunuh
Antiklimaks Fatwa Zakat
Jalan Sunyi Para Santri

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: